Sabtu, 16 April 2016

Medali

Pukul satu tengah malam. Hujan deras yang mengguyur bumi sejak sore tadi masih menyisakan gerimis. Titik-titik airnya yang jatuh menimpa genteng rumah terdengar halus memecah kesunyian malam yang pekat. Darius terbangun dalam keremangan lampu kamarnya, dia mendapati istrinya tidak ada di sampingnya. Darius turun dari tempat tidurnya, dia tahu ke mana istrinya perig malam-malam begini.

Dugaannya benar, istrinya ada di kamar putri mereka, duduk di samping ranjang, memandangi kedua putrinya yang terlelap. Sudah beberapa hari ini istrinya selalu terbangun tengah malam, dan mendatangi kamar  anak-anaknya. Sesekali dia terlihat mengusap matanya. Darius tidak ingin mengganggu istrinya, dia meninggalkan kamar putrinya tanpa suara, kembali ke kamarnya sendiri.

Kantuknya hilang sudah, pikiran tentang putrinya mengganggu di kepalanya. Beberapa bulan terakhir ini Tari sering mengeluh sakit kepala. Darius tidak terlalu cemas, dia menganggap sakit kepala putri sulungnya itu karena terlalu lelah memikirkan pelajaran sekolahnya. Tetapi seminggu yang lalu Tari pingsan di sekolah, dan Darius tidak bisa tidak cemas, karena dari hasil pemeriksaan CT Scan, ternyata ada tumor di otak Tari.  Dokter menyarankan satu-satunya jalan penyembuhan adalah operasi, tetapi biayanya benar-benar membuat Darius mengelus dada, dua ratus juta. 

Dari mana dia mendapat uang sebanyak itu? Dia memang memiliki sedikit tabungan, tetapi itu tidak cukup. Bahkan jika ditambah dengan rumah dan seluruh isinya dijual, nilainya belumlah sampai dua ratus juta.

“Cobalah cari pinjaman dari kantor Bang,” pinta istrinya tiga hari yang lalu. Darius masih belum melakukan permintaan istrinya. Dia ragu, apakah perusahaan bersedia meminjamkan uang dalam jumlah yang sangat besar, sedangkan dia hanyalah seorang supir. Tetapi, sepertinya itulah satu-satunya harapan yang tersisa untuk menyelamatkan nyawa Tari. Maka, Darius bertekad hari ini dia harus mencoba bicara dengan atasannya.


“Dua ratus juta?” ulang Klara, manajer sekaligus atasan Darius, dengan nada terkejut; reaksi yang sudah hampir bisa ditebak Darius ketika dia masuk dan menceritakan keadaan putrinya.

“Perusahaan tidak mungkin memberi pinjaman sebesar itu, bagaimana Bapak bisa membayarnya? Kerja seumur hidup pun belum tentu Bapak bisa melunasinya.” 
Jawaban yang menyakitkan, tetapi dalam hati Darius terpaksa mengakui kebenaran kata-kata itu.

“Pak Yus, awas!” teriakan Adi, rekannya sesama supir, membuat Darius tersentak kaget, refleks dia menginjak rem. Terlambat, bumper depan mobilnya terlanjur menabrak setumpuk kaca yang tersandar di dinding. Wajah Darius memucat.

“Ini sudah keterlaluan. Seminggu ini Pak Yus sudah dua kali memecahkan kaca. Bapak tahu berapa harga kaca-kaca? Ini tidak bisa ditolerir lagi. Gaji Pak Yus akan kami potong untuk mengganti kerugian perusahaan akibat keteledoran Bapak itu,” kata Klara tegas. 
Darius menghela nafas panjang, dia hanya bisa diam dan pasrah menerima semua keputusan yang tak terbantah itu.


“Bagaimana Bang? Berhasikah mendapatkan pinjaman dari kantor?” tanya istrinya penuh harap ketika menyambut Darius pulang sore itu. Darius memandang istrinya gundah, perlahan dia menggeleng. Melihat gurat kekecewaan di wajah istrinya, Darius tidak tega menceritakan masalah yang dialaminya di kantor.

“Di mana anak-anak?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.
“Marni ke rumah temannya, katanya mau pinjam pe-er. Tari di kamar, tadi siang sepulang sekolah, dia mengeluh kepalanya pusing.”
“Sudah minum obat?” tanya Darius khawatir.
“Sudah, mungkin sekarang masih tidur.”
Darius mengabaikan rasa capeknya dan berjalan menuju kamar putrinya. Tari masih terlelap. Darius menatap wajah putrinya dengan perasaan getir. Tari anak yang cerdas. Prestasi belajarnya di sekolah selalu bagus, rankingnya tidak pernah keluar dari dua besar. Kelahirannya dua belas tahun yang lalu membawa kehangatan dalam keluarga Darius yang sudah menanti kehadirannya selama lima tahun. Itulah sebabnya Darius memberinya nama Mentari.

Tari belum tahu tentang penyakit yang menggerogoti kepalanya, Darius dan istrinya belum berterus terang kepadanya. Dokter memang mengatakan kalau daging yang tumbuh dalam kepala Tari bukan jenis yang ganas, tetapi kalau tidak segera dibuang juga bisa membahayakan jiwanya. Darius benar-benar tak tega membayangkan bagaimana nanti kepala putri kecilnya harus dibelah di ruang operasi. Tanpa disadarinya, tahu-tahu matanya sudah basah.


Kotak hitam beludru itu masih tersimpan di sudut dalam laci kecil di dalam lemari pakaian, sudah lama tak tersentuh. Darius meniup pelan lapisan debu tipis yang menyelubungi kotak. Sinar kuning keemasan memantul dari dalam ketika Darius membuka kotak itu. Dia mengambil sebuah medali dari dalam kotak. Ingatannya melayang kembali ke dua puluh dua tahun silam, saat-saat paling membanggakan dalam hidupnya, saat dia meraih medali emas pertamanya di kejuaraan nasional angkat besi di Jakarta. 

Dulu dia adalah salah satu manusia terkuat di tanah air, bahkan di asia. Puluhan medali sudah diraihnya, dari perunggu hingga emas, dari berbagai ajang pertandingan, baik tingkat nasional maupun internasional.

Tetapi setelah lima belas tahun berlalu, ketika dia merasa staminanya semakin menurun dan memutuskan untuk berhenti, segala kebanggaan itu mulai luntur. Keberhasilannya selama belasan tahun mengharumkan nama bangsa mulai dilupakan, dia merasa diabaikan. 
Bahkan bonus sebuah rumah mewah yang pernah dijanjikan untuknya tidak pernah dia terima. Hingga kini, Darius hanya memiliki sebuah rumah petak di daerah pinggiran kota dan sebuah sepeda motor tua yang masih setia menemaninya ke mana-mana. Dia tidak pernah mengecap bangku kuliah, juga tidak memiliki keahlian khusus, sehingga hanya bisa menjadi supir.

“Bang, makan dulu yuk!”  Panggilan istrinya membuyarkan lamunan Darius.
“Mi, aku mau menjual medali-medali ini,” kata Darius mengabaikan ajakan istrinya.
“Dijual? Untuk apa Bang?” tanya Ismi kaget.
“Untuk biaya operasi Tari.”
“Tapi, bukankah medali-medali itu sangat berarti buat Abang?”
“Saat ini, tidak ada yang lebih penting daripada kesembuhan Tari. Jika medali-medali ini bisa menyelamatkan nyawa Tari, aku rela,” kata Darius pasrah.


“Apa? Hanya lima juta?” ulang Darius tak percaya. Medali-medali kesayangannya hanya dihargai lima juta?
“Tidak bisa lebih tinggi?” tanyanya. Penjaga toko emas itu menggeleng.
“Maaf Pak, kata bos saya, kandungan emas dalam medali-medali ini bukan emas murni, dan lagipula, medali-medali ini masih harus dilebur lagi.”
Darius terdiam bingung.
“Kalau seperti itu, saya harus berunding dulu,” Darius mengantongi kembali medali-medali itu, dan beranjak meninggalkan toko.

“Yus! Darius, tunggu!” Langkah Darius terhenti, dia menoleh.
“Hei, kau lupa sama aku?” Darius menatap laki-laki yang baru keluar dari dalam toko itu. Sepertinya tidak asing.
“Aku Beny, Beny Sitorus, yang duduk di sebelah kau waktu SMA dulu,” kata laki-laki itu lagi dengan logat Batak yang kental. 
Senyum Darius mengembang, sekarang dia ingat laki-laki di hadapannya ini.
“Sudah lama kita nggak ketemu, aku hampir tak mengenalimu.” 
Mereka berjabatan tangan, tertawa akrab.
“Aku juga sudah hampir lupa, kalau tadi tak kulihat medali-medali yang ditunjukkan sama si Guntur ini. Tiba-tiba saja aku ingat kau, dulu kau setamat SMA kan langsung masuk pelatnas Jakarta.”
“Ayo, masuklah dulu! Kita cerita-cerita dulu di dalam,” Beny membukakan pintu kayu yang memisahkan pembeli dari bagian dalam toko emas itu.
***
Hari ini Tari akan dioperasi. Darius sudah meminta izin cuti dari kantornya untuk menemani istrinya menunggui Tari di rumah sakit selama operasi berlangsung.
Darius bersyukur karena keputusannya untuk menjual medali telah membawa berkah untuknya. Dia memang tidak menjual medali-medalinya kepada Beny, tetapi sahabat baiknya semasa SMA itu telah membantunya mendapatkan biaya operasi untuk Tari. Beny mengenalkannya pada seorang temannya yang merupakan salah satu petinggi negara yang membawahi departemen olahraga, khususnya pembinaan olahraga daerah. 

Pejabat pemerintahan itu merasa simpati dengan masalah yang dihadapi Darius, dan dia telah berjanji kalau pemerintah akan membantu biaya operasi Tari. Sebagai gantinya, Darius akan menyerahkan medali dan plakat penghargaan yang pernah diterimanya ke museum olahraga nasional.

Darius telah mengikhlaskan benda-benda kenangannya yang paling berharga menjadi milik negara. Yang ada dipikirannya sekarang hanyalah sebaris doa : semoga operasi Tari bisa berhasil dan putrinya bisa sembuh kembali. Amin!

*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar