Pukul satu tengah malam. Hujan deras yang mengguyur
bumi sejak sore tadi masih menyisakan gerimis. Titik-titik airnya yang jatuh
menimpa genteng rumah terdengar halus memecah kesunyian malam yang pekat. Darius
terbangun dalam keremangan lampu kamarnya, dia mendapati istrinya tidak ada di
sampingnya. Darius turun dari tempat tidurnya, dia tahu ke mana istrinya perig malam-malam
begini.
Dugaannya benar, istrinya ada di kamar putri mereka,
duduk di samping ranjang, memandangi kedua putrinya yang terlelap. Sudah
beberapa hari ini istrinya selalu terbangun tengah malam, dan mendatangi
kamar anak-anaknya. Sesekali dia
terlihat mengusap matanya. Darius tidak ingin mengganggu istrinya, dia
meninggalkan kamar putrinya tanpa suara, kembali ke kamarnya sendiri.
Kantuknya hilang sudah, pikiran tentang putrinya
mengganggu di kepalanya. Beberapa bulan terakhir ini Tari sering mengeluh sakit
kepala. Darius tidak terlalu cemas, dia menganggap sakit kepala putri sulungnya
itu karena terlalu lelah memikirkan pelajaran sekolahnya. Tetapi seminggu yang lalu
Tari pingsan di sekolah, dan Darius tidak bisa tidak cemas, karena dari hasil pemeriksaan
CT Scan, ternyata ada tumor di otak Tari.
Dokter menyarankan satu-satunya jalan penyembuhan adalah operasi, tetapi
biayanya benar-benar membuat Darius mengelus dada, dua ratus juta.
Dari mana
dia mendapat uang sebanyak itu? Dia memang memiliki sedikit tabungan, tetapi
itu tidak cukup. Bahkan jika ditambah dengan rumah dan seluruh isinya dijual, nilainya
belumlah sampai dua ratus juta.
“Cobalah cari pinjaman dari kantor Bang,” pinta
istrinya tiga hari yang lalu. Darius masih belum melakukan permintaan istrinya.
Dia ragu, apakah perusahaan bersedia meminjamkan uang dalam jumlah yang sangat
besar, sedangkan dia hanyalah seorang supir. Tetapi, sepertinya itulah
satu-satunya harapan yang tersisa untuk menyelamatkan nyawa Tari. Maka, Darius
bertekad hari ini dia harus mencoba bicara dengan atasannya.
“Dua ratus juta?” ulang Klara, manajer sekaligus
atasan Darius, dengan nada terkejut; reaksi yang sudah hampir bisa ditebak
Darius ketika dia masuk dan menceritakan keadaan putrinya.
“Perusahaan tidak mungkin memberi pinjaman sebesar
itu, bagaimana Bapak bisa membayarnya? Kerja seumur hidup pun belum tentu Bapak
bisa melunasinya.”
Jawaban yang menyakitkan, tetapi dalam hati Darius terpaksa
mengakui kebenaran kata-kata itu.
“Pak Yus, awas!” teriakan Adi, rekannya sesama supir,
membuat Darius tersentak kaget, refleks dia menginjak rem. Terlambat, bumper
depan mobilnya terlanjur menabrak setumpuk kaca yang tersandar di dinding.
Wajah Darius memucat.
“Ini sudah keterlaluan. Seminggu ini Pak Yus sudah dua
kali memecahkan kaca. Bapak tahu berapa harga kaca-kaca? Ini tidak bisa
ditolerir lagi. Gaji Pak Yus akan kami potong untuk mengganti kerugian
perusahaan akibat keteledoran Bapak itu,” kata Klara tegas.
Darius menghela
nafas panjang, dia hanya bisa diam dan pasrah menerima semua keputusan yang tak
terbantah itu.
“Bagaimana Bang? Berhasikah mendapatkan pinjaman dari
kantor?” tanya istrinya penuh harap ketika menyambut Darius pulang sore itu. Darius
memandang istrinya gundah, perlahan dia menggeleng. Melihat gurat kekecewaan di
wajah istrinya, Darius tidak tega menceritakan masalah yang dialaminya di
kantor.
“Di mana anak-anak?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.
“Marni ke rumah temannya, katanya mau pinjam pe-er.
Tari di kamar, tadi siang sepulang sekolah, dia mengeluh kepalanya pusing.”
“Sudah minum obat?” tanya Darius khawatir.
“Sudah, mungkin sekarang masih tidur.”
Darius mengabaikan rasa capeknya dan berjalan menuju
kamar putrinya. Tari masih terlelap. Darius menatap wajah putrinya dengan
perasaan getir. Tari anak yang cerdas. Prestasi belajarnya di sekolah selalu
bagus, rankingnya tidak pernah keluar dari dua besar. Kelahirannya dua belas
tahun yang lalu membawa kehangatan dalam keluarga Darius yang sudah menanti
kehadirannya selama lima tahun. Itulah sebabnya Darius memberinya nama Mentari.
Tari belum tahu tentang penyakit yang menggerogoti
kepalanya, Darius dan istrinya belum berterus terang kepadanya. Dokter memang
mengatakan kalau daging yang tumbuh dalam kepala Tari bukan jenis yang ganas,
tetapi kalau tidak segera dibuang juga bisa membahayakan jiwanya. Darius
benar-benar tak tega membayangkan bagaimana nanti kepala putri kecilnya harus
dibelah di ruang operasi. Tanpa disadarinya, tahu-tahu matanya sudah basah.
Kotak hitam beludru itu masih tersimpan di sudut dalam
laci kecil di dalam lemari pakaian, sudah lama tak tersentuh. Darius meniup
pelan lapisan debu tipis yang menyelubungi kotak. Sinar kuning keemasan memantul
dari dalam ketika Darius membuka kotak itu. Dia mengambil sebuah medali dari
dalam kotak. Ingatannya melayang kembali ke dua puluh dua tahun silam,
saat-saat paling membanggakan dalam hidupnya, saat dia meraih medali emas
pertamanya di kejuaraan nasional angkat besi di Jakarta.
Dulu dia adalah salah
satu manusia terkuat di tanah air, bahkan di asia. Puluhan medali sudah
diraihnya, dari perunggu hingga emas, dari berbagai ajang pertandingan, baik
tingkat nasional maupun internasional.
Tetapi setelah lima belas tahun berlalu, ketika dia
merasa staminanya semakin menurun dan memutuskan untuk berhenti, segala
kebanggaan itu mulai luntur. Keberhasilannya selama belasan tahun mengharumkan
nama bangsa mulai dilupakan, dia merasa diabaikan.
Bahkan bonus sebuah rumah
mewah yang pernah dijanjikan untuknya tidak pernah dia terima. Hingga kini,
Darius hanya memiliki sebuah rumah petak di daerah pinggiran kota dan sebuah
sepeda motor tua yang masih setia menemaninya ke mana-mana. Dia tidak pernah mengecap
bangku kuliah, juga tidak memiliki keahlian khusus, sehingga hanya bisa menjadi
supir.
“Bang, makan dulu yuk!” Panggilan istrinya membuyarkan lamunan
Darius.
“Mi, aku mau menjual medali-medali ini,” kata Darius mengabaikan
ajakan istrinya.
“Dijual? Untuk apa Bang?” tanya Ismi kaget.
“Untuk biaya operasi Tari.”
“Tapi, bukankah medali-medali itu sangat berarti buat Abang?”
“Saat ini, tidak ada yang lebih penting daripada
kesembuhan Tari. Jika medali-medali ini bisa menyelamatkan nyawa Tari, aku
rela,” kata Darius pasrah.
“Apa? Hanya lima juta?” ulang Darius tak percaya.
Medali-medali kesayangannya hanya dihargai lima juta?
“Tidak bisa lebih tinggi?” tanyanya. Penjaga toko emas
itu menggeleng.
“Maaf Pak, kata bos saya, kandungan emas dalam
medali-medali ini bukan emas murni, dan lagipula, medali-medali ini masih harus
dilebur lagi.”
Darius terdiam bingung.
“Kalau seperti itu, saya harus berunding dulu,” Darius
mengantongi kembali medali-medali itu, dan beranjak meninggalkan toko.
“Yus! Darius, tunggu!” Langkah Darius terhenti, dia
menoleh.
“Hei, kau lupa sama aku?” Darius menatap laki-laki
yang baru keluar dari dalam toko itu. Sepertinya tidak asing.
“Aku Beny, Beny Sitorus, yang duduk di sebelah kau
waktu SMA dulu,” kata laki-laki itu lagi dengan logat Batak yang kental.
Senyum
Darius mengembang, sekarang dia ingat laki-laki di hadapannya ini.
“Sudah lama kita nggak ketemu, aku hampir tak
mengenalimu.”
Mereka berjabatan tangan, tertawa akrab.
“Aku juga sudah hampir lupa, kalau tadi tak kulihat
medali-medali yang ditunjukkan sama si Guntur ini. Tiba-tiba saja aku ingat
kau, dulu kau setamat SMA kan langsung masuk pelatnas Jakarta.”
“Ayo, masuklah dulu! Kita cerita-cerita dulu di
dalam,” Beny membukakan pintu kayu yang memisahkan pembeli dari bagian dalam
toko emas itu.
***
Hari ini Tari akan dioperasi. Darius sudah meminta
izin cuti dari kantornya untuk menemani istrinya menunggui Tari di rumah sakit
selama operasi berlangsung.
Darius bersyukur karena keputusannya untuk menjual
medali telah membawa berkah untuknya. Dia memang tidak menjual medali-medalinya
kepada Beny, tetapi sahabat baiknya semasa SMA itu telah membantunya
mendapatkan biaya operasi untuk Tari. Beny mengenalkannya pada seorang temannya
yang merupakan salah satu petinggi negara yang membawahi departemen olahraga,
khususnya pembinaan olahraga daerah.
Pejabat pemerintahan itu merasa simpati
dengan masalah yang dihadapi Darius, dan dia telah berjanji kalau pemerintah
akan membantu biaya operasi Tari. Sebagai gantinya, Darius akan menyerahkan
medali dan plakat penghargaan yang pernah diterimanya ke museum olahraga
nasional.
Darius telah mengikhlaskan benda-benda kenangannya
yang paling berharga menjadi milik negara. Yang ada dipikirannya sekarang hanyalah
sebaris doa : semoga operasi Tari bisa berhasil dan putrinya bisa sembuh
kembali. Amin!
*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar