“Dasar
orang edan!”
“Ada
apa Nda? Baru datang sudah marah-marah.”
“Orang
lain berjuang susah payah untuk bertahan hidup, dia malah mau mati!” Amanda
meneruskan omelannya tanpa menghiraukan pertanyaan Nina.
“Siapa
yang mau mati?”
“Itu,
pasien kamar 305. Sudah dua hari ini dia tidak mau makan. Tadi, dia mencoba
mencabut selang infusnya. Untung aku sempat mencegahnya.”
“Sekarang
keadaannya gimana?”
“Sudah
tidur. Tadi kusuntik obat penenang.”
“Ya
sudah. Jangan emosi lagi. Masih banyak pasien lain yang harus dijenguk. Aku
pulang dulu ya.”
Nina
meninggalkan Amanda sendirian di ruang perawat. Tugasnya untuk hari ini sudah
selesai. Amanda dan Rasti akan menggantikannya untuk tugas jaga malam. Tapi
Rasti masih belum kelihatan. Mungkin agak terlambat.
Nina
membuka perlahan pintu kamar 305. Dia penasaran dengan pasien yang disebutkan
Amanda tadi. Seorang laki-laki muda sebaya dengannya. Nina mendekat,
memperhatikan wajah yang tertidur pulas. Pengaruh obat yang diberikan Amanda
sepertinya akan bertahan sampai besok pagi. Wajahnya bersih, cukup tampan. Tapi
mengapa dia begitu putus asa sampai ingin mengakhiri hidupnya?
“Manda,
boleh kulihat data pasien yang di kamar 305?”
“Pasien
sinting itu? Kenapa, kamu penasaran dengan dia?”
Amanda menyodorkan sebuah map
kuning kepada Nina. Nina hanya tersenyum tidak menjawab.
Namanya
Michael. Umur 25 tahun. Masuk ke sini seminggu yang lalu karena demam tinggi.
Diagnosa sementara gejala tifus. Lembar kedua adalah hasil pemeriksaan darah
dari laboratorium.
Mata Nina terbelalak membaca hasil yang tertulis di atas
kertas. Dia mendekatkan wajahnya ke kertas, untuk meyakinkan penglihatannya.
Positif HIV!
***
“Suster,
jangan dibuka tirainya!”
“Hai,
pagi. Sudah bangun ya? Bagaimana tidurmu semalam? Nyenyak?” sapa Nina ramah
seolah tidak mendengar apa yang baru dikatakan Michael.
“Tolong, jangan dibuka tirainya!” ulang Michael lagi,
agak keras.
“Tirai
ini harus dibuka supaya sinar matahari bisa masuk ke dalam. Lagipula matahari
pagi itu menyehatkan, jadi kamu bisa lebih cepat sembuh,” jawab Nina tenang.
“Percuma
saja, aku tidak akan pernah sembuh. Aku akan segera mati!”
“Setiap
orang akan mati. Hanya masalah waktu, siapa yang lebih cepat, siapa yang
belakangan. Apa kamu pikir kamu bisa mendahului takdir dengan mencoba bunuh
diri dengan tidak makan dan mencabut selang infusmu? Itu mati konyol namanya!”
tukas Nina tajam.
“Tapi
kamu tidak tahu apa yang terjadi padaku,” kata Michael, meratap. Dia menutup
wajahnya dengan kedua tangan, menangis.
“Saya
tahu, sangat tahu. Saya juga pernah bertemu pasien lain yang keadaannya jauh
lebih parah dari kamu, tapi dia lebih tegar, tidak sepertimu.”
Nina menatap
Michael lekat. Tidak ada tampang kriminal atau pecandu narkoba. Tetapi mengapa
bisa terkena penyakit yang masih dianggap aib oleh kebanyakan orang?
“Kenapa
memandangiku seperti itu?”
“Heran
saja. Ganteng-ganteng kok cengeng,” jawab Nina ringan.
Mau tak mau Michael
tersenyum mendengar jawaban Nina.
Sebuah awal yang bagus. Semoga keputusannya
bertukar tempat dengan Amanda untuk menjaga pasien ini tidak salah.
Kata-katanya tadi mungkin terlalu keras, tapi menghadapi pasien yang putus asa
seperti ini memang harus begitu. Itu yang pernah dia pelajari dari kakaknya
yang menjadi psikolog.
“Jangan
lupa habiskan sarapannya,” pesan Nina sebelum keluar dari kamar.
“Pagi,
Suster Nina!”
“Pagi
Mario! Wah, kamu sudah rapi ya? Sudah sarapan?”
“Sudah.
Tadi Suster Lidya yang membantu. Suster, lihat ini, aku punya krayon dan buku
gambar baru. Kemarin Ibu membelikannya untukku. Suster, temani aku menggambar
ya?” pinta Mario manja.
“Boleh,
tapi jangan sekarang ya. Suster Nina mau mengajak kamu jalan-jalan dulu. Mau?”
“Mau.
Asyiiik!” Mario bertepuk tangan riang. Nina menggendongnya dan mendudukkannya di
atas kursi roda.
“Kita
mau ke mana ?”
“Hari
ini Suster mau mengajak kamu kenalan sama teman baru.”
“Cantik
nggak?”
“Dia
itu laki-laki sayang.” Nina tertawa.
“Pacar
Suster ya?” tanya Mario polos.
“Hush!
Kecil-kecil sudah tahu pacaran. Bukan. Dia itu teman Suster.”
Mario
terus bercerita selama Nina mendorong kursi rodanya.
“Halo
Michael. Bagaimana, sudah merasa baikan?” Nina tersenyum senang saat melirik ke
meja. Michael sudah menghabiskan sarapannya.
“Siapa
dia?” Michael memandang Mario heran.
“Ini
Mario. Saya ajak ke sini supaya kamu punya teman ngobrol. Daripada kamu bosan
sendirian. Ayo Mario, kenalan dulu, ini namanya Om Michael.” Nina mendorong
kursi roda Mario mendekati ranjang Michael.
Keduanya
cepat akrab. Nina tersenyum senang, Michael sepertinya menyukai anak kecil.
“Saya
masih harus memeriksa pasien lain. Kalian ngobrol saja dulu ya. Mario, jangan
kecapekan ya. Kalau ada apa-apa, panggil Suster. “
***
“Sus,
Mario ke mana? Kok nggak diajak ke sini?”
“Hari
ini dia harus menjalani kemoterapi. Jadi tidak bisa dibawa keluar.”
“Sebenarnya
dia sakit apa?”
“Kanker
tulang.”
“Kanker?
Bagaimana mungkin?” Michael terkejut. Bocah kecil yang periang itu, siapa
menduga dia sedang menderita penyakit mengerikan yang bisa merenggut nyawanya
setiap saat.
Mario
masuk rumah sakit Dharma Kasih enam bulan yang lalu dalam kondisi kritis,
karena kanker tulang yang menggerogoti tubuhnya sudah mencapai stadium tiga.
Kaki kirinya harus diamputasi sebatas lutut untuk menyelamatkan jiwanya. Sebuah
pilihan yang sangat berat untuk anak kecil yang baru berusia 8 tahun. Saat
terbangun setelah operasi dan mengetahui kakinya yang telah hilang, Mario
sempat menangis berhari-hari. Dia baru tenang setelah orang tuanya berjanji
akan membelikan kaki palsu untuknya agar dia bisa berjalan lagi seperti dulu.
Sebuah janji yang sulit dipenuhi. Orang tuanya hanya guru SD di sebuah sekolah
negeri yang penghasilannya tidak seberapa. Bahkan semua biaya pengobatan Mario
ditanggung oleh Yayasan Kanker Indonesia.
Dengan
diamputasinya kaki kiri Mario, tidak berarti penyakitnya langsung sembuh. Dia
harus rutin menjalani kemoterapi sebulan sekali untuk membunuh sel-sel kanker
yang sudah menyebar di hampir seluruh bagian tubuhnya. Belum lagi belasan butir
obat yang harus masuk ke lambungnya setiap hari.
Mario
adalah pasien istimewa di rumah sakit ini. Dia menjadi kesayangan semua dokter
dan perawat. Semangat hidupnya sangat tinggi. Walaupun tidak bisa melanjutkan
sekolah karena penyakitnya, tapi dia tetap rajin belajar. Setiap sore jika
orang tuanya datang, dia selalu minta diajarkan tentang pelajaran yang baru
diberikan di sekolah hari itu. Dia selalu bilang ingin menjadi pemain bola
terkenal. Selain cerdas, dia juga periang. Dia paling suka jika diajak
berkeliling menjenguk pasien-pasien lain.
“Biasanya
setiap pasien yang sudah mengenalnya, penyakitnya akan cepat sembuh. Contohnya
kamu,” Nina tertawa kecil memandang Michael yang hanya tersenyum.
“Sekarang
kamu mengerti kan kalau nasibmu masih lebih beruntung?”
“Siapa
bilang nasibku lebih beruntung?” tiba-tiba Michael menjadi sinis. Dia
memalingkan wajahnya menghindari tatapan Nina.
“Kamu
tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku. Mario punya orang-orang di
sekelilingnya yang menyayangi dia, sedangkan aku..?”
“Kalau
kamu mau, kamu boleh cerita. Saya akan mendengarkan.”
Michael
mulai menuturkan kisah hidupnya. Dibesarkan dalam keluarga broken home,
Michael tidak mengenal ibu kandungnya, yang meninggalkan dia dan ayahnya saat
usianya tiga tahun demi laki-laki lain. Ayahnya menikah lagi dengan perempuan
lain yang kini menjadi ibu tirinya. Walaupun berlimpah harta, tapi Michael
tidak pernah merasakan kasih sayang ayahnya yang selalu sibuk dengan bisnisnya,
apalagi ibu tirinya yang tidak punya pekerjaan lain selain menghamburkan uang
ayahnya. Setahun yang lalu, Michael mengalami kecelakaan mobil, lukanya cukup
parah dan membutuhkan transfusi darah. Itulah awal petaka yang menimpanya
sekarang.
“Kamu
tahu? Selama aku di sini, tidak ada seorang pun yang menjengukku. Bahkan
pacarku, Via, menghilang begitu saja setelah mengetahui aku positif terkena AIDS,” Michael mengakhiri ceritanya
dengan sedih.
“Kamu
percaya kan kalau Tuhan itu Maha Adil? Buktinya, kamu dirawat di sini, dan bisa
bertemu Mario. Setidaknya kamu bisa belajar dari dia, bagaimana menghargai
hidup yang singkat ini dan tetap bersemangat, karena itulah hal yang paling
penting agar kita bisa tetap kuat dan bertahan.”
Michael
terdiam merenungkan kata-kata Nina.
“Aku
minta maaf ya, karena sudah berpikiran buruk tentangmu,” ujar Nina setelah
beberapa saat. Michael menatap Nina bingung.
“Kupikir
kamu seorang pecandu,” lanjut Nina hati-hati, takut menyinggung perasaan
Michael.
Di
luar dugaan, Michael tertawa.
“Walaupun
hidupku berantakan, tapi aku tak pernah berniat mencoba barang haram itu.”
***
“Suster
Nina.” Nina menoleh, mencari sumber suara yang memanggil namanya.
“Michael?”
serunya senang. Laki-laki itu keluar dari rumah sakit seminggu yang lalu. Dia
kelihatan sehat, wajahnya segar, tidak seperti ketika Nina melihatnya pertama
kali.
“Apa
kabar? Tumben kemari. Nggak sakit lagi kan?”
“Aku
sudah lebih sehat, tapi masih harus terus minum obat. Terima kasih karena kamu
dan Mario sudah menyadarkanku. Maaf, boleh aku memanggilmu Nina saja?” Nina
tersenyum mengangguk..
“Aku
mau menjenguk Mario. Aku punya kabar gembira untuknya.”
“Apa
itu?”
“Ada
sebuah yayasan yang mengadakan program 1000 kaki palsu untuk orang-orang cacat
yang tidak mampu. Aku sudah mendaftarkan nama Mario dan sudah disetujui.
Mudah-mudahan dalam dua bulan ini kaki palsu itu sudah siap dan bisa
digunakan.”
“Benarkah?
Ini kabar yang sangat bagus. Ayo, kita harus memberitahukannya pada Mario. Dia
pasti senang sekali.” Nina menarik tangan Michael tak sabar menuju kamar Mario.
***
Hari
ini semua orang di rumah sakit Dharma Kasih berduka. Bahkan langit juga ikut
menangis. Hujan lebat seolah ditumpahkan dari langit mengguyur bumi sejak pagi.
Mario, bocah kecil periang itu telah kembali pada Penciptanya. Tubuh kecilnya
tidak mampu menahan efek samping dari kemoterapi yang harus dijalaninya berulang
kali. Padahal itu adalah terapi yang terakhir, dan menurut dokter, kondisinya sudah
membaik. Tetapi tidak ada yang bisa melawan kuasa takdir. Justru setelah terapi
yang terakhir itu, keadaan Mario tiba-tiba memburuk dan koma selama dua hari.
Sepertinya Tuhan masih menyayangi Mario, karena Dia tidak membiarkan Mario
meninggal dalam kesakitan. Mario masih bisa tersenyum pada semua orang di
dekatnya, orang tuanya, Nina, juga Michael, sebelum menutup matanya untuk
selamanya.
Michael
menangis dalam pelukan Nina. Kali ini dia tidak peduli bila ada yang
menyebutnya cengeng. Dia benar-benar sedih dan terpukul dengan kepergian Mario.
“Padahal
seminggu lagi kaki palsu untuk Mario akan sampai. Dan aku juga sudah membawa
hadiah ini untuknya.”
Michael menunjukkan sepasang sepatu olahraga dan kaos
merah bergaris hitam, ada tulisan Kaka, 22, di punggungnya – pemain bola
dunia idola Mario.
“Takdir
sudah ditentukan, kita tidak bisa melawannya,” Nina mencoba menghibur, tapi dia
juga merasakan kepedihan yang sama besarnya dengan Michael.
*****