Jumat, 08 April 2016

Di Ujung Penantian

Selamat Berbahagia.
Atas peresmian pernikahan : dr. Darwin Setiawan –  putra tunggal dari Tn/Ny. Rudi Setiawan – dan Elice Chandra, pada hari Kamis 18 Oktober 2007.
Ucapan selamat berukuran setengah halaman surat kabar itu dilengkapi dengan foto sepasang pengantin, tampan dan cantik, tampak serasi.

Suatu sore di pertengahan bulan Mei 1996.
“Kamu sudah pasti akan ke Jakarta?”
“Iya.”
“Kenapa harus jauh-jauh ke Jakarta? Di sini juga banyak universitas.”
“Tapi itu keinginan orang tuaku.”
“Lalu bagaimana dengan aku? Dengan hubungan kita?”
“Kamu ikut saja ke Jakarta. Kita bisa kuliah di sana sama-sama.”
“Kamu kan tahu keadaan keluargaku. Mana mungkin orang tuaku sanggup membiayai aku ke Jakarta. Bisa kuliah di sini saja sudah syukur. Kalau aku ke Jakarta, bisa jadi gelandangan di sana.”
Mereka tertawa bersama, tapi tawa itu terdengar sumbang.
Kemudian hening. Tidak ada yang berkeinginan untuk melanjutkan pembicaraan yang tidak mengenakkan hati itu. Mereka tenggelam dalam lamunan masing-masing.
“Jadi, bagaimana dengan kita Wan..?” Elice menghela napas panjang, mengumpulkan segenap kekuatannya untuk mengucapkan kata-kata yang baginya sangat menakutkan.
“Putus..?” suaranya bergetar, ada tangis yang berusaha disembunyikan.
Awan meraih tangan Elice, menggenggamnya erat, menggeleng kuat-kuat.
“Tidak...kita tidak akan putus.”
“Kamu yakin dengan kata-katamu?”
‘Ya, aku yakin, yakin sekali. Walaupun nanti kita berjauhan, kita tetap bisa berhubungan,” ucap Awan mantap.
“Bagaimana bisa kamu begitu yakin? Berpikirlah rasional Wan, kita akan berpisah 5 tahun, belum lagi kalau nanti kamu harus tugas praktek ke tempat lain. Paling tidak 7 tahun lagi kita baru bisa ketemu. Waktu selama itu, siapa yang berani menjamin kalau perasaan kita akan tetap dan tidak berubah? Apalagi di Jakarta pasti banyak gadis yang jauh lebih cantik dan menarik, mungkin kamu akan jatuh cinta pada mereka dan melupakan aku. Aku tidak mau menunggu sesuatu yang tidak pasti.”
“Lis, begitu burukkah sangkamu padaku? Apa kamu pikir aku akan begitu mudahnya jatuh cinta pada setiap gadis yang kujumpai? Lalu apa artinya hubungan yang sudah kita jalani selama 3 tahun ini? Apakah itu tidak cukup membuatmu percaya padaku?” tanya Awan sedih.
“Tapi, itulah yang kudengar sering terjadi. Hubungan jarak jauh tidak akan berhasil. Kakakku juga pernah mengalaminya. Pacarnya meninggalkannya untuk kuliah di Bandung. Awalnya mereka memang masih saling berhubungan. Tapi setelah beberapa bulan, hubungan mereka mulai renggang. Hingga akhirnya pacarnya tidak pernah mengirim kabar lagi. Tahu-tahu, ternyata laki-laki itu sudah punya kekasih baru dan akan segera menikah. Bukankah itu lebih menyakitkan? Lebih baik kita putus sekarang, agar nantinya tidak ada yang merasa sakit dan dibohongi.”
Elice menunduk. Buliran air mata jatuh mengenai roknya. Awan mengangkat wajah Elice dengan sentuhan lembut di dagunya, menghapus air matanya, dan menatap dalam-dalam wajah gadis yang selalu membuat hatinya bergetar selama 3 tahun ini. Wajah yang biasanya selalu tersenyum ceria, sekarang tampak pucat dan lesu. Rasanya tak mungkin dia bisa tega menyakiti hati gadis yang lembut dan sabar ini.
“Lis, dengarkan aku,” ucapnya pelan sambil terus menatap mata gadis di depannya.
“Kamu tidak boleh menyamaratakan sifat semua orang. Tidak semua laki-laki seperti pacar kakakmu. Kita mungkin akan berpisah selama beberapa tahun. Tapi percayalah, tidak akan ada yang berubah. Paling-paling kita akan tambah tua,” Awan mencoba bercanda. Berhasil, sudut bibir Elice mengembang, membentuk senyum kecil.
“Jakarta-Medan tidak terlalu jauh. Aku akan pulang tiap tahun, dan kita masih bisa ketemu. Aku juga akan rajin menulis surat,” janji Awan.
Sepasang merpati terbang rendah dan mendarat di atas tanah di halaman depan rumah Elice.
“Lihatlah sepasang merpati itu, mereka selalu saling setia. Walaupun mereka dipisah, mereka pasti bisa menemukan jalan untuk kembali pada pasangannya. Aku berharap, kita bisa seperti mereka,” tutur Awan lembut. Elice terharu mendengar ucapan Awan, perasaannya mengatakan kalau Awan memang bersungguh-sungguh dan bisa dipercaya.


Awan serius dengan kata-katanya, dan membuktikan janjinya pada Elice. Dia selalu rajin menulis surat untuk Elice, dan pulang tiap libur semester dan menghabiskan waktu dengan gadis itu.
Bahkan, ketika handphone masih merupakan barang mewah bagi Elice, dia membelikan sebuah untuknya. Katanya, agar bila merasa rindu dia bisa langsung menelepon dan mendengar suara Elice, tanpa harus menunggu sampai pulang ke Medan. Juga bila ingin bercerita dia bisa langsung sms tanpa perlu menulis surat dan menunggu berminggu-minggu untuk mendapat balasan.
Sahabatnya Rina selalu berkata betapa beruntungnya Elice mendapatkan kekasih sebaik dan seromantis Awan.

Suatu sore yang lain di bulan September 2003, di beranda yang sama.
“Berapa lama kamu di sana?”
“Kira-kira 3 tahun.”
“Selama itu?”
“Itu kewajibanku, supaya kelak aku bisa memperoleh izin praktek.”
“Jadi selama 3 tahun nanti aku sama sekali tidak bisa menghubungimu? Tidak bisa tahu kabarmu?” Ada nada khawatir dalam suaranya.
“Desa Nanga Taman itu tempatnya terpencil. Kudengar listrik belum menjangkau daerah sana, jadi mustahil ada jaringan telepon.”
Elice tercenung mendengar ucapan Awan. 3 tahun harus dilalui sendiri tanpa bisa saling menghubungi, apakah dia sanggup menahan kerinduan yang akan menderanya nanti?
 “Nggak usah sedih gitu dong. Aku bisa ke kota seminggu atau dua minggu sekali. Nanti aku akan menghubungimu dari sana,” hibur Awan memupus kesedihan Elice.
Elice masih diam. Dia merenungkan kata-kata Awan. Tujuh tahun sudah mereka membina hubungan jarak jauh ini, tanpa ada masalah yang berarti. Selama ini Awan bisa teguh memegang janji setianya. Hanya tambah 3 tahun masa PTT, sepertinya bukan waktu yang terlalu panjang. Toh, Awan masih bisa menghubunginya meskipun tidak sesering dulu.
“Kalau kamu terlalu sering meneleponku, nanti uangmu habis hanya untuk beli pulsa,” Elice mencoba berkelakar. Awan hanya menanggapi dengan tawa.
“Lis, aku janji, setelah 3 tahun nanti, aku akan pulang ke sini, kembali padamu. Kita akan menikah, punya keluarga, punya anak-anak yang manis dan lucu.”
Kata-kata yang indah, melambungkan angan Elice setinggi langit.
Elice tersenyum, mengangguk. Dia yakin kali ini Awan juga tidak akan ingkar janji.
***

Elice menatap nanar foto pengantin yang memenuhi setengah halaman surat kabar. Perlahan tangannya mengelus foto pengantin laki-lakinya. Pandangannya mengabur oleh air mata. Pengantin laki-laki bernama dr. Darwin Setiawan itu adalah Awan-nya. Pengantin perempuannya bernama Elice, tapi foto yang terpampang di sana bukan foto dirinya, bukan Elice Tandriyanti. Mengapa bisa begitu? Mengapa Awan tega mengkhianatinya setelah penantian 10 tahun yang begitu melelahkan? Dan mengapa hingga kini, setelah setahun berlalu, dia masih belum bisa menerima kenyataan pahit ini?

Setahun yang lalu sms terakhir Awan membuat dunianya runtuh, seolah tak ada lagi tempatnya berpijak di bumi ini. Awan meminta maaf, karena tidak bisa memenuhi janjinya. Awan masih mencintainya, tapi mereka harus putus karena sebuah balas budi.
Suatu waktu dalam perjalanan pulang ke desa dari Sanggau, Awan mengalami kecelakaan dan terluka parah. Beruntung nyawanya masih bisa tertolong, dan yang menolongnya adalah seorang gadis bernama Elice Chandra. Dia yang telah merawatnya, bahkan mendonorkan darahnya untuk Awan. Karena itulah Awan merasa berhutang nyawa padanya.
Seperti cerita sinetron, tapi memang begitulah adanya. Kalau selanjutnya Awan memutuskan untuk menetap di Pontianak setelah masa baktinya di desa selesai, apa daya Elice untuk mencegahnya? Apakah mungkin dengan menyusul Awan dan memohon supaya Awan kembali padanya? Apakah pantas dia melakukan semua itu?
Jika 11 tahun yang lalu, dia bersikeras mencegah Awan kuliah di Jakarta, mungkinkah semua mimpi buruk ini bisa dihindari? Tapi dengan kekuatan apa dia bisa mencegah kepergian Awan?
Seribu pertanyaan menggelayut di benaknya, tanpa ada jawaban.
Ternyata nasibnya tidak berbeda jauh dengan kakaknya, Anita. Malah lebih menyedihkan.
Sepasang merpati terbang rendah dan mendarat di tanah di halaman depan rumah Elice. Ternyata kita tidak bisa menjadi seperti sepasang merpati itu Awan. Ternyata kamu tidak cukup setia seperti merpati itu. Elice terus berkata-kata sendiri, menyesali Awan, menyesali nasibnya.
*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar