Selamat Berbahagia.
Atas peresmian pernikahan : dr. Darwin
Setiawan – putra tunggal dari Tn/Ny.
Rudi Setiawan – dan Elice Chandra, pada hari Kamis 18 Oktober 2007.
Ucapan
selamat berukuran setengah halaman surat kabar itu dilengkapi dengan foto
sepasang pengantin, tampan dan cantik, tampak serasi.
Suatu
sore di pertengahan bulan Mei 1996.
“Kamu sudah pasti akan ke Jakarta?”
“Iya.”
“Kenapa harus jauh-jauh ke Jakarta? Di
sini juga banyak universitas.”
“Tapi itu keinginan orang tuaku.”
“Lalu
bagaimana dengan aku? Dengan hubungan kita?”
“Kamu ikut saja ke Jakarta. Kita bisa
kuliah di sana sama-sama.”
“Kamu kan tahu keadaan keluargaku.
Mana mungkin orang tuaku sanggup membiayai aku ke Jakarta. Bisa kuliah di sini
saja sudah syukur. Kalau aku ke Jakarta, bisa jadi gelandangan di sana.”
Mereka tertawa bersama, tapi tawa itu
terdengar sumbang.
Kemudian hening. Tidak ada yang
berkeinginan untuk melanjutkan pembicaraan yang tidak mengenakkan hati itu.
Mereka tenggelam dalam lamunan masing-masing.
“Jadi, bagaimana dengan kita Wan..?”
Elice menghela napas panjang, mengumpulkan segenap kekuatannya untuk
mengucapkan kata-kata yang baginya sangat menakutkan.
“Putus..?” suaranya bergetar, ada
tangis yang berusaha disembunyikan.
Awan meraih tangan Elice,
menggenggamnya erat, menggeleng kuat-kuat.
“Tidak...kita tidak akan putus.”
“Kamu yakin dengan kata-katamu?”
‘Ya, aku yakin, yakin sekali. Walaupun
nanti kita berjauhan, kita tetap bisa berhubungan,” ucap Awan mantap.
“Bagaimana bisa kamu begitu yakin?
Berpikirlah rasional Wan, kita akan berpisah 5 tahun, belum lagi kalau nanti
kamu harus tugas praktek ke tempat lain. Paling tidak 7 tahun lagi kita baru
bisa ketemu. Waktu selama itu, siapa yang berani menjamin kalau perasaan kita
akan tetap dan tidak berubah? Apalagi di Jakarta pasti banyak gadis yang jauh
lebih cantik dan menarik, mungkin kamu akan jatuh cinta pada mereka dan
melupakan aku. Aku tidak mau menunggu sesuatu yang tidak pasti.”
“Lis, begitu burukkah sangkamu padaku?
Apa kamu pikir aku akan begitu mudahnya jatuh cinta pada setiap gadis yang
kujumpai? Lalu apa artinya hubungan yang sudah kita jalani selama 3 tahun ini?
Apakah itu tidak cukup membuatmu percaya padaku?” tanya Awan sedih.
“Tapi, itulah yang kudengar sering
terjadi. Hubungan jarak jauh tidak akan berhasil. Kakakku juga pernah
mengalaminya. Pacarnya meninggalkannya untuk kuliah di Bandung. Awalnya mereka
memang masih saling berhubungan. Tapi setelah beberapa bulan, hubungan mereka
mulai renggang. Hingga akhirnya pacarnya tidak pernah mengirim kabar lagi.
Tahu-tahu, ternyata laki-laki itu sudah punya kekasih baru dan akan segera
menikah. Bukankah itu lebih menyakitkan? Lebih baik kita putus sekarang, agar
nantinya tidak ada yang merasa sakit dan dibohongi.”
Elice
menunduk. Buliran air mata jatuh mengenai roknya. Awan mengangkat wajah Elice
dengan sentuhan lembut di dagunya, menghapus air matanya, dan menatap
dalam-dalam wajah gadis yang selalu membuat hatinya bergetar selama 3 tahun
ini. Wajah yang biasanya selalu tersenyum ceria, sekarang tampak pucat dan
lesu. Rasanya tak mungkin dia bisa tega menyakiti hati gadis yang lembut dan
sabar ini.
“Lis, dengarkan aku,” ucapnya pelan
sambil terus menatap mata gadis di depannya.
“Kamu tidak boleh menyamaratakan sifat
semua orang. Tidak semua laki-laki seperti pacar kakakmu. Kita mungkin akan
berpisah selama beberapa tahun. Tapi percayalah, tidak akan ada yang berubah.
Paling-paling kita akan tambah tua,” Awan mencoba bercanda. Berhasil, sudut
bibir Elice mengembang, membentuk senyum kecil.
“Jakarta-Medan tidak terlalu jauh. Aku
akan pulang tiap tahun, dan kita masih bisa ketemu. Aku juga akan rajin menulis
surat,” janji Awan.
Sepasang merpati terbang rendah dan
mendarat di atas tanah di halaman depan rumah Elice.
“Lihatlah sepasang merpati itu, mereka
selalu saling setia. Walaupun mereka dipisah, mereka pasti bisa menemukan jalan
untuk kembali pada pasangannya. Aku berharap, kita bisa seperti mereka,” tutur
Awan lembut. Elice terharu mendengar ucapan Awan, perasaannya mengatakan kalau
Awan memang bersungguh-sungguh dan bisa dipercaya.
Awan
serius dengan kata-katanya, dan membuktikan janjinya pada Elice. Dia selalu
rajin menulis surat untuk Elice, dan pulang tiap libur semester dan
menghabiskan waktu dengan gadis itu.
Bahkan, ketika handphone masih
merupakan barang mewah bagi Elice, dia membelikan sebuah untuknya. Katanya,
agar bila merasa rindu dia bisa langsung menelepon dan mendengar suara Elice,
tanpa harus menunggu sampai pulang ke Medan. Juga bila ingin bercerita dia bisa
langsung sms tanpa perlu menulis surat dan menunggu berminggu-minggu untuk
mendapat balasan.
Sahabatnya Rina selalu berkata betapa
beruntungnya Elice mendapatkan kekasih sebaik dan seromantis Awan.
Suatu sore yang lain di bulan
September 2003, di beranda yang sama.
“Berapa lama kamu di sana?”
“Kira-kira 3 tahun.”
“Selama itu?”
“Itu kewajibanku, supaya kelak aku
bisa memperoleh izin praktek.”
“Jadi selama 3 tahun nanti aku sama
sekali tidak bisa menghubungimu? Tidak bisa tahu kabarmu?” Ada nada khawatir dalam
suaranya.
“Desa Nanga Taman itu tempatnya
terpencil. Kudengar listrik belum menjangkau daerah sana, jadi mustahil ada
jaringan telepon.”
Elice tercenung mendengar ucapan Awan.
3 tahun harus dilalui sendiri tanpa bisa saling menghubungi, apakah dia sanggup
menahan kerinduan yang akan menderanya nanti?
“Nggak usah sedih gitu dong. Aku bisa ke kota
seminggu atau dua minggu sekali. Nanti aku akan menghubungimu dari sana,” hibur
Awan memupus kesedihan Elice.
Elice masih diam. Dia merenungkan
kata-kata Awan. Tujuh tahun sudah mereka membina hubungan jarak jauh ini, tanpa
ada masalah yang berarti. Selama ini Awan bisa teguh memegang janji setianya.
Hanya tambah 3 tahun masa PTT, sepertinya bukan waktu yang terlalu panjang.
Toh, Awan masih bisa menghubunginya meskipun tidak sesering dulu.
“Kalau kamu terlalu sering
meneleponku, nanti uangmu habis hanya untuk beli pulsa,” Elice mencoba
berkelakar. Awan hanya menanggapi dengan tawa.
“Lis, aku janji, setelah 3 tahun
nanti, aku akan pulang ke sini, kembali padamu. Kita akan menikah, punya
keluarga, punya anak-anak yang manis dan lucu.”
Kata-kata yang indah, melambungkan
angan Elice setinggi langit.
Elice tersenyum, mengangguk. Dia yakin
kali ini Awan juga tidak akan ingkar janji.
***
Elice menatap nanar foto pengantin
yang memenuhi setengah halaman surat kabar. Perlahan tangannya mengelus foto
pengantin laki-lakinya. Pandangannya mengabur oleh air mata. Pengantin
laki-laki bernama dr. Darwin Setiawan itu adalah Awan-nya. Pengantin
perempuannya bernama Elice, tapi foto yang terpampang di sana bukan foto
dirinya, bukan Elice Tandriyanti. Mengapa bisa begitu? Mengapa Awan tega
mengkhianatinya setelah penantian 10 tahun yang begitu melelahkan? Dan mengapa
hingga kini, setelah setahun berlalu, dia masih belum bisa menerima kenyataan
pahit ini?
Setahun yang lalu sms terakhir Awan
membuat dunianya runtuh, seolah tak ada lagi tempatnya berpijak di bumi ini.
Awan meminta maaf, karena tidak bisa memenuhi janjinya. Awan masih
mencintainya, tapi mereka harus putus karena sebuah balas budi.
Suatu waktu dalam perjalanan pulang ke
desa dari Sanggau, Awan mengalami kecelakaan dan terluka parah. Beruntung
nyawanya masih bisa tertolong, dan yang menolongnya adalah seorang gadis
bernama Elice Chandra. Dia yang telah merawatnya, bahkan mendonorkan darahnya
untuk Awan. Karena itulah Awan merasa berhutang nyawa padanya.
Seperti cerita sinetron, tapi memang
begitulah adanya. Kalau selanjutnya Awan memutuskan untuk menetap di Pontianak
setelah masa baktinya di desa selesai, apa daya Elice untuk mencegahnya? Apakah
mungkin dengan menyusul Awan dan memohon supaya Awan kembali padanya? Apakah
pantas dia melakukan semua itu?
Jika 11 tahun yang lalu, dia
bersikeras mencegah Awan kuliah di Jakarta, mungkinkah semua mimpi buruk ini
bisa dihindari? Tapi dengan kekuatan apa dia bisa mencegah kepergian Awan?
Seribu pertanyaan menggelayut di
benaknya, tanpa ada jawaban.
Ternyata nasibnya tidak berbeda jauh
dengan kakaknya, Anita. Malah lebih menyedihkan.
Sepasang merpati terbang rendah dan
mendarat di tanah di halaman depan rumah Elice. Ternyata kita tidak bisa
menjadi seperti sepasang merpati itu Awan. Ternyata kamu tidak cukup setia
seperti merpati itu. Elice terus berkata-kata sendiri, menyesali Awan,
menyesali nasibnya.
*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar