Minggu, 17 April 2016

Saat Mario Pergi

“Dasar orang edan!”
“Ada apa Nda? Baru datang sudah marah-marah.”
“Orang lain berjuang susah payah untuk bertahan hidup, dia malah mau mati!” Amanda meneruskan omelannya tanpa menghiraukan pertanyaan Nina.
“Siapa yang mau mati?”
“Itu, pasien kamar 305. Sudah dua hari ini dia tidak mau makan. Tadi, dia mencoba mencabut selang infusnya. Untung aku sempat mencegahnya.”
“Sekarang keadaannya gimana?”
“Sudah tidur. Tadi kusuntik obat penenang.”
“Ya sudah. Jangan emosi lagi. Masih banyak pasien lain yang harus dijenguk. Aku pulang dulu ya.”
Nina meninggalkan Amanda sendirian di ruang perawat. Tugasnya untuk hari ini sudah selesai. Amanda dan Rasti akan menggantikannya untuk tugas jaga malam. Tapi Rasti masih belum kelihatan. Mungkin agak terlambat.

Nina membuka perlahan pintu kamar 305. Dia penasaran dengan pasien yang disebutkan Amanda tadi. Seorang laki-laki muda sebaya dengannya. Nina mendekat, memperhatikan wajah yang tertidur pulas. Pengaruh obat yang diberikan Amanda sepertinya akan bertahan sampai besok pagi. Wajahnya bersih, cukup tampan. Tapi mengapa dia begitu putus asa sampai ingin mengakhiri hidupnya?


“Manda, boleh kulihat data pasien yang di kamar 305?”
“Pasien sinting itu? Kenapa, kamu penasaran dengan dia?” 
Amanda menyodorkan sebuah map kuning kepada Nina. Nina hanya tersenyum tidak menjawab.
Namanya Michael. Umur 25 tahun. Masuk ke sini seminggu yang lalu karena demam tinggi. Diagnosa sementara gejala tifus. Lembar kedua adalah hasil pemeriksaan darah dari laboratorium. 
Mata Nina terbelalak membaca hasil yang tertulis di atas kertas. Dia mendekatkan wajahnya ke kertas, untuk meyakinkan penglihatannya. Positif HIV!
***
“Suster, jangan dibuka tirainya!”
“Hai, pagi. Sudah bangun ya? Bagaimana tidurmu semalam? Nyenyak?” sapa Nina ramah seolah tidak mendengar apa yang baru dikatakan Michael.
“Tolong,  jangan dibuka tirainya!” ulang Michael lagi, agak keras.
“Tirai ini harus dibuka supaya sinar matahari bisa masuk ke dalam. Lagipula matahari pagi itu menyehatkan, jadi kamu bisa lebih cepat sembuh,” jawab Nina tenang.
“Percuma saja, aku tidak akan pernah sembuh. Aku akan segera mati!”
“Setiap orang akan mati. Hanya masalah waktu, siapa yang lebih cepat, siapa yang belakangan. Apa kamu pikir kamu bisa mendahului takdir dengan mencoba bunuh diri dengan tidak makan dan mencabut selang infusmu? Itu mati konyol namanya!” tukas Nina tajam.
“Tapi kamu tidak tahu apa yang terjadi padaku,” kata Michael, meratap. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan, menangis.
“Saya tahu, sangat tahu. Saya juga pernah bertemu pasien lain yang keadaannya jauh lebih parah dari kamu, tapi dia lebih tegar, tidak sepertimu.” 
Nina menatap Michael lekat. Tidak ada tampang kriminal atau pecandu narkoba. Tetapi mengapa bisa terkena penyakit yang masih dianggap aib oleh kebanyakan orang?
“Kenapa memandangiku seperti itu?”
“Heran saja. Ganteng-ganteng kok cengeng,” jawab Nina ringan. 
Mau tak mau Michael tersenyum mendengar jawaban Nina. 
Sebuah awal yang bagus. Semoga keputusannya bertukar tempat dengan Amanda untuk menjaga pasien ini tidak salah. Kata-katanya tadi mungkin terlalu keras, tapi menghadapi pasien yang putus asa seperti ini memang harus begitu. Itu yang pernah dia pelajari dari kakaknya yang menjadi psikolog.
“Jangan lupa habiskan sarapannya,” pesan Nina sebelum keluar dari kamar.

“Pagi, Suster Nina!”
“Pagi Mario! Wah, kamu sudah rapi ya? Sudah sarapan?”
“Sudah. Tadi Suster Lidya yang membantu. Suster, lihat ini, aku punya krayon dan buku gambar baru. Kemarin Ibu membelikannya untukku. Suster, temani aku menggambar ya?” pinta Mario manja.
“Boleh, tapi jangan sekarang ya. Suster Nina mau mengajak kamu jalan-jalan dulu. Mau?”
“Mau. Asyiiik!” Mario bertepuk tangan riang. Nina menggendongnya dan mendudukkannya di atas kursi roda.
“Kita mau ke mana ?”
“Hari ini Suster mau mengajak kamu kenalan sama teman baru.”
“Cantik nggak?”
“Dia itu laki-laki sayang.” Nina tertawa.
“Pacar Suster ya?” tanya Mario polos.
“Hush! Kecil-kecil sudah tahu pacaran. Bukan. Dia itu teman Suster.”
Mario terus bercerita selama Nina mendorong kursi rodanya.

“Halo Michael. Bagaimana, sudah merasa baikan?” Nina tersenyum senang saat melirik ke meja. Michael sudah menghabiskan sarapannya.
“Siapa dia?” Michael memandang Mario heran.
“Ini Mario. Saya ajak ke sini supaya kamu punya teman ngobrol. Daripada kamu bosan sendirian. Ayo Mario, kenalan dulu, ini namanya Om Michael.” Nina mendorong kursi roda Mario mendekati ranjang Michael.
Keduanya cepat akrab. Nina tersenyum senang, Michael sepertinya menyukai anak kecil.
“Saya masih harus memeriksa pasien lain. Kalian ngobrol saja dulu ya. Mario, jangan kecapekan ya. Kalau ada apa-apa, panggil Suster. “
 ***
“Sus, Mario ke mana? Kok nggak diajak ke sini?”
“Hari ini dia harus menjalani kemoterapi. Jadi tidak bisa dibawa keluar.”
“Sebenarnya dia sakit apa?”
“Kanker tulang.”
“Kanker? Bagaimana mungkin?” Michael terkejut. Bocah kecil yang periang itu, siapa menduga dia sedang menderita penyakit mengerikan yang bisa merenggut nyawanya setiap saat.

Mario masuk rumah sakit Dharma Kasih enam bulan yang lalu dalam kondisi kritis, karena kanker tulang yang menggerogoti tubuhnya sudah mencapai stadium tiga. Kaki kirinya harus diamputasi sebatas lutut untuk menyelamatkan jiwanya. Sebuah pilihan yang sangat berat untuk anak kecil yang baru berusia 8 tahun. Saat terbangun setelah operasi dan mengetahui kakinya yang telah hilang, Mario sempat menangis berhari-hari. Dia baru tenang setelah orang tuanya berjanji akan membelikan kaki palsu untuknya agar dia bisa berjalan lagi seperti dulu. 
Sebuah janji yang sulit dipenuhi. Orang tuanya hanya guru SD di sebuah sekolah negeri yang penghasilannya tidak seberapa. Bahkan semua biaya pengobatan Mario ditanggung oleh Yayasan Kanker Indonesia.

Dengan diamputasinya kaki kiri Mario, tidak berarti penyakitnya langsung sembuh. Dia harus rutin menjalani kemoterapi sebulan sekali untuk membunuh sel-sel kanker yang sudah menyebar di hampir seluruh bagian tubuhnya. Belum lagi belasan butir obat yang harus masuk ke lambungnya setiap hari.

Mario adalah pasien istimewa di rumah sakit ini. Dia menjadi kesayangan semua dokter dan perawat. Semangat hidupnya sangat tinggi. Walaupun tidak bisa melanjutkan sekolah karena penyakitnya, tapi dia tetap rajin belajar. Setiap sore jika orang tuanya datang, dia selalu minta diajarkan tentang pelajaran yang baru diberikan di sekolah hari itu. Dia selalu bilang ingin menjadi pemain bola terkenal. Selain cerdas, dia juga periang. Dia paling suka jika diajak berkeliling menjenguk pasien-pasien lain.

“Biasanya setiap pasien yang sudah mengenalnya, penyakitnya akan cepat sembuh. Contohnya kamu,” Nina tertawa kecil memandang Michael yang hanya tersenyum.
“Sekarang kamu mengerti kan kalau nasibmu masih lebih beruntung?”
“Siapa bilang nasibku lebih beruntung?” tiba-tiba Michael menjadi sinis. Dia memalingkan wajahnya menghindari tatapan Nina.
“Kamu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku. Mario punya orang-orang di sekelilingnya yang menyayangi dia, sedangkan aku..?”
“Kalau kamu mau, kamu boleh cerita. Saya akan mendengarkan.”

Michael mulai menuturkan kisah hidupnya. Dibesarkan dalam keluarga broken home, Michael tidak mengenal ibu kandungnya, yang meninggalkan dia dan ayahnya saat usianya tiga tahun demi laki-laki lain. Ayahnya menikah lagi dengan perempuan lain yang kini menjadi ibu tirinya. Walaupun berlimpah harta, tapi Michael tidak pernah merasakan kasih sayang ayahnya yang selalu sibuk dengan bisnisnya, apalagi ibu tirinya yang tidak punya pekerjaan lain selain menghamburkan uang ayahnya. Setahun yang lalu, Michael mengalami kecelakaan mobil, lukanya cukup parah dan membutuhkan transfusi darah. Itulah awal petaka yang menimpanya sekarang.

“Kamu tahu? Selama aku di sini, tidak ada seorang pun yang menjengukku. Bahkan pacarku, Via, menghilang begitu saja setelah mengetahui aku positif  terkena AIDS,” Michael mengakhiri ceritanya dengan sedih.
“Kamu percaya kan kalau Tuhan itu Maha Adil? Buktinya, kamu dirawat di sini, dan bisa bertemu Mario. Setidaknya kamu bisa belajar dari dia, bagaimana menghargai hidup yang singkat ini dan tetap bersemangat, karena itulah hal yang paling penting agar kita bisa tetap kuat dan bertahan.”
Michael terdiam merenungkan kata-kata Nina.
“Aku minta maaf ya, karena sudah berpikiran buruk tentangmu,” ujar Nina setelah beberapa saat. Michael menatap Nina bingung.
“Kupikir kamu seorang pecandu,” lanjut Nina hati-hati, takut menyinggung perasaan Michael.
Di luar dugaan, Michael tertawa.
“Walaupun hidupku berantakan, tapi aku tak pernah berniat mencoba barang haram itu.”
 ***
“Suster Nina.” Nina menoleh, mencari sumber suara yang memanggil namanya.
“Michael?” serunya senang. Laki-laki itu keluar dari rumah sakit seminggu yang lalu. Dia kelihatan sehat, wajahnya segar, tidak seperti ketika Nina melihatnya pertama kali.
“Apa kabar? Tumben kemari. Nggak sakit lagi kan?”
“Aku sudah lebih sehat, tapi masih harus terus minum obat. Terima kasih karena kamu dan Mario sudah menyadarkanku. Maaf, boleh aku memanggilmu Nina saja?” Nina tersenyum mengangguk..
“Aku mau menjenguk Mario. Aku punya kabar gembira untuknya.”
“Apa itu?”
“Ada sebuah yayasan yang mengadakan program 1000 kaki palsu untuk orang-orang cacat yang tidak mampu. Aku sudah mendaftarkan nama Mario dan sudah disetujui. Mudah-mudahan dalam dua bulan ini kaki palsu itu sudah siap dan bisa digunakan.”
“Benarkah? Ini kabar yang sangat bagus. Ayo, kita harus memberitahukannya pada Mario. Dia pasti senang sekali.” Nina menarik tangan Michael tak sabar menuju kamar Mario.

***

Hari ini semua orang di rumah sakit Dharma Kasih berduka. Bahkan langit juga ikut menangis. Hujan lebat seolah ditumpahkan dari langit mengguyur bumi sejak pagi. Mario, bocah kecil periang itu telah kembali pada Penciptanya. Tubuh kecilnya tidak mampu menahan efek samping dari kemoterapi yang harus dijalaninya berulang kali. Padahal itu adalah terapi yang terakhir, dan menurut dokter, kondisinya sudah membaik. Tetapi tidak ada yang bisa melawan kuasa takdir. Justru setelah terapi yang terakhir itu, keadaan Mario tiba-tiba memburuk dan koma selama dua hari. 
Sepertinya Tuhan masih menyayangi Mario, karena Dia tidak membiarkan Mario meninggal dalam kesakitan. Mario masih bisa tersenyum pada semua orang di dekatnya, orang tuanya, Nina, juga Michael, sebelum menutup matanya untuk selamanya.

Michael menangis dalam pelukan Nina. Kali ini dia tidak peduli bila ada yang menyebutnya cengeng. Dia benar-benar sedih dan terpukul dengan kepergian Mario.
“Padahal seminggu lagi kaki palsu untuk Mario akan sampai. Dan aku juga sudah membawa hadiah ini untuknya.” 
Michael menunjukkan sepasang sepatu olahraga dan kaos merah bergaris hitam, ada tulisan Kaka, 22, di punggungnya – pemain bola dunia idola Mario.

“Takdir sudah ditentukan, kita tidak bisa melawannya,” Nina mencoba menghibur, tapi dia juga merasakan kepedihan yang sama besarnya dengan Michael.

*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar