Minggu, 17 April 2016

Saat Mario Pergi

“Dasar orang edan!”
“Ada apa Nda? Baru datang sudah marah-marah.”
“Orang lain berjuang susah payah untuk bertahan hidup, dia malah mau mati!” Amanda meneruskan omelannya tanpa menghiraukan pertanyaan Nina.
“Siapa yang mau mati?”
“Itu, pasien kamar 305. Sudah dua hari ini dia tidak mau makan. Tadi, dia mencoba mencabut selang infusnya. Untung aku sempat mencegahnya.”
“Sekarang keadaannya gimana?”
“Sudah tidur. Tadi kusuntik obat penenang.”
“Ya sudah. Jangan emosi lagi. Masih banyak pasien lain yang harus dijenguk. Aku pulang dulu ya.”
Nina meninggalkan Amanda sendirian di ruang perawat. Tugasnya untuk hari ini sudah selesai. Amanda dan Rasti akan menggantikannya untuk tugas jaga malam. Tapi Rasti masih belum kelihatan. Mungkin agak terlambat.

Nina membuka perlahan pintu kamar 305. Dia penasaran dengan pasien yang disebutkan Amanda tadi. Seorang laki-laki muda sebaya dengannya. Nina mendekat, memperhatikan wajah yang tertidur pulas. Pengaruh obat yang diberikan Amanda sepertinya akan bertahan sampai besok pagi. Wajahnya bersih, cukup tampan. Tapi mengapa dia begitu putus asa sampai ingin mengakhiri hidupnya?


“Manda, boleh kulihat data pasien yang di kamar 305?”
“Pasien sinting itu? Kenapa, kamu penasaran dengan dia?” 
Amanda menyodorkan sebuah map kuning kepada Nina. Nina hanya tersenyum tidak menjawab.
Namanya Michael. Umur 25 tahun. Masuk ke sini seminggu yang lalu karena demam tinggi. Diagnosa sementara gejala tifus. Lembar kedua adalah hasil pemeriksaan darah dari laboratorium. 
Mata Nina terbelalak membaca hasil yang tertulis di atas kertas. Dia mendekatkan wajahnya ke kertas, untuk meyakinkan penglihatannya. Positif HIV!
***
“Suster, jangan dibuka tirainya!”
“Hai, pagi. Sudah bangun ya? Bagaimana tidurmu semalam? Nyenyak?” sapa Nina ramah seolah tidak mendengar apa yang baru dikatakan Michael.
“Tolong,  jangan dibuka tirainya!” ulang Michael lagi, agak keras.
“Tirai ini harus dibuka supaya sinar matahari bisa masuk ke dalam. Lagipula matahari pagi itu menyehatkan, jadi kamu bisa lebih cepat sembuh,” jawab Nina tenang.
“Percuma saja, aku tidak akan pernah sembuh. Aku akan segera mati!”
“Setiap orang akan mati. Hanya masalah waktu, siapa yang lebih cepat, siapa yang belakangan. Apa kamu pikir kamu bisa mendahului takdir dengan mencoba bunuh diri dengan tidak makan dan mencabut selang infusmu? Itu mati konyol namanya!” tukas Nina tajam.
“Tapi kamu tidak tahu apa yang terjadi padaku,” kata Michael, meratap. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan, menangis.
“Saya tahu, sangat tahu. Saya juga pernah bertemu pasien lain yang keadaannya jauh lebih parah dari kamu, tapi dia lebih tegar, tidak sepertimu.” 
Nina menatap Michael lekat. Tidak ada tampang kriminal atau pecandu narkoba. Tetapi mengapa bisa terkena penyakit yang masih dianggap aib oleh kebanyakan orang?
“Kenapa memandangiku seperti itu?”
“Heran saja. Ganteng-ganteng kok cengeng,” jawab Nina ringan. 
Mau tak mau Michael tersenyum mendengar jawaban Nina. 
Sebuah awal yang bagus. Semoga keputusannya bertukar tempat dengan Amanda untuk menjaga pasien ini tidak salah. Kata-katanya tadi mungkin terlalu keras, tapi menghadapi pasien yang putus asa seperti ini memang harus begitu. Itu yang pernah dia pelajari dari kakaknya yang menjadi psikolog.
“Jangan lupa habiskan sarapannya,” pesan Nina sebelum keluar dari kamar.

“Pagi, Suster Nina!”
“Pagi Mario! Wah, kamu sudah rapi ya? Sudah sarapan?”
“Sudah. Tadi Suster Lidya yang membantu. Suster, lihat ini, aku punya krayon dan buku gambar baru. Kemarin Ibu membelikannya untukku. Suster, temani aku menggambar ya?” pinta Mario manja.
“Boleh, tapi jangan sekarang ya. Suster Nina mau mengajak kamu jalan-jalan dulu. Mau?”
“Mau. Asyiiik!” Mario bertepuk tangan riang. Nina menggendongnya dan mendudukkannya di atas kursi roda.
“Kita mau ke mana ?”
“Hari ini Suster mau mengajak kamu kenalan sama teman baru.”
“Cantik nggak?”
“Dia itu laki-laki sayang.” Nina tertawa.
“Pacar Suster ya?” tanya Mario polos.
“Hush! Kecil-kecil sudah tahu pacaran. Bukan. Dia itu teman Suster.”
Mario terus bercerita selama Nina mendorong kursi rodanya.

“Halo Michael. Bagaimana, sudah merasa baikan?” Nina tersenyum senang saat melirik ke meja. Michael sudah menghabiskan sarapannya.
“Siapa dia?” Michael memandang Mario heran.
“Ini Mario. Saya ajak ke sini supaya kamu punya teman ngobrol. Daripada kamu bosan sendirian. Ayo Mario, kenalan dulu, ini namanya Om Michael.” Nina mendorong kursi roda Mario mendekati ranjang Michael.
Keduanya cepat akrab. Nina tersenyum senang, Michael sepertinya menyukai anak kecil.
“Saya masih harus memeriksa pasien lain. Kalian ngobrol saja dulu ya. Mario, jangan kecapekan ya. Kalau ada apa-apa, panggil Suster. “
 ***
“Sus, Mario ke mana? Kok nggak diajak ke sini?”
“Hari ini dia harus menjalani kemoterapi. Jadi tidak bisa dibawa keluar.”
“Sebenarnya dia sakit apa?”
“Kanker tulang.”
“Kanker? Bagaimana mungkin?” Michael terkejut. Bocah kecil yang periang itu, siapa menduga dia sedang menderita penyakit mengerikan yang bisa merenggut nyawanya setiap saat.

Mario masuk rumah sakit Dharma Kasih enam bulan yang lalu dalam kondisi kritis, karena kanker tulang yang menggerogoti tubuhnya sudah mencapai stadium tiga. Kaki kirinya harus diamputasi sebatas lutut untuk menyelamatkan jiwanya. Sebuah pilihan yang sangat berat untuk anak kecil yang baru berusia 8 tahun. Saat terbangun setelah operasi dan mengetahui kakinya yang telah hilang, Mario sempat menangis berhari-hari. Dia baru tenang setelah orang tuanya berjanji akan membelikan kaki palsu untuknya agar dia bisa berjalan lagi seperti dulu. 
Sebuah janji yang sulit dipenuhi. Orang tuanya hanya guru SD di sebuah sekolah negeri yang penghasilannya tidak seberapa. Bahkan semua biaya pengobatan Mario ditanggung oleh Yayasan Kanker Indonesia.

Dengan diamputasinya kaki kiri Mario, tidak berarti penyakitnya langsung sembuh. Dia harus rutin menjalani kemoterapi sebulan sekali untuk membunuh sel-sel kanker yang sudah menyebar di hampir seluruh bagian tubuhnya. Belum lagi belasan butir obat yang harus masuk ke lambungnya setiap hari.

Mario adalah pasien istimewa di rumah sakit ini. Dia menjadi kesayangan semua dokter dan perawat. Semangat hidupnya sangat tinggi. Walaupun tidak bisa melanjutkan sekolah karena penyakitnya, tapi dia tetap rajin belajar. Setiap sore jika orang tuanya datang, dia selalu minta diajarkan tentang pelajaran yang baru diberikan di sekolah hari itu. Dia selalu bilang ingin menjadi pemain bola terkenal. Selain cerdas, dia juga periang. Dia paling suka jika diajak berkeliling menjenguk pasien-pasien lain.

“Biasanya setiap pasien yang sudah mengenalnya, penyakitnya akan cepat sembuh. Contohnya kamu,” Nina tertawa kecil memandang Michael yang hanya tersenyum.
“Sekarang kamu mengerti kan kalau nasibmu masih lebih beruntung?”
“Siapa bilang nasibku lebih beruntung?” tiba-tiba Michael menjadi sinis. Dia memalingkan wajahnya menghindari tatapan Nina.
“Kamu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku. Mario punya orang-orang di sekelilingnya yang menyayangi dia, sedangkan aku..?”
“Kalau kamu mau, kamu boleh cerita. Saya akan mendengarkan.”

Michael mulai menuturkan kisah hidupnya. Dibesarkan dalam keluarga broken home, Michael tidak mengenal ibu kandungnya, yang meninggalkan dia dan ayahnya saat usianya tiga tahun demi laki-laki lain. Ayahnya menikah lagi dengan perempuan lain yang kini menjadi ibu tirinya. Walaupun berlimpah harta, tapi Michael tidak pernah merasakan kasih sayang ayahnya yang selalu sibuk dengan bisnisnya, apalagi ibu tirinya yang tidak punya pekerjaan lain selain menghamburkan uang ayahnya. Setahun yang lalu, Michael mengalami kecelakaan mobil, lukanya cukup parah dan membutuhkan transfusi darah. Itulah awal petaka yang menimpanya sekarang.

“Kamu tahu? Selama aku di sini, tidak ada seorang pun yang menjengukku. Bahkan pacarku, Via, menghilang begitu saja setelah mengetahui aku positif  terkena AIDS,” Michael mengakhiri ceritanya dengan sedih.
“Kamu percaya kan kalau Tuhan itu Maha Adil? Buktinya, kamu dirawat di sini, dan bisa bertemu Mario. Setidaknya kamu bisa belajar dari dia, bagaimana menghargai hidup yang singkat ini dan tetap bersemangat, karena itulah hal yang paling penting agar kita bisa tetap kuat dan bertahan.”
Michael terdiam merenungkan kata-kata Nina.
“Aku minta maaf ya, karena sudah berpikiran buruk tentangmu,” ujar Nina setelah beberapa saat. Michael menatap Nina bingung.
“Kupikir kamu seorang pecandu,” lanjut Nina hati-hati, takut menyinggung perasaan Michael.
Di luar dugaan, Michael tertawa.
“Walaupun hidupku berantakan, tapi aku tak pernah berniat mencoba barang haram itu.”
 ***
“Suster Nina.” Nina menoleh, mencari sumber suara yang memanggil namanya.
“Michael?” serunya senang. Laki-laki itu keluar dari rumah sakit seminggu yang lalu. Dia kelihatan sehat, wajahnya segar, tidak seperti ketika Nina melihatnya pertama kali.
“Apa kabar? Tumben kemari. Nggak sakit lagi kan?”
“Aku sudah lebih sehat, tapi masih harus terus minum obat. Terima kasih karena kamu dan Mario sudah menyadarkanku. Maaf, boleh aku memanggilmu Nina saja?” Nina tersenyum mengangguk..
“Aku mau menjenguk Mario. Aku punya kabar gembira untuknya.”
“Apa itu?”
“Ada sebuah yayasan yang mengadakan program 1000 kaki palsu untuk orang-orang cacat yang tidak mampu. Aku sudah mendaftarkan nama Mario dan sudah disetujui. Mudah-mudahan dalam dua bulan ini kaki palsu itu sudah siap dan bisa digunakan.”
“Benarkah? Ini kabar yang sangat bagus. Ayo, kita harus memberitahukannya pada Mario. Dia pasti senang sekali.” Nina menarik tangan Michael tak sabar menuju kamar Mario.

***

Hari ini semua orang di rumah sakit Dharma Kasih berduka. Bahkan langit juga ikut menangis. Hujan lebat seolah ditumpahkan dari langit mengguyur bumi sejak pagi. Mario, bocah kecil periang itu telah kembali pada Penciptanya. Tubuh kecilnya tidak mampu menahan efek samping dari kemoterapi yang harus dijalaninya berulang kali. Padahal itu adalah terapi yang terakhir, dan menurut dokter, kondisinya sudah membaik. Tetapi tidak ada yang bisa melawan kuasa takdir. Justru setelah terapi yang terakhir itu, keadaan Mario tiba-tiba memburuk dan koma selama dua hari. 
Sepertinya Tuhan masih menyayangi Mario, karena Dia tidak membiarkan Mario meninggal dalam kesakitan. Mario masih bisa tersenyum pada semua orang di dekatnya, orang tuanya, Nina, juga Michael, sebelum menutup matanya untuk selamanya.

Michael menangis dalam pelukan Nina. Kali ini dia tidak peduli bila ada yang menyebutnya cengeng. Dia benar-benar sedih dan terpukul dengan kepergian Mario.
“Padahal seminggu lagi kaki palsu untuk Mario akan sampai. Dan aku juga sudah membawa hadiah ini untuknya.” 
Michael menunjukkan sepasang sepatu olahraga dan kaos merah bergaris hitam, ada tulisan Kaka, 22, di punggungnya – pemain bola dunia idola Mario.

“Takdir sudah ditentukan, kita tidak bisa melawannya,” Nina mencoba menghibur, tapi dia juga merasakan kepedihan yang sama besarnya dengan Michael.

*****

Sabtu, 16 April 2016

Medali

Pukul satu tengah malam. Hujan deras yang mengguyur bumi sejak sore tadi masih menyisakan gerimis. Titik-titik airnya yang jatuh menimpa genteng rumah terdengar halus memecah kesunyian malam yang pekat. Darius terbangun dalam keremangan lampu kamarnya, dia mendapati istrinya tidak ada di sampingnya. Darius turun dari tempat tidurnya, dia tahu ke mana istrinya perig malam-malam begini.

Dugaannya benar, istrinya ada di kamar putri mereka, duduk di samping ranjang, memandangi kedua putrinya yang terlelap. Sudah beberapa hari ini istrinya selalu terbangun tengah malam, dan mendatangi kamar  anak-anaknya. Sesekali dia terlihat mengusap matanya. Darius tidak ingin mengganggu istrinya, dia meninggalkan kamar putrinya tanpa suara, kembali ke kamarnya sendiri.

Kantuknya hilang sudah, pikiran tentang putrinya mengganggu di kepalanya. Beberapa bulan terakhir ini Tari sering mengeluh sakit kepala. Darius tidak terlalu cemas, dia menganggap sakit kepala putri sulungnya itu karena terlalu lelah memikirkan pelajaran sekolahnya. Tetapi seminggu yang lalu Tari pingsan di sekolah, dan Darius tidak bisa tidak cemas, karena dari hasil pemeriksaan CT Scan, ternyata ada tumor di otak Tari.  Dokter menyarankan satu-satunya jalan penyembuhan adalah operasi, tetapi biayanya benar-benar membuat Darius mengelus dada, dua ratus juta. 

Dari mana dia mendapat uang sebanyak itu? Dia memang memiliki sedikit tabungan, tetapi itu tidak cukup. Bahkan jika ditambah dengan rumah dan seluruh isinya dijual, nilainya belumlah sampai dua ratus juta.

“Cobalah cari pinjaman dari kantor Bang,” pinta istrinya tiga hari yang lalu. Darius masih belum melakukan permintaan istrinya. Dia ragu, apakah perusahaan bersedia meminjamkan uang dalam jumlah yang sangat besar, sedangkan dia hanyalah seorang supir. Tetapi, sepertinya itulah satu-satunya harapan yang tersisa untuk menyelamatkan nyawa Tari. Maka, Darius bertekad hari ini dia harus mencoba bicara dengan atasannya.


“Dua ratus juta?” ulang Klara, manajer sekaligus atasan Darius, dengan nada terkejut; reaksi yang sudah hampir bisa ditebak Darius ketika dia masuk dan menceritakan keadaan putrinya.

“Perusahaan tidak mungkin memberi pinjaman sebesar itu, bagaimana Bapak bisa membayarnya? Kerja seumur hidup pun belum tentu Bapak bisa melunasinya.” 
Jawaban yang menyakitkan, tetapi dalam hati Darius terpaksa mengakui kebenaran kata-kata itu.

“Pak Yus, awas!” teriakan Adi, rekannya sesama supir, membuat Darius tersentak kaget, refleks dia menginjak rem. Terlambat, bumper depan mobilnya terlanjur menabrak setumpuk kaca yang tersandar di dinding. Wajah Darius memucat.

“Ini sudah keterlaluan. Seminggu ini Pak Yus sudah dua kali memecahkan kaca. Bapak tahu berapa harga kaca-kaca? Ini tidak bisa ditolerir lagi. Gaji Pak Yus akan kami potong untuk mengganti kerugian perusahaan akibat keteledoran Bapak itu,” kata Klara tegas. 
Darius menghela nafas panjang, dia hanya bisa diam dan pasrah menerima semua keputusan yang tak terbantah itu.


“Bagaimana Bang? Berhasikah mendapatkan pinjaman dari kantor?” tanya istrinya penuh harap ketika menyambut Darius pulang sore itu. Darius memandang istrinya gundah, perlahan dia menggeleng. Melihat gurat kekecewaan di wajah istrinya, Darius tidak tega menceritakan masalah yang dialaminya di kantor.

“Di mana anak-anak?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.
“Marni ke rumah temannya, katanya mau pinjam pe-er. Tari di kamar, tadi siang sepulang sekolah, dia mengeluh kepalanya pusing.”
“Sudah minum obat?” tanya Darius khawatir.
“Sudah, mungkin sekarang masih tidur.”
Darius mengabaikan rasa capeknya dan berjalan menuju kamar putrinya. Tari masih terlelap. Darius menatap wajah putrinya dengan perasaan getir. Tari anak yang cerdas. Prestasi belajarnya di sekolah selalu bagus, rankingnya tidak pernah keluar dari dua besar. Kelahirannya dua belas tahun yang lalu membawa kehangatan dalam keluarga Darius yang sudah menanti kehadirannya selama lima tahun. Itulah sebabnya Darius memberinya nama Mentari.

Tari belum tahu tentang penyakit yang menggerogoti kepalanya, Darius dan istrinya belum berterus terang kepadanya. Dokter memang mengatakan kalau daging yang tumbuh dalam kepala Tari bukan jenis yang ganas, tetapi kalau tidak segera dibuang juga bisa membahayakan jiwanya. Darius benar-benar tak tega membayangkan bagaimana nanti kepala putri kecilnya harus dibelah di ruang operasi. Tanpa disadarinya, tahu-tahu matanya sudah basah.


Kotak hitam beludru itu masih tersimpan di sudut dalam laci kecil di dalam lemari pakaian, sudah lama tak tersentuh. Darius meniup pelan lapisan debu tipis yang menyelubungi kotak. Sinar kuning keemasan memantul dari dalam ketika Darius membuka kotak itu. Dia mengambil sebuah medali dari dalam kotak. Ingatannya melayang kembali ke dua puluh dua tahun silam, saat-saat paling membanggakan dalam hidupnya, saat dia meraih medali emas pertamanya di kejuaraan nasional angkat besi di Jakarta. 

Dulu dia adalah salah satu manusia terkuat di tanah air, bahkan di asia. Puluhan medali sudah diraihnya, dari perunggu hingga emas, dari berbagai ajang pertandingan, baik tingkat nasional maupun internasional.

Tetapi setelah lima belas tahun berlalu, ketika dia merasa staminanya semakin menurun dan memutuskan untuk berhenti, segala kebanggaan itu mulai luntur. Keberhasilannya selama belasan tahun mengharumkan nama bangsa mulai dilupakan, dia merasa diabaikan. 
Bahkan bonus sebuah rumah mewah yang pernah dijanjikan untuknya tidak pernah dia terima. Hingga kini, Darius hanya memiliki sebuah rumah petak di daerah pinggiran kota dan sebuah sepeda motor tua yang masih setia menemaninya ke mana-mana. Dia tidak pernah mengecap bangku kuliah, juga tidak memiliki keahlian khusus, sehingga hanya bisa menjadi supir.

“Bang, makan dulu yuk!”  Panggilan istrinya membuyarkan lamunan Darius.
“Mi, aku mau menjual medali-medali ini,” kata Darius mengabaikan ajakan istrinya.
“Dijual? Untuk apa Bang?” tanya Ismi kaget.
“Untuk biaya operasi Tari.”
“Tapi, bukankah medali-medali itu sangat berarti buat Abang?”
“Saat ini, tidak ada yang lebih penting daripada kesembuhan Tari. Jika medali-medali ini bisa menyelamatkan nyawa Tari, aku rela,” kata Darius pasrah.


“Apa? Hanya lima juta?” ulang Darius tak percaya. Medali-medali kesayangannya hanya dihargai lima juta?
“Tidak bisa lebih tinggi?” tanyanya. Penjaga toko emas itu menggeleng.
“Maaf Pak, kata bos saya, kandungan emas dalam medali-medali ini bukan emas murni, dan lagipula, medali-medali ini masih harus dilebur lagi.”
Darius terdiam bingung.
“Kalau seperti itu, saya harus berunding dulu,” Darius mengantongi kembali medali-medali itu, dan beranjak meninggalkan toko.

“Yus! Darius, tunggu!” Langkah Darius terhenti, dia menoleh.
“Hei, kau lupa sama aku?” Darius menatap laki-laki yang baru keluar dari dalam toko itu. Sepertinya tidak asing.
“Aku Beny, Beny Sitorus, yang duduk di sebelah kau waktu SMA dulu,” kata laki-laki itu lagi dengan logat Batak yang kental. 
Senyum Darius mengembang, sekarang dia ingat laki-laki di hadapannya ini.
“Sudah lama kita nggak ketemu, aku hampir tak mengenalimu.” 
Mereka berjabatan tangan, tertawa akrab.
“Aku juga sudah hampir lupa, kalau tadi tak kulihat medali-medali yang ditunjukkan sama si Guntur ini. Tiba-tiba saja aku ingat kau, dulu kau setamat SMA kan langsung masuk pelatnas Jakarta.”
“Ayo, masuklah dulu! Kita cerita-cerita dulu di dalam,” Beny membukakan pintu kayu yang memisahkan pembeli dari bagian dalam toko emas itu.
***
Hari ini Tari akan dioperasi. Darius sudah meminta izin cuti dari kantornya untuk menemani istrinya menunggui Tari di rumah sakit selama operasi berlangsung.
Darius bersyukur karena keputusannya untuk menjual medali telah membawa berkah untuknya. Dia memang tidak menjual medali-medalinya kepada Beny, tetapi sahabat baiknya semasa SMA itu telah membantunya mendapatkan biaya operasi untuk Tari. Beny mengenalkannya pada seorang temannya yang merupakan salah satu petinggi negara yang membawahi departemen olahraga, khususnya pembinaan olahraga daerah. 

Pejabat pemerintahan itu merasa simpati dengan masalah yang dihadapi Darius, dan dia telah berjanji kalau pemerintah akan membantu biaya operasi Tari. Sebagai gantinya, Darius akan menyerahkan medali dan plakat penghargaan yang pernah diterimanya ke museum olahraga nasional.

Darius telah mengikhlaskan benda-benda kenangannya yang paling berharga menjadi milik negara. Yang ada dipikirannya sekarang hanyalah sebaris doa : semoga operasi Tari bisa berhasil dan putrinya bisa sembuh kembali. Amin!

*****

Parcel

Parto memandangi bungkusan besar di tangannya dengan gembira. Tahun ini majikannya baik sekali, memberikan bingkisan lebaran lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya. Biasanya dia hanya menerima dua botol markisa dan sekaleng biskuit murah. Tetapi sekarang, selain dua botol markisa, dia juga mendapat sekaleng besar biskuit impor, ditambah lagi tiga kaleng manisan buah, dan berbagai macam buah segar:  apel, jeruk, dan anggur.

Ijah, istrinya, dan Udin, anak laki-laki satu-satunya, pasti senang jika dia pulang membawa oleh-oleh sebanyak itu. Mereka belum pernah merasakan enaknya biskuit impor, apalagi manisnya anggur yang merupakan makanan mewah bagi mereka.

Siang tadi, Lina, karyawan Pak Broto, majikannya, menyuruhnya membawa pulang semua barang-barang yang dikemas dalam kardus itu dari kantor. Katanya, barang-barang itu untuk dibagikan kepada pembantu di rumah Pak Broto.
Dan dia sudah membagi dengan adil semuanya. Mak Surti, Ani, Anto – tukang kebun, Pak Min – satpam, dan dirinya sendiri, masing-masing mendapat bagian yang sama.

Parto menyimpan bungkusan itu dalam kamarnya. Dia akan pulang hari Minggu, jadi masih ada waktu tiga hari untuk mengepak barang-barang itu. Tapi sejenak Parto kelihatan ragu-ragu, apakah buah-buahan itu bisa tahan disimpan selama itu? Selama ini yang dia tahu, majikannya selalu menyimpan buah-buahan dalam kulkas.
Atau mungkin nanti dia minta izin sama Bu Broto saja untuk menyimpan buah-buahan itu sementara dalam kulkas.
 ***
“To, kamu letakkan di mana bingkisan yang dititipkan Lina tadi?” tanya Pak Broto selepas shalat Isya.
“Sudah saya bagi-bagikan Pak, sesuai pesanan Mbak Lina.”
“Kamu bagi-bagikan sama siapa?”
“Ya sama semuanya Pak. Mak Surti, Ani, Anto, dan Pak Min. Saya juga Pak,” jawab Parto lugu.
“Hahh? Siapa yang suruh kamu lakukan hal itu? Lancang sekali kamu!" Pak Broto berteriak emosi.
“Tapi Pak….. saya hanya melakukan apa yang dibilang Mbak Lina. Katanya Bapak yang menyuruh,” Parto mulai ketakutan.
“Ah, bohong itu! Saya tak pernah mengatakan itu. Harusnya kamu tanya dulu sama saya. Bingkisan itu mau saya berikan pada kolega saya, bukan untuk kalian. Pokoknya saya tidak mau tahu! Saya akan potong harga bingkisan itu dari THR kamu!”
Parto mengerut, dia ingin protes, tapi pasti tak ada gunanya. Bisa-bisa nanti malah gajinya ikut sekalian dipotong.

Parto memandang bungkusan di atas meja dengan sedih. Baru beberapa jam yang lalu dia merasa senang karena membayangkan betapa gembiranya nanti Ijah dan Udin menyambutnya pulang dengan membawa banyak oleh-oleh, sekarang kebahagiaan itu menguap.
Mungkin sebaiknya dia mengembalikan barang-barang itu, jadi uang THR-nya tidak akan dipotong. Tapi, bagaimana mengatakannya pada yang lain? Mereka pasti sedih sekali. Apalagi Mak Surti, yang tadi paling gembira ketika menerima bingkisan itu. Parto jadi tak tega.

“To, semalam kamu dimarahi Pak Broto ya?” tanya Mak Surti. Parto yang sedang memanaskan mesin mobil jadi gugup.
“Iya Mak,” jawabnya pelan.
“Memangnya kenapa? Mak mendengar suara Pak Broto keras sekali, tapi Mak kurang jelas apa yang dikatakannya.”
“Ah, bukan masalah besar Mak,” elak Parto.
“Apa karena bingkisan kemarin?”
Parto kaget.
“Kok Mak tahu?”
“Mak hanya menebak. Seumur-umur Mak kerja di sini, Pak Broto belum pernah kasih barang sebagus ini. Mak jadi curiga aja.”
Dengan berat hati akhirnya Parto menceritakan yang sebenarnya.
“Mak tahu apa yang harus kita lakukan.”
“Maksud Mak, kita kembalikan lagi barang-barang itu?”
Mak Surti mengangguk.
“Nanti kita bicara lagi.” Mak Surti melangkah masuk, saat dilihatnya Pak Broto berjalan menuju ke mobil.
 ***
“Permisi Pak, maaf mengganggu,” ucap Mak Surti sopan. Pak Broto sedang menonton televisi sendirian, istrinya belum pulang dari acara buka puasa bersama di kantornya.
Ada apa Mak?” Pak Broto menoleh dan baru sadar, ternyata Mak Surti tidak sendirian, Ani, Anto, Pak Min dan Parto berdiri di belakangnya.
“Kami cuma mau mengucapkan terima kasih atas bingkisan lebaran dari Bapak. Tapi kami tidak bisa menerimanya, karena harus mengorbankan uang THR Parto. Jadi kamu mau mengembalikan bingkisan ini.” Mak Surti meletakkan sebuah bungkusan di atas meja. Ani, Anto, Pak Min dan Parto juga melakukan hal yang sama.
Pak Broto terkesima. Dadanya terasa sesak oleh rasa haru. Dia tidak bisa berkata apa-apa, matanya menatap lama barang-barang yang tergeletak di atas meja.
“Kami harap, Bapak tidak jadi memotong uang THR Parto,” ujar Mak Surti lagi.
“Mak, ambillah kembali barang-barang itu. Bingkisan itu memang untuk kalian.”
Sekarang giliran Mak Surti dan lainnya yang terkejut. Pak Broto memandangi mereka satu persatu.
“Saya mau minta maaf. Seharusnya masalah kecil ini tidak perlu dibesar-besarkan. Dan bukan Parto yang salah.  Tadi Lina sudah mengakui kesalahannya. Jadi saya harap kalian bisa melupakan kesalahpahaman ini.”
Pak Broto terenyuh melihat raut kegembiraan di wajah mereka ketika menerima kembali bingkisan itu dan berulang kali mengucapkan terima kasih.

x

Namaku Zack

Umurku belum genap satu bulan. Aku juga belum punya nama, karena Mama belum sempat memberikannya padaku. Jalanku masih agak terseok-seok, kadang-kadang suka terpeleset. Tapi Mama selalu bilang, itu hal yang biasa untuk anak seumuran aku. Kaki belakangku belum cukup kuat menopang berat tubuhku.

Sampai hari ini aku masih belum diizinkan Mama keluar rumah. Walaupun kadang-kadang aku merasa bosan ditinggal sendirian di rumah saat Mama mencari makan di luar. Tapi rasa bosan itu segera hilang begitu Mama kembali dengan membawa ikan di mulutnya.

Dua minggu pertama setelah aku lahir ke dunia, aku hanya hidup dari ASI yang  diberikan Mama. Sekarang aku sudah diperbolehkan makan ikan.  Nyam...nyam! Harum ikan goreng yang dibawa Mama sungguh menggoda selera. Mama selalu memberiku daging yang lembut dan menyisakan bagian tulang yang keras untuk dirinya sendiri. Ah, Mama memang sangat menyayangiku.

Hari ini lagi-lagi aku bosan ditinggal sendirian. Aku ingin ikut Mama keluar, tapi Mama melarangku. Aku membandel, kuikuti Mama dari belakang dengan diam-diam. Aduh, ternyata ketahuan! Mama berbalik, menggigit tengkukku, dan membawaku kembali ke rumah.
“Kamu tidak boleh ikut, sayang. Kamu masih kecil, bahaya kalau keluar. Banyak orang jahat. Tunggu Mama di sini saja ya,” Mama menasihatiku. Aku hanya mengangguk.
Begitu Mama berjalan keluar, segera kuikuti lagi dari belakang. Kali ini aku berjalan mengendap-endap supaya tidak ketahuan Mama. Mama sempat menoleh ke belakang sekali – mungkin Mama tahu kalau aku mengikutinya – untungnya, di dekatku ada pot bunga, tubuhku kecil, jadi aku bisa sembunyi di belakang pot bunga itu.

Setelah yakin Mama tidak melihatku, aku keluar dari persembunyianku. Kakiku pendek, belum bisa jalan cepat-cepat, agak repot juga harus mengikuti Mama yang sudah jauh di depanku.
Tiba-tiba saja aku sampai di tempat yang asing, ramai sekali di sini. Kenapa banyak sekali orang lalu lalang? Aku takut sekali.

“Mama,” aku berteriak sekuat tenaga, tapi sepertinya Mama tidak mendengar panggilanku. Aku tidak berani berjalan lagi, mau pulang juga takut. Lebih baik kutunggu Mama di sini, nanti Mama pulang pasti lewat jalan ini lagi.
Kulihat Mama berhenti. Hidungnya mengendus-endus di tanah. Pasti Mama mencium bau ikan. Benar saja, kepala Mama sekarang tegak, dia berjalan, ah tidak, Mama berlari.
Tiba-tiba aku mendengar suara aneh, seperti berdecit, keras sekali. Lalu kulihat beberapa orang yang sedang berjalan berhenti. Hei, kenapa orang-orang itu berkerumun di dekat Mama? Jangan-jangan mereka mau menjahati Mama.

Aku mau mendekat, tapi aku masih takut melihat orang-orang itu. Ah, aku tidak boleh takut, aku harus ke sana dan melihat apa yang terjadi.
Aku baru berjalan beberapa langkah, ketika orang-orang itu meletakkan sesuatu di dekatku. Mama! Itu adalah Mama, tapi kenapa Mama hanya diam, tidak melawan orang-orang itu? Aku mendekati Mama, kugoyang badan Mama, tapi Mama tidak bergerak, hanya berbaring diam, matanya tertutup tidak melihatku. Ada cairan berwarna merah di kepala Mama.

Tiba-tiba aku terjungkal, ada yang menendangku. Aku berusaha bangun, tapi orang-orang itu malah mengusirku. Aku ingin melawan, tapi aku juga takut sekali, orang-orang itu badannya besar sekali, aku bahkan tidak bisa melihat jelas muka mereka. Lalu aku melihat mereka mengangkat Mama.

“Mama! Mama mau dibawa ke mana? Jangan bawa Mamaku pergi!” aku meneriaki mereka, tapi tak ada yang mendengar.
Aku menangis, aku merasa sendirian, ketakutan. Aku ingin pulang, tapi aku lupa jalannya. Aku hanya menyeret kakiku mengikuti naluriku, yang penting aku harus pergi menjauh dari keramaian ini.

Akhirnya aku sampai di tempat yang sepi, tidak ada lagi orang yang berkeliaran. Aku lapar dan haus. Biasanya saat seperti ini Mama pasti sudah pulang membawa ikan kesukaanku, dan aku bisa menyusu sepuasnya pada Mama. Tapi sekarang Mama entah ada di mana. Mungkin karena kelelahan, aku tertidur.

Tidak tahu berapa lama aku terlelap, saat membuka mata sekelilingku sudah gelap, tapi justru mataku bisa melihat semuanya lebih jelas dan terang.
Mama! Aku ingat Mama lagi, aku melihat sekelilingku, tidak ada siapa pun.
“Mama...Mama...,” aku mulai menangis lagi. Kenapa Mama tidak datang, apakah Mama tidak mendengar suaraku, padahal aku menangis cukup keras?

Hei, aku mencium sesuatu, bau yang sangat kukenal. Aku ingat, ini kan bau ikan yang biasa dibawa Mama. Perutku terasa semakin lapar. Aku mulai berjalan mengikuti penciumanku mendekati tempat asal bau itu.
Aku melihat sesuatu, dia mirip sepertiku, tapi badannya lebih besar seperti Mama. Bau itu berasal dari tempat dia berdiri. Ternyata dia yang sedang menikmati ikan itu. Mudah-mudahan dia mau berbagi sedikit denganku.

“Hei, anak kecil, jelek! Ngapain kemari? Mau mencuri makananku ya? Jangan coba-coba ya, pergi sana!” Suaranya kasar, tidak lembut seperti Mama. Dia menyeringai memperlihatkan gigi-giginya yang tajam. Ih, ngeri! Lebih baik pergi sebelum dia mencakar dan menggigitku. Aku kembali ke persembunyianku, memerhatikan dia dari jauh.

Dia sudah pergi, semoga masih ada sedikit ikan yang tersisa untukku. Aku berjalan ke sana lagi, kali ini lebih hati-hati, bersiap-siap kabur kalau dia muncul lagi.
Tidak ada daging yang tersisa, hanya tinggal sedikit tulang. Kucoba gigit dengan gigi-gigiku yang masih kecil. Keras sekali, tapi tak apalah, daripada perutku lapar.

Ada suara mendekat, aku mendongak. Seseorang berdiri di depanku, tangannya memegang sesuatu. Gerakannya cepat sekali, aku tidak sempat berlari menyelamatkan diri. Tiba-tiba aku merasa badanku dingin, sekujur tubuhku sudah basah kuyup. Aku berbalik, berlari secepat yang aku bisa, sampai-sampai terpeleset karena licin. Orang itu masih di belakangku, aku bisa mendengar suaranya, tapi tidak mengerti apa yang dikatakannya.

Aku sudah sampai ke tempat persembunyianku, tidak ada suara lagi, berarti orang itu tidak mengejarku. Aku kedinginan, badanku menggigil. Aku belum bisa menjilati bulu-buluku yang basah, biasanya Mama yang selalu menjilati aku, membersihkan tubuhku. Ingat Mama, aku menangis lagi.

Tiba-tiba aku melihat Mama, ya benar, itu Mama. Akhirnya Mama bisa mendengar aku, Mama pulang. Tapi kenapa Mama hanya berdiri di sana, diam saja, dan tidak memelukku? Aku berlari menyambut Mama. Tapi semakin aku berlari, Mama rasanya semakin jauh, lalu mendadak Mama menghilang.

“Mamaaaa!” aku terkejut mendengar teriakanku sendiri. Ternyata aku cuma bermimpi bertemu Mama.
Aku mengerjapkan mata. Hari sudah terang, badanku terasa kering dan hangat. Aku juga tidak kedinginan lagi. Tapi perutku semakin lapar, aku juga haus. Aku harus mencari makan.

Rasanya aku sudah berjalan jauh sekali, tapi aku tidak menemukan sesuatu yang bisa kumakan. Kakiku lemas sekali, aku tidak sanggup lagi berjalan. Akhirnya aku jatuh terduduk.
Sepertinya aku masih belum aman. Sekarang ada sekelompok orang yang lain mendekatiku. Mereka lebih kecil daripada orang yang menyiramku semalam, tapi mereka jauh lebih jahat. Mereka tidak hanya menyiramku, tapi juga melempariku dengan kerikil. Badanku yang baru kering jadi basah lagi, batu-batu kecil yang mengenai tubuhku sangat menyakitiku. Aku ingin berlari menghindari mereka, tapi aku sudah kehabisan tenaga. Bahkan untuk menangis saja aku sudah tidak ada suara lagi.

“Hei, anak-anak. Jangan dilempari. Kasihan!”
Aku mendengar suara di belakangku.
“Biarin saja Nek Sumi. Dia itu kotor, lihat bulunya, hitam semua. Kata orang bisa bawa sial. Jadi harus diusir jauh-jauh.”
“Ah, siapa bilang bisa bawa sial, itu takhyul. Dasar kalian anak-anak nakal. Sudah, pergi sana!”
Aneh, aku bisa mengerti semua perkataan mereka. Tubuhku diangkat oleh orang yang dipanggil Nek Sumi oleh anak-anak yang melempariku tadi.
“Manis, jangan takut ya!”
Nek Sumi membawaku masuk ke dalam rumahnya. Aku merasa aman dalam pelukan Nek Sumi. Nek Sumi membersihkan tubuhku, lalu memberiku semangkuk susu hangat. Enak sekali, perutku terasa hangat dan tidak lapar lagi.

“Terima kasih Nek Sumi,” kataku.
“Kamu lucu sekali,” kata Nek Sumi.
Ah, mungkin Nek Sumi tidak mengerti ucapanku, dia hanya membelai-belai kepalaku.
Dan Nek Sumi juga membuatkan rumah baru untukku, lebih besar dan lebih bagus daripada rumah lamaku, tempat tidurku sekarang lebih empuk.

Aku memang kehilangan Mama, tapi sekarang aku sudah bertemu dengan Nek Sumi yang sangat menyayangiku, sama besarnya dengan kasih sayang Mama padaku.
Oh ya, sekarang aku juga sudah punya nama, Nek Sumi yang memberikannya.
Namaku Zack, keren kan?

Zack, si kucing hitam yang manis. Dan ini adalah kisahku!
*****

Mendung

Aku selalu menyukai mendung,
Mengingatkanku kembali akan masa lalu,
Seperti de javu.

Saat awan hitam menggelayut di langit,
Menutupi bumi dari sinar mentari,
Kenangan itu hadir kembali,
Mengusik hati.

Langit semakin gelap,
Bumi semakin suram,
Hati pun ikut kelam.

Tetes air hujan jatuh membasahi bumi, 
Terasa dingin,
Seperti air mata yang jatuh membasahi pipi, 
Hati terasa dingin.

Bau tanah menguar,
Luka lama terkuak,
Rindu pun meluap.

Bila hujan berhenti,
Akankah perasaan ini juga berakhir?
Mentari yang bersinar lagi,
Terbias oleh titik-titik air,
Membentuk pelangi yang melengkung indah di langit,
Memberi kehangatan di bumi,
Mampukah ia menghangatkan kembali hati ini?

Kamis, 14 April 2016

Dilema

Indra meneliti wajahnya di cermin. Bersih, tidak berjerawat. Alis mata tebal, hidung mancung, garis rahang yang keras, membuat siapa pun yang melihatnya pasti akan mengakui ketampanannya. Yang paling disukainya adalah matanya. Banyak orang bilang, matanya seperti magnet yang bisa menarik setiap orang yang memandang ke kedalamannya. Bentuk badannya juga bagus, dengan tinggi 180 cm, postur tubuh yang ideal untuk seorang model.

Mbak Anissa suka menyebutnya narsis karena kebiasaannya berdiri lama-lama di depan cermin. Lebih baik narsis daripada minder, begitu selalu jawabnya membela diri dari cemoohan kakaknya.

Sejak kecil Indra sangat ingin menjadi model, bisa memakai baju desainer terkenal, berjalan di atas cat walk, menjadi pusat perhatian dan dikenal banyak orang. Tetapi dia harus rela melepas impian masa kecilnya itu karena ayahnya, yang seorang pensiunan ABRI, tidak menyetujui keinginannya. Ayahnya memberikannya kebebasan memilih bidang pekerjaan yang disukai kecuali menjadi model. Menurutnya dunia model tidak jauh dari dunia artis yang glamor, penuh kebohongan, dan mudah menjerumuskan orang dalam pergaulan yang salah.

Dididik dalam keluarga militer yang keras, membuat Indra selalu patuh pada orang tuanya. Kata-kata ayahnya bagaikan sabda Tuhan yang tidak boleh dilawan, walaupun kadang bertentangan dengan kata hatinya. Bahkan ibunya sendiri juga tidak berani membantah ayahnya.

Maka jadilah Indra seorang akuntan yang sukses seperti sekarang. Dia bisa membeli apa pun yang diinginkannya dengan gajinya sendiri. Rumah, mobil mewah, jalan-jalan ke luar negeri, bahkan tahun ini dia akan memberangkatkan orang tuanya naik haji. Hidupnya hampir lengkap, kecuali satu, seorang istri.

“Umurmu sudah kepala tiga. Hidupmu juga sudah mapan. Sudah saatnya kamu menikah.” 
Itu yang sering dikatakan ibunya. Dia maklum, sebagai anak lelaki satu-satunya, tentu orang tuanya sangat berharap dia bisa meneruskan garis keturunan keluarga. Tiga orang kakaknya yang sudah berkeluarga, semuanya perempuan.
Menikah? Indra selalu memikirkan kata itu akhir-akhir ini. Menikah dengan siapa? Kekasih saja dia tidak punya.

“Jangan bilang kalau kau belum pernah jatuh cinta dan pacaran.” Hadi, sahabat yang dikenalnya sewaktu kuliah, menertawakannya. 
Wajar jika Hadi merasa heran, karena dia sendiri pernah mendapat julukan playboy waktu sekolah dulu. Bahkan dia sudah tidak ingat Clara, pacarnya sekarang adalah pacar yang ke berapa. Padahal kalau dibandingkan dengan Indra, wajah dan penampilannya biasa-biasa saja. Kehidupannya juga tidak semewah Indra, walaupun dia memiliki sebuah gerai ponsel sendiri di kawasan Mangga Dua Square.

Tetapi memang begitulah keadaannya. Jika Hadi dijuluki playboy, maka Indra dipanggil gunung es karena sikapnya yang cuek dan dingin terhadap wanita. Sebenarnya waktu SMA dulu, Indra pernah menyukai teman sekelasnya. Namanya Linda. Mereka sempat dekat beberapa bulan, sampai suatu hari tanpa sengaja Indra mendengar pembicaraan Linda dengan teman-temannya yang lain di kantin. Ternyata Linda hanya memanfaatkannya untuk memancing kecemburuan cowok lain yang ditaksirnya. Sejak itu Indra menjadi dingin terhadap wanita. Dia hanya berbicara seperlunya dengan mereka. Jika ada salah seorang dari mereka yang menunjukkan perhatian lebih terhadapnya, maka dia akan langsung curiga kalau wanita itu hanya ingin memanfaatkannya. Apalagi sekarang, dia tidak yakin ada wanita yang benar-benar bisa tulus mencintainya tanpa melihat semua yang dimilikinya saat ini.

“Jangan berpikiran negatif terus, nggak baik,” nasihat Hadi.
“Tidak semua perempuan sejelek seperti yang kaukira. Ada seseorang yang kukira mencintaimu dengan tulus. 
"Siapa?"
"Nadira.”
“Nadira?”
“Iya, Nadira.”
“Bagaimana kau bisa tahu?”
“Pengalaman friend. Masa sih kau tidak sadar kalau sejak dulu Nadira itu menyukaimu?”

Indra terdiam merenungkan kata-kata Hadi. Dia mengenal Nadira semasa ospek di kampus belasan tahun yang lalu. Hingga kini Nadira masih menjadi salah satu teman terbaiknya karena mereka juga bekerja di perusahaan yang sama. Gadis itu tidak berasal dari keluarga kaya, walaupun tidak terlalu miskin. Dia teman diskusi yang menyenangkan. Satu hal yang membuat Indra kagum padanya, dia selalu memegang teguh prinsip hidupnya untuk tetap berada di jalur yang lurus dan tidak terpengaruh ketika orang-orang di sekitarnya berlomba mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya dengan menghalalkan segala cara.

Nadira pernah diminta merubah laporan keuangan sebuah perusahaan pengolahan limbah industri. Pemilik perusahaan ingin menguasai sendiri sebagian besar keuntungan dan mengurangi pembagian deviden kepada para investor. Dia berani membayar Nadira dengan harga tinggi. Tetapi Nadira menolak dengan tegas tawaran itu.
Indra sendiri dengan malu harus mengakui dalam hati, jika dia berada di posisi Nadira saat itu, mungkin dia akan berpikir dua kali untuk menolak tawaran yang menggiurkan itu.
Apa benar Nadira menyukainya? Mengapa dia merasa sikap Nadira biasa-biasa saja padanya? Hadi yang asal bicara atau dia yang bodoh tidak menyadari perhatian Nadira padanya?
Tapi dia sendiri tidak memiliki perasaan apa-apa terhadap Nadira selain seorang sahabat.

“Itu karena kalian tiap hari ketemu, jadi kau tidak sadar akan perasaanmu sendiri. Jika kau menunggu sampai Nadira pergi atau diambil orang, baru menyadari bahwa kau suka padanya, itu sudah terlambat,” kata Hadi mengingatkan.

Indra tidak yakin dengan Hadi, dia tetap ragu akan perasaannya sendiri. Berada di dekat Nadira berbeda dengan ketika dia bersama Linda dulu.
Tapi tidak ada salahnya mencoba saran Hadi. Dia bisa membuktikan kata-kata Hadi tentang perasaan Nadira padanya, sekaligus meyakinkan hatinya sendiri.


Dan sekarang dia ada di sini, di halaman parkir studio 21, bersama Nadira. Tadi siang ketika mengajak Nadira, dia melihat raut terkejut di wajah gadis itu, yang sesaat kemudian berubah menjadi semu kemerahan disertai anggukan tersenyum.
Indra berjalan di samping Nadira, tidak mencoba menggandeng tangannya seperti pasangan lain yang lewat di depan mereka. Dia belum berani melangkah terlalu jauh, khawatir Nadira tersinggung.

“Dira!” mereka menoleh bersamaan ke belakang mencari sumber suara. Tiga orang laki-laki seusia mereka menghampiri.
“Adam, kebetulan ketemu di sini. Mau nonton juga ya?” Nadira menyapa laki-laki yang di tengah.
Indra meninggalkan mereka untuk antri di loket karcis. Sepintas Nadira sempat mengenalkannya pada Adam.
Lima menit mengantri, Indra melihat Nadira masih asyik mengobrol dengan Adam dan dua orang temannya. Tiba-tiba ada perasaan tidak suka melihat kedekatan mereka. Indra menggeleng, berusaha menepis pikiran buruk dari kepalanya. Nadira dan Adam adalah sepupu, mengapa dia harus merasa marah melihat kedekatan mereka?

Di dalam, Indra sama sekali tidak bisa menikmati film yang ditontonnya. Dia gelisah, pikirannya terus melayang kepada Nadira dan Adam, pada keakraban mereka di luar tadi. Padahal saat itu, Adam dan kedua temannya sedang menonton film yang lain, dan tidak bersama dengan mereka.

***

Teminal A1, Bandara Soekarno Hatta, dua bulan kemudian.
Indra duduk menyendiri di sudut ruang tunggu. Tas ranselnya tergeletak di samping kursi. Tidak ada calon penumpang lain selain dia di dalam ruangan itu. Seorang petugas cleaning service menyapu lantai, di pintu masuk ruang tunggu dua orang petugas sedang berbicara, tetapi suaranya kecil sehingga tidak terdengar dari tempat Indra duduk.

Masih ada dua jam lebih sebelum pesawat yang akan membawanya ke Surabaya terbang. Indra sengaja pergi pagi-pagi dari rumah untuk menghindari lebih banyak lagi kemarahan dan kesedihan dari orang tuanya yand sudah membuatnya lelah seminggu terakhir ini.
Dia memejamkan mata, mencoba tidur sejenak. Semalam dia hanya berhasil terlelap kurang dari dua jam, karena terlalu tegang memikirkan semuanya.

Satu setengah bulan yang lalu, dalam keadaan pikiran kacau, dia bertemu dengan Welly, seorang teman lama, yang mengenalkannya pada guru spiritualnya. Entah mengapa, saat berbicara dan menatap wajah Sang Guru, Indra merasakan kedamaian dalam hatinya yang belum pernah dirasakannya selama ini. Dia bisa melupakan semua masalahnya.

Pertemuan itu telah merubah segalanya dalam kehidupan Indra. Dia memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan di tengah puncak karirnya, dan meninggalkan semua kekayaan yang telah dikumpulkannya bertahun-tahun, untuk menenangkan diri di pondok – istilah Sang Guru untuk kediamannya.

Sebuah keputusan yang pasti akan membuat banyak orang terperangah, terutama kedua orang tuanya. Oleh karena itu Indra menyimpan semua rencananya hingga seminggu menjelang keberangkatannya. Dan seperti yang sudah dibayangkannya, orang tuanya terbelalak tak percaya mendengar keinginannya. Ayahnya marah besar. Dia tidak bisa menerima keputusan yang diambil Indra. Ibunya hanya bisa menangis. Tetapi kali ini Indra sudah mantap dengan pilihannya. Dia tidak akan membiarkan siapapun mempengaruhi dirinya.

Dan sekarang, dengan hanya membawa beberapa helai pakaian, Indra akan pergi. Sore nanti setelah tiba di Surabaya, seorang teman Welly akan menjemputnya dan mengantarnya ke Trawas, sebuah kota kecil di Mojokerto, menuju ke pondok.
Indra tidak tahu berapa lama dia akan berada di sana.

Nadira, maafkan aku! Gumam Indra dalam hati.
Indra tidak pernah bercerita mengapa dia ingin pergi, dan Nadira juga tidak memaksanya berbicara. Tetapi Indra tahu pasti Nadira terpukul dengan kepergiannya.
Indra tidak mungkin mengatakan alasan yang sebenarnya. Terlalu memalukan apalagi jika sampai orang tuanya mengetahui hal ini.

Bagaimana mungkin dia bisa mengatakan kalau dia tidak mencintai Nadira karena ternyata dia justru menyukai Adam? 
*****