25 tahun yang lalu,
Kita bertemu,
Berkenalan,
Saling jabat tangan,
Saling sebut nama,
Hari itu, kita menjadi sahabat.
3 tahun kita bersama,
Menjalani hari penuh warna,
Kita tertawa bersama,
Berbagi canda,
Kadang kita berdebat,
Bahkan juga bertengkar,
Tetapi, kita tetap sahabat.
Waktu berlalu,
Masa remaja terlewati sudah,
Kita pun harus berpisah,
Menempuh jalan berbeda,
Untuk mengejar cita-cita dan impian kita,
Namun, walau terpisah jarak ribuan mil,
Kita tetap sahabat.
Tahun berganti,
Kehidupan berubah,
Kesibukan membuat kita kekurangan waktu,
Kita tak sempat lagi bertukar kabar, berbagi kisah,
Persahabatan kita merenggang.
Hingga suatu hari, 2 tahun yang lalu,
Seorang teman membawa berita duka,
Engkau sedang sakit, sangat parah,
Berbagai obat yang kautelan, juga yang disuntikkan ke tubuhmu,
Tak mampu melawan penyakit yang menderamu,
Helai demi helai rambutmu ikut luruh,
Engkau semakin lemah.
Takdirmu begitu berat,
Usiamu masih muda,
Engkau sedang dalam masa emasmu,
Karir yang cemerlang,
Keluarga yang bahagia,
Tiba-tiba semuanya seolah direnggut darimu,
Akhirnya,
Engkau sampai pada ujung jalanmu,
Walau semangat hidupmu masih berkobar,
Tetapi tubuhmu telah menyerah,
Engkau harus pergi,
Meninggalkan semua yang kaucintai,
Walau hatimu tak rela.
Setahun yang lalu,
Kami melepasmu dalam kesedihan,
Mengiringi kepergianmu dengan doa,
Semoga engkau terbebas dari penderitaan dan menuju alam bahagia.
Setahun berlalu,
Hidup terus berjalan,
Kami telah berdamai dengan kesedihan dan duka masa lalu,
Kami telah merelakan kepergianmu,
Semoga engkau juga telah bahagia di sana.
Hari ini, kami mengenang kembali dirimu,
Memutar memori tentang kebersamaan kita dahulu,
Rindu perlahan menyeruak,
Kami akan selalu mencintaimu,
Walau dunia kita terpisah,
Kita adalah sahabat,
Selamanya.
(Setahun dalam kenangan :
Lily Chandia Halim
23 Apr 1976 - 4 Nov 2015)
hanya sekelumit cerita dari hati yang dirangkai secara sederhana untuk dinikmati bersama.
Jumat, 04 November 2016
Kamis, 28 Juli 2016
Lamunan Senja
Suatu senja, seorang perempuan tua termenung di teras rumah
kayu sederhana,
Tubuh rentanya terbalut baju putih dan kain sarung berwarna
coklat,
Dengan rambut kelabunya yang tergelung rapi,
Wajah keriputnya tampak segar selepas mandi,
Walaupun sedikit terlalu putih oleh taburan bedak.
Tangan rapuhnya memegang cangkir berisi teh hangat,
Kadang sepiring ubi rebus ikut menemaninya melewati petang,
Mata rabunnya menatap hampa ke jalan,
Memerhatikan mobil dan motor yang berlalu di hadapannya,
Pikirannya menerawang jauh ke belakang,
Mengenang pahit kehidupan di masa lalu.
Dulu, dulu sekali, di masa mudanya,
Dia pernah merasakan kerasnya kehidupan di jalan,
Ditinggal mati suami karena perang,
Menjadi janda di usia belia,
Bekerja serabutan,
Mengasong dari terminal ke terminal,
Bergelut di bawah terik matahari dan dinginnya hujan,
Demi sesuap nasi,
Yang kadang bahkan tak cukup mengenyangkan perut
anak-anaknya.
Hidup berpindah dari gubuk ke gubuk,
Pernah diusir karena tak mampu membayar uang sewa,
Membuatnya harus tidur beralas tanah dan beratap langit,
Ditemani nyanyian nyamuk yang berdengung di telinganya setiap malam.
Namun dia tak pernah menyerah,
Tekadnya sekeras baja,
Berjuang agar buah hatinya bisa hidup bahagia,
Makan kenyang, tidur nyenyak, sekolah tinggi,
Agar kelak tidak luntang-lantung seperti dirinya.
Kini, tujuan hidupnya telah tercapai,
Anak-anaknya telah menjadi orang,
Hidup senang dan nyaman,
Makan cukup, tidur di kasur empuk,
Tak perlu khawatir kelaparan, kepanasan dan kehujanan.
Walau kadang dia dilanda sepi,
Dadanya sesak oleh rindu yang mendera batin,
Anak cucunya terlalu sibuk dengan urusan mereka sendiri,
Seakan melupakan keberadaannya di sini.
Tubuh tuanya memang sudah lemah,
Tulangnya sudah lapuk,
Dia sudah tak berguna, tak bisa bekerja lagi,
Anak-anaknya sudah tak membutuhkannya lagi,
Mereka tak menghiraukannya lagi,
Meninggalkannya sendirian di sini.
Ah, dia merindukan saat-saat dulu,
Ketika anak-anaknya masih kecil, masih di sisinya,
Meskipun mereka selalu kekurangan,
Tetapi mereka selalu bersama, tak pernah terpisah.
Langit semakin kelam,
Senja telah berlalu,
Malam segera datang menjemput,
Jalan mulai lengang,
Perempuan tua itu masih termenung menatap langit.
Tiba-tiba bibirnya menyunggingkan senyum,
Matanya berbinar,
Raut wajah ceria yang sudah hilang sekian tahun muncul
kembali.
Dia melihatnya di sana, di atas langit malam,
Sang suami tersenyum memandangnya,
Sorot matanya menyiratkan keteduhan,
Tatapan yang pernah sangat dicintainya,
Hadir lagi di hadapannya.
Perempuan tua itu mengulurkan tangan,
Menyambut kekasih hati,
Yang datang menjemputnya,
Menggandeng tangannya,
Mengajaknya pergi,
Menembus kegelapan,
Menghapus segala keresahan hatinya,
Bersama, menuju keabadian.
*****
Selasa, 10 Mei 2016
Hujan
Hujan,
mengingatkan aku pada hari itu,
pada dirimu,
pada kenangan indah kita yang terjalin saat itu.
Kita berjalan bersama,
berboncengan di atas motormu,
menembus malam,
di bawah siraman air yang tumpah dari langit.
Kita basah,
tetapi kita tertawa bahagia,
hatiku terasa hangat,
dalam dekapan cintamu.
Hari ini,
aku memandang awan kelabu yang menggantung di langit,
angin berhembus membelai kulitku
tetes air hujan membasahi tubuhku.
Aku menggigil kedinginan,
menangis dalam diam,
air mata mengalir bersatu dengan air hujan membasahi wajah.
Engkau pergi,
cintamu berlalu,
membawa serta cintaku,
bahagiaku lenyap,
sedih melanda,
membekukan hatiku,
menjadi dingin, sedingin malam yang kelam.
mengingatkan aku pada hari itu,
pada dirimu,
pada kenangan indah kita yang terjalin saat itu.
Kita berjalan bersama,
berboncengan di atas motormu,
menembus malam,
di bawah siraman air yang tumpah dari langit.
Kita basah,
tetapi kita tertawa bahagia,
hatiku terasa hangat,
dalam dekapan cintamu.
Hari ini,
aku memandang awan kelabu yang menggantung di langit,
angin berhembus membelai kulitku
tetes air hujan membasahi tubuhku.
Aku menggigil kedinginan,
menangis dalam diam,
air mata mengalir bersatu dengan air hujan membasahi wajah.
Engkau pergi,
cintamu berlalu,
membawa serta cintaku,
bahagiaku lenyap,
sedih melanda,
membekukan hatiku,
menjadi dingin, sedingin malam yang kelam.
Minggu, 08 Mei 2016
Hanya Sebatas Impian
Macet lagi!
"Huff..!" Jasmine menghembuskan nafas kesal.
Sudah sepuluh menit angkot yang ditumpanginya terjebak macet, tidak bisa bergerak seinci pun. Stuck total!
Kalau begini, dia pasti terlambat lagi. Sudah dua hari ini dia terlambat terus, dan mendapat pelototan dari Mbak Lisna, asisten kepala HRD.
Hei, bukan maunya dia untuk terlambat! Selama ini - selama setahun dia bekerja di sini - dia juga belum pernah terlambat. Dia selalu berangkat dari rumah jam tujuh lewat seperempat, berjalan kira-kira lima menit ke halte di depan komplek rumahnya, ditambah beberapa menit waktu untuk menunggu mobil angkutan umum, paling lama empat puluh menit pasti sudah sampai ke kantor - dan masih ada waktu lima menit sebelum jam kerja dimulai.
Hei, bukan maunya dia untuk terlambat! Selama ini - selama setahun dia bekerja di sini - dia juga belum pernah terlambat. Dia selalu berangkat dari rumah jam tujuh lewat seperempat, berjalan kira-kira lima menit ke halte di depan komplek rumahnya, ditambah beberapa menit waktu untuk menunggu mobil angkutan umum, paling lama empat puluh menit pasti sudah sampai ke kantor - dan masih ada waktu lima menit sebelum jam kerja dimulai.
Tetapi dua hari ini, entah kenapa, jalan begitu macet. Puluhan, atau mungkin juga ratusan kendaraan, mulai dari mobil, motor, bahkan becak, berjubel memenuhi jalan. Sampai-sampai dia mengira ada konvoi mobil pejabat atau kecelakaan. Bahkan kemarin, baru lima menit dia menaiki angkot yang biasa ditumpanginya, kemacetan sudah menghadang di depan, sepanjang jalan, sebelum persimpangan empat Tritura hingga simpang Avros. Angkotnya merayap seperti kura-kura, - rasanya jalan kura-kura masih lebih cepat.
Oke, yang terakhir ini agak hiperbola. Tapi, macetnya benar-benar keterlaluan. Alhasil, dia baru sampai di kantor satu jam kemudian, dan dipelototi Mbak Lisna lagi.
"Sudah tahu macet, kenapa nggak berangkat lebih pagi?" tegur Mbak Lisna kemarin padanya.
Makanya, daripada terlambat lagi, terus didamprat Mbak Lisna lagi, lalu diadukan ke kepala HRD - yang ujung-ujungnya nanti pasti gajinya dipotong - Jasmine berencana pagi ini berangkat setengah jam lebih awal.
Tetapi, apa boleh buat, seperti kata pepatah, manusia berencana, Tuhan yang menentukan. Niatnya untuk bangun lebih pagi dan berangkat lebih pagi gagal, gara-gara semalam PLN yang melakukan pemadaman listrik - tak tanggung-tanggung, sampai lima jam. Ditambah lagi cuaca yang begitu panas karena sudah hampir seminggu ini tak hujan. Tanpa AC dan kipas angin, dia gerah dan kepanasan, tidak bisa tidur. Akhirnya, dia baru terlelap jam dua dini hari, setelah lampu menyala lagi.
Dan akibatnya, tentu saja, dia terlambat bangun. Saat dia membuka mata, langit sudah terang, sudah setengah tujuh lewat beberapa menit. Gara-gara kesal dengan PLN, dia lupa memasang alarm semalam. Sialnya, Mamanya - yang biasanya selalu bangun jam lima pagi - juga ikut-ikutan kesiangan. Ditambah lagi dengan acara berebut - satu-satunya - kamar mandi di rumahnya dengan Jefry, adik semata wayangnya yang masih duduk di kelas XII - walaupun akhirnya dia terpaksa mengalah pada sang adik yang sedang ujian akhir.
Akhirnya, pagi tadi, semua dilakukannya serba terburu-buru. Mandi ala kadarnya alias mandi bebek - asal siram yang penting basah. Dandan ala kadarnya, hanya berbedak dan lipstik - tanpa embel-embel maskara, eyeshadow dan blush on seperti biasanya. Sarapan juga ala kadarnya, hanya semangkuk sereal instan - bukan nasi goreng atau roti bakar yang biasa disiapkan Mamanya. Itu pun sudah menghabiskan waktu hampir setengah jam - biasanya malah bisa sampai satu jam baginya untuk melakukan ritual paginya itu.
Ketika dia keluar dari rumah tadi, jam sudah menunjukkan tujuh lewat sepuluh, Hanya lebih awal lima menit dari biasanya.
Dan sekarang - seperti halnya kemarin - baru lima menit jalan, mobilnya sudah terjebak di tengah-tengah jalan, tak bisa maju apalagi mundur.
Beberapa motor menyalip dari sisi kiri jalan, ada yang naik ke trotoar. Jasmine menatap iri ke arah mereka. Seandainya dia punya motor, dia pasti tak perlu takut terlambat.
Jasmine tersentak dari lamunannya. Mobil sedikit oleng. Rupanya sang supir melihat ada celah dan banting setir, mencoba mengambil lajur kiri, bersamaan dengan sebuah sepeda motor yang datang dari arah belakang.
"TEEET!"
Suara klakson motor terdengar memekakkan telinga.
Hampir saja kedua kendaraan itu berciuman seandainya saja sang supir tidak sempat menginjak rem. Akibatnya Jasmine - dan juga penumpang lain dalam mobil terdorong ke depan.
Suara deru mesin kendaraan yang sudah bising sekarang ditingkahi lagi dengan umpatan dari pengendara motor yang hampir tertabrak tadi. Tak mau kalah, sang supir juga ikut-ikutan marah dan mengumpat sambil menunjuk-nunjuk ke arah pengendara motor, walaupun suaranya tak bisa terdengar oleh penumpang yang duduk di belakang, karena mobil angkotnya memang model yang sudah tua - di mana pintu penumpang ada di belakang dan ada sekat kaca yang memisahkan supir dengan penumpang di belakang.
Dasar supir sinting, dia yang salah, dia pula yang marah-marah! Jasmine ikut mengumpat dalam hati.
Rentetan suara klakson dari belakang akhirnya membubarkan keributan kecil itu. Sang pengendara motor berlalu setelah menggeber motornya - sebagai luapan rasa marah yang tak terpuaskan.
Mobil akhirnya bisa melaju sedikit lebih kencang setelah berhasil masuk ke lajur kiri, walaupun agak melompat-lompat karena ban sebelah kirinya melindasi pinggir jalan tak beraspal yang berbatu-batu dan berpasir, dan lebih rendah dari badan jalan - membuatnya seakan sedang naik kuda.
Tetapi baru beberapa puluh meter, supir menginjak rem lagi - masih dengan gaya yang sama seperti tadi, tiba-tiba dan langsung sampai kandas - dan lagi-lagi membuat mereka yang duduk di belakang tersentak dan terdorong ke belakang.
Hahh! Sial benar dia hari ini, sudah kesiangan, ketemu supir edan lagi! Jasmine mendecak sebal. Dan sepertinya bukan hanya dia yang kesal, sebagian penumpang lain di sebelahnya juga menggerutu.
Ternyata mobil berhenti karena ada penumpang baru yang mau naik. Jasmine mengamati sejenak bangku di depannya, menghitung, ada enam orang, berarti sudah penuh. Sedangkan bangku di sisi yang dia duduki saat ini sudah ada lima orang termasuk dirinya, jadi masih bisa muat satu orang lagi.
Jasmine menggeser duduknya ke arah luar, bermaksud agar penumpang yang akan naik itu masuk dan duduk di sebelah dalam. Tapi belum dua detik, dia terpaksa bergeser lagi, kali ini lebih ke dalam, sampai ke ujung. Karena penumpang baru itu ternyata seorang ibu paruh baya bertubuh besar, membawa keranjang yang juga tak kalah besarnya. Rasanya tak mungkin si ibu mau masuk dan duduk di dalam apalagi paling ujung, sedangkan untuk naik ke mobil ini - yang pijakannya lumayan tinggi - sepertinya si ibu sudah kesusahan. Di tambah lagi keadaan dalam mobil angkot yang sempit dan penuh, sampai-sampai orang yang duduk berhadapan bisa laga lutut.
Jasmine meringis saat merasakan tubuhnya terhimpit ke dinding ketika si ibu akhirnya berhasil naik dan duduk di ujung luar dekat pintu. Dia merasa gerah, angkot ini benar-benar tua, dan sudah keropos. Bangkunya tak empuk lagi, kain pelapisnya koyak dan banyak tempelan, sebagian busanya bahkan terlihat mengintip keluar. Atapnya tidak dilapisi apapun, yang terlihat hanyalah rangka besinya yang sudah berkarat, dan ada titik-titik lubang kecil - yang kalau hujan, dia yakin mobil ini pasti bocor. Jendelanya kecil, kacanya tak bisa dibuka lagi.
Huhh! Dia benar-benar kepanasan. Satu-satunya lubang angin yang ada di dekat atap tak cukup besar untuk membawa angin masuk ke dalam mobil.
Jasmine menyeka titik-titik keringat yang bermunculan di dahi. Dia menguap beberapa kali.
Ah! Dia merindukan bantalnya lagi, tidurnya semalam belum terpuaskan.
Tiba-tiba Jasmine terpaku. Matanya tak berkedip menatap ke depan. Dia sampai lupa menurunkan tangannya yang masih menutupi mulutnya yang menguap tadi.
Oh My God! Mama! Dani Pedrosa datang ke Medan!
Ah, tentu saja itu mustahil. Mana mungkin seorang Dani Pedrosa datang ke sini, apalagi berdesak-desakan dalam angkot tua seperti ini. Tapi makhluk yang duduk tepat di depannya sekarang ini memang seperti kloningnya sang pembalap motogp dari negeri matador itu. Alis, hidung, bibirnya, nyaris sempurna. Wajahnya juga putih bersih, dengan rambut yang dipangkas rapi.
Yah, Jasmine memang sangat menggemari olahraga khas pria itu, meskipun hanya sebatas jadi penonton melalui televisi di rumah. Dan tentu saja dia punya pembalap favorit, siapa lagi kalau bukan Dani Pedrosa, si ganteng Little Spaniard dari Spanyol yang memakai nomor keramat 26.
Yang membedakan laki-laki di depannya dengan pembalap idolanya itu hanya penampilannya saja. Laki-laki tampan di hadapannya ini jelas tidak memakai baju pembalap. Penampilannya rapi, ala eksekutif muda, kemeja biru muda, celana panjang berbahan kain warna hitam, sepatu kulit hitam mengilap. Sebuah tas laptop ada di pangkuannya. Dan juga sebuah kotak makan.
Wow! Seorang laki-laki tampan dengan kotak bekalnya! Pasti dia adalah laki-laki yang baik dan penyayang keluarga. Kotak bekal itu pasti disiapkan oleh istrinya.
Eh, istri? Apakah laki-laki ini sudah menikah? Yah, mungkin saja. Laki-laki setampan dia tak mungkin masih menjomblo. Sungguh beruntung perempuan yang menjadi istrinya.
Jasmine meringis tanpa sadar memikirkan kalimat-kalimat yang berseliweran di kepalanya.
"TIIN...TIIIN!"
Suara klakson mobil membuyarkan lamunan Jasmine, mengembalikannya ke alam nyata. Dia mengerjap dan menoleh ke kiri. Untung dia duduk di sudut, dan tak ada yang memperhatikan sikapnya tadi. Dan untungnya juga laki-laki tampan yang jadi objek lamunannya tadi sedang memejamkan mata - sepertinya sedang tidur. Gila, merem saja sudah begitu ganteng, apalagi kalau melek.
"TIIIIIIN!"
Lagi-lagi klakson yang memekakkan kuping itu menghempaskannya dari alam khayal. Sampai-sampai dia, dan beberapa penumpang lain dalam angkot, menutup telinga.
Jasmine mengintip ke depan, melalui sekat kaca. Ah, mereka baru tiba di persimpangan Tritura. Lampu merah sedang menyala, dan kalau melihat arus kendaraan yang lewat, bakal lama baru lampu hijau, karena ini adalah persimpangan empat dan dilalui kendaraan dari empat arah. Dan angkot yang ditumpanginya ini ternyata berada di lajur kiri, jalurnya kendaraan yang mau belok ke kiri. Pantas saja mobil-mobil di belakang yang hendak belok ke kiri protes karena jalan mereka terhalang. Sang supir ngeyel juga, dia tak juga bergerak walau di belakang suara klakson semakin ramai bersahutan, bahkan ada yang berteriak menyuruh maju.
Tiba-tiba seorang polisi, entah dari mana muncul - barangkali dari pos polisi di seberang jalan - datang menghampiri. Sepertinya sang supir kelabakan, takut ditilang. Dia segera membelokkan mobil ke kiri sebelum polisi itu sempat menahannya. Dan itu artinya, mobil harus memutar balik dari belokan U Turn yang terletak beberapa ratus meter dari persimpangan ini. Sedangkan arus kendaraan dari sisi seberang jalan yang menuju ke persimpangan Tritura tidak bergerak sama sekali - karena terjebak lampu merah.
Jasmine berdecak jengkel. Mobilnya lagi-lagi harus berhenti di titik U Turn karena tidak bisa memotong antrian kendaraan yang begitu panjang.
Urgh! Supir tua ini benar-benar akan membuatnya terlambat.
Tak bisa berbuat apa-apa, Jasmine akhirnya memejamkan matanya, pasrah.
***
Jasmine terperangah, matanya terbelalak. Si Dani Pedrosa tersenyum padanya. Oke, dia berlebihan, terlalu mendramatisir. Yang tersenyum itu bukan Dani Pedrosa, tapi hanya duplikatnya. Tapi tetap saja dia kaget. Makhluk tampan di depannya ini kan tidak dikenalnya, tapi kenapa malah tersenyum padanya? Iya, padanya. Bukan pada orang di sebelahnya. Matanya jelas-jelas menatap ke depan, ke arahnya, bukan ke kiri, ke kanan, apalagi ke belakang. Dan senyumannya itu sukses membuat jantungnya mendadak dangdut.
Dia jadi salah tingkah. Apa dia harus membalas senyumnya? Kalau tak dibalas, berdosakah? Kalau dibalas, takutnya disangka ge-er.
Ah, kenapa dia jadi lebay begini? Itu kan cuma sebuah senyuman.
Akhirnya Jasmine membuang pandang, bersikap sewajar mungkin, seolah tak melihat senyuman itu. Walaupun agak susah - matanya yang sok genit, sebentar-sebentar melirik dan mencuri pandang ke depan. Dan astaga, laki-laki itu masih menatapnya dengan senyum yang masih melekat di bibirnya.
Gara-gara sibuk meredam debur jantungnya, Jasmine sampai lupa memerhatikan jalan. Dia baru ingat ketika mobil telah melewati kantornya beberapa meter dan segera memencet bel, bersamaan dengan sebuah tangan yang juga terulur menyentuh bel - ternyata tangan lelaki itu. Tangan mereka bersentuhan.
Jasmine tersentak, tangannya bagai tersengat listrik. Refleks dia dia menarik kembali tangannya. Dan laki-laki itu, masih dengan senyum yang sama, menyilakan dengan isyarat tangan agar dia turun terlebih dahulu. Semua penumpang sudah turun - entah kapan, dia tak menyadarinya - hanya tinggal mereka berdua.
"Mau nyeberang?"
Jasmine menoleh, laki-laki itu sudah berdiri di sampingnya.
"I..iya," sahut Jasmine hampir menyerupai bisikan. Sial, kenapa dia jadi gugup.
Laki-laki itu sekarang berpindah ke samping kanannya - seolah ingin melindunginya dari kendaraan yang datang dari arah kanan jalan satu arah ini. Ah, sungguh gentle.
"Ayo!"
Jasmine terpaku sejenak menatap tangan yang terulur itu, sebelum akhirnya memutuskan untuk mengabaikannya dan ikut menyeberang.
"Hei, tunggu!"
Jasmine menoleh.
"Kamu kerja di mana?"
"Di sana," Jamine menunjuk ke arah sebuah gedung bertingkat enam di sebelah kanan.
"Saya kerja di sini," laki-laki itu menunjuk ke gedung di hadapan mereka - yang adalah sebuah bank.
Aha, dia seorang bankir, batin Jasmine.
"Ternyata selama ini kita sangat dekat ya." Dia tertawa kecil, dan lagi-lagi sukses membuat Jasmine terpesona.
"Kenalkan, saya Bayu," dia mengulurkan tangannya.
"Jasmine."
Genggaman tangannya begitu hangat, membuat Jasmine enggan melepaskannya.
"Hp kamu ada?"
"Eh, untuk apa?"
Seketika Jasmine memasang sikap waspada. Wajarlah, mereka baru kenal beberapa menit yang lalu, masa sekarang orang ini mau meminta handphonenya. Yah, walaupun dia tampan, tapi tidak menjamin kalau dia orang baik kan?
Curiga itu tetap perlu, apalagi handphonenya baru dibelinya dua bulan yang lalu, cicilannya belum lunas pula.
"Jangan takut, saya bukan rampok kok."
Jasmine bisa merasakan wajahnya panas.
Waduh! Kenapa laki-laki ini bisa membaca pikirannya? Rutuknya dalam hati.
"Boleh saya pinjam hpmu sebentar?"
Laki-laki itu mengulangi permintaannya.
Dengan perasaan malu, tapi tetap sedikit curiga, Jasmine mengeluarkan handphonenya dari dalam tas dan menyerahkannya.
Jasmine memperhatikan laki-laki yang mengaku bernama Bayu itu mengetik sesuatu di handphonenya, lalu mengeluarkan handphonenya sendiri dari saku celana.
"Ini, sudah. Jangan dihapus ya!" dia mengembalikan handphone Jasmine sambil tersenyum lebar.
"Sampai jumpa lagi Jasmine," dia melambai dan melangkah masuk ke kantornya, meninggalkan Jasmine yang masih terpaku.
***
Jasmine mematut diri, memandang bayangan yang terpantul di cermin. Gaun tanpa lengan selutut berwarna biru muda bermotif polkadot, rambut ikal sebahunya digerai dan dihiasi bando berwarna senada dengan gaunnya.
Sempurna.
Dia sedang bahagia, bibirnya yang terpoles lipstik merah muda tak berhenti menyunggingkan senyum sejak tadi. Bagaimana tidak? Hari ini Bayu mengajaknya kencan.
Memang sih, tadi di telepon Bayu hanya menyebut jalan-jalan, tetapi jika seorang pria dewasa mengajak keluar seorang wanita dewasa pada malam Minggu, bisa kan ini disebut kencan?
***
Jasmine terpana, dia memandang takjub pada apa yang terhampar di depan matanya. Jalan di depan alun-alun kota gemerlap oleh kerlip lampu warna-warni, gedung-gedung tinggi di kejauhan bersinar terang. Ini sungguh indah. Dia belum pernah keluar di malam hari. Selama ini dunianya hanya berputar antara rumah dan kantor. Pemandangan seperti ini hanya pernah dilihatnya di televisi.
"Apa pemandangan di luar lebih menarik dari aku?"
Seketika Jasmine menoleh. Dia tersipu, karena hampir lupa kalau dia tidak sendirian.
"Maaf," ujarnya lebih menyerupai bisikan. Wajahnya merona.
Hari ini dia mendapat banyak kejutan dari laki-laki tampan yang sedang duduk di hadapannya saat ini.
Bolehkah dia merunutnya satu persatu?
Sejak awal perjumpaannya dengan Bayu, laki-laki itu sukses membuat pikirannya porak poranda, dia dilanda rasa penasaran setengah mati. Bayu tak pernah menghubunginya, padahal dia tahu persis saat laki-laki itu meminjam handphonenya di pagi itu tujuannya adalah mencatat nomornya. Tapi tak mungkin dia yang menghubungi lebih dulu, bisa jatuh harga dirinya sebagai perempuan.
Setelah seminggu, dan dia berniat melupakan perkenalan yang dianggapnya konyol itu, tiba-tiba pagi tadi Bayu meneleponnya.
Lalu tadi Bayu menjemputnya dengan mengendarai BWM hitam, membuatnya terpukau tak percaya. Laki-laki itu bahkan membukakan pintu untuknya, membuat perasaannya melayang.
Dan sekarang, dia dibawa ke restoran mewah ini, yang berada di ketinggian enam lantai. Jasmine benar-benar kehilangan kata-kata untuk mengungkapkan perasaannya.
Dia hanya mampu tersipu dalam diam ketika Bayu - yang sekarang pindah duduk di sebelahnya - menggenggam tangannya dan menatapnya mesra.
"Kamu cantik sekali. Aku bersyukur waktu itu mobilku rusak dan masuk bengkel, sehingga aku harus naik angkot ke kantor. Jadinya aku bisa ketemu kamu. Aku mencintaimu Jasmine, sejak pertama kali melihatmu seminggu yang lalu."
Jasmine menatap Bayu tak percaya. Bayu mencintainya? Benarkah? Perasaannya melambung.
Dilihatnya Bayu yang perlahan mendekatkan wajahnya.
Oh Mama! Dia mau apa? Apa dia mau menciumku?
Jasmine panik, dadanya berdebar keras. Dia tak tau harus bicara atau melakukan apa. Akhirnya dia memejamkan mata, menanti dengan jantung yang bertalu-talu kencang.
***
BUUKK!
Jasmine tersentak. Matanya mengerjap, lalu terbuka lebar. Ini bukan di restoran, juga bukan malam hari. Langit terang benderang, sekilas sinar matahari yang menerobos dari jendela menyilaukan matanya.
Jadi, tadi dia bermimpi? Kata cinta yang didengarnya tadi cuma mimpi?
Perlahan dia mulai menyadari keadaannya. Dia memegang kepalanya yang terasa sakit, sambil menatap laki-laki di depannya - yang jadi objek mimpinya. Tangan laki-laki itu bergerak, memencet bel.
Jasmine terkesiap. Dia memandang keluar.
Astaga! Ternyata ini sudah sampai di kantornya. Hampir saja dia kelewatan. Tergesa-gesa dia turun, mengikuti laki-laki di depannya. Mobil sudah kosong, hanya tinggal mereka berdua.
Jasmine melirik laki-laki tadi yang sekarang sudah berdiri di sebelah kanannya. Sepertinya dia juga ingin menyeberang.
Ah, ini kenapa mirip dengan mimpinya? Apakah mimpinya akan menjadi kenyataan?
Dia masih sibuk dengan pikirannya, dan tidak sadar kalau laki-laki di sebelahnya itu sudah berjalan meninggalkannya.
Jasmine menoleh dan sedikit terkejut mendapati orang yang sedang dipikirkannya menghilang. Kepalanya berputar, dan dia melihatnya.
"Bayu!" serunya refleks. Yang dipanggil tak menghiraukan. Tentu saja, karena namanya bukan Bayu, itu hanya ada dalam mimpinya. Jasmine memukul keningnya, merutuki kebodohannya.
Dua detik kemudian, Jasmine melongo. Matanya membelalak menatap sosok - yang menyandang tas laptop dan menenteng kotak makan - yang semakin menjauh itu. Sepertinya dia harus menepis segala angan dan mimpi paginya, melupakan laki-laki yang bernama Bayu - atau apa pun namanya, terserahlah.
Wajah boleh tampan, tapi jika gerak geriknya begitu gemulai seperti perempuan - bahkan melebihi Jasmine yang notabene adalah perempuan tulen? Pacaran dengan laki-laki setengah perempuan? Jasmine meringis dengan pikirannya sendiri.
Jasmine melirik ke arloji di pergelangan tangan kirinya. Jam setengah sembilan.
Alamak! Dia terlambat setengah jam, lebih parah dari kemarin,
Seketika wajah yang terbayang dalam angannya berubah, dari seorang laki-laki menjadi perempuan galak yang melotot padanya. Wajah Mbak Lisna.
Ooh, Jasmine benar-benar pasrah pada nasibnya hari ini.
*****
Minggu, 17 April 2016
Saat Mario Pergi
“Dasar
orang edan!”
“Ada
apa Nda? Baru datang sudah marah-marah.”
“Orang
lain berjuang susah payah untuk bertahan hidup, dia malah mau mati!” Amanda
meneruskan omelannya tanpa menghiraukan pertanyaan Nina.
“Siapa
yang mau mati?”
“Itu,
pasien kamar 305. Sudah dua hari ini dia tidak mau makan. Tadi, dia mencoba
mencabut selang infusnya. Untung aku sempat mencegahnya.”
“Sekarang
keadaannya gimana?”
“Sudah
tidur. Tadi kusuntik obat penenang.”
“Ya
sudah. Jangan emosi lagi. Masih banyak pasien lain yang harus dijenguk. Aku
pulang dulu ya.”
Nina
meninggalkan Amanda sendirian di ruang perawat. Tugasnya untuk hari ini sudah
selesai. Amanda dan Rasti akan menggantikannya untuk tugas jaga malam. Tapi
Rasti masih belum kelihatan. Mungkin agak terlambat.
Nina
membuka perlahan pintu kamar 305. Dia penasaran dengan pasien yang disebutkan
Amanda tadi. Seorang laki-laki muda sebaya dengannya. Nina mendekat,
memperhatikan wajah yang tertidur pulas. Pengaruh obat yang diberikan Amanda
sepertinya akan bertahan sampai besok pagi. Wajahnya bersih, cukup tampan. Tapi
mengapa dia begitu putus asa sampai ingin mengakhiri hidupnya?
“Manda,
boleh kulihat data pasien yang di kamar 305?”
“Pasien
sinting itu? Kenapa, kamu penasaran dengan dia?”
Amanda menyodorkan sebuah map
kuning kepada Nina. Nina hanya tersenyum tidak menjawab.
Namanya
Michael. Umur 25 tahun. Masuk ke sini seminggu yang lalu karena demam tinggi.
Diagnosa sementara gejala tifus. Lembar kedua adalah hasil pemeriksaan darah
dari laboratorium.
Mata Nina terbelalak membaca hasil yang tertulis di atas
kertas. Dia mendekatkan wajahnya ke kertas, untuk meyakinkan penglihatannya.
Positif HIV!
***
“Suster,
jangan dibuka tirainya!”
“Hai,
pagi. Sudah bangun ya? Bagaimana tidurmu semalam? Nyenyak?” sapa Nina ramah
seolah tidak mendengar apa yang baru dikatakan Michael.
“Tolong, jangan dibuka tirainya!” ulang Michael lagi,
agak keras.
“Tirai
ini harus dibuka supaya sinar matahari bisa masuk ke dalam. Lagipula matahari
pagi itu menyehatkan, jadi kamu bisa lebih cepat sembuh,” jawab Nina tenang.
“Percuma
saja, aku tidak akan pernah sembuh. Aku akan segera mati!”
“Setiap
orang akan mati. Hanya masalah waktu, siapa yang lebih cepat, siapa yang
belakangan. Apa kamu pikir kamu bisa mendahului takdir dengan mencoba bunuh
diri dengan tidak makan dan mencabut selang infusmu? Itu mati konyol namanya!”
tukas Nina tajam.
“Tapi
kamu tidak tahu apa yang terjadi padaku,” kata Michael, meratap. Dia menutup
wajahnya dengan kedua tangan, menangis.
“Saya
tahu, sangat tahu. Saya juga pernah bertemu pasien lain yang keadaannya jauh
lebih parah dari kamu, tapi dia lebih tegar, tidak sepertimu.”
Nina menatap
Michael lekat. Tidak ada tampang kriminal atau pecandu narkoba. Tetapi mengapa
bisa terkena penyakit yang masih dianggap aib oleh kebanyakan orang?
“Kenapa
memandangiku seperti itu?”
“Heran
saja. Ganteng-ganteng kok cengeng,” jawab Nina ringan.
Mau tak mau Michael
tersenyum mendengar jawaban Nina.
Sebuah awal yang bagus. Semoga keputusannya
bertukar tempat dengan Amanda untuk menjaga pasien ini tidak salah.
Kata-katanya tadi mungkin terlalu keras, tapi menghadapi pasien yang putus asa
seperti ini memang harus begitu. Itu yang pernah dia pelajari dari kakaknya
yang menjadi psikolog.
“Jangan
lupa habiskan sarapannya,” pesan Nina sebelum keluar dari kamar.
“Pagi,
Suster Nina!”
“Pagi
Mario! Wah, kamu sudah rapi ya? Sudah sarapan?”
“Sudah.
Tadi Suster Lidya yang membantu. Suster, lihat ini, aku punya krayon dan buku
gambar baru. Kemarin Ibu membelikannya untukku. Suster, temani aku menggambar
ya?” pinta Mario manja.
“Boleh,
tapi jangan sekarang ya. Suster Nina mau mengajak kamu jalan-jalan dulu. Mau?”
“Mau.
Asyiiik!” Mario bertepuk tangan riang. Nina menggendongnya dan mendudukkannya di
atas kursi roda.
“Kita
mau ke mana ?”
“Hari
ini Suster mau mengajak kamu kenalan sama teman baru.”
“Cantik
nggak?”
“Dia
itu laki-laki sayang.” Nina tertawa.
“Pacar
Suster ya?” tanya Mario polos.
“Hush!
Kecil-kecil sudah tahu pacaran. Bukan. Dia itu teman Suster.”
Mario
terus bercerita selama Nina mendorong kursi rodanya.
“Halo
Michael. Bagaimana, sudah merasa baikan?” Nina tersenyum senang saat melirik ke
meja. Michael sudah menghabiskan sarapannya.
“Siapa
dia?” Michael memandang Mario heran.
“Ini
Mario. Saya ajak ke sini supaya kamu punya teman ngobrol. Daripada kamu bosan
sendirian. Ayo Mario, kenalan dulu, ini namanya Om Michael.” Nina mendorong
kursi roda Mario mendekati ranjang Michael.
Keduanya
cepat akrab. Nina tersenyum senang, Michael sepertinya menyukai anak kecil.
“Saya
masih harus memeriksa pasien lain. Kalian ngobrol saja dulu ya. Mario, jangan
kecapekan ya. Kalau ada apa-apa, panggil Suster. “
***
“Sus,
Mario ke mana? Kok nggak diajak ke sini?”
“Hari
ini dia harus menjalani kemoterapi. Jadi tidak bisa dibawa keluar.”
“Sebenarnya
dia sakit apa?”
“Kanker
tulang.”
“Kanker?
Bagaimana mungkin?” Michael terkejut. Bocah kecil yang periang itu, siapa
menduga dia sedang menderita penyakit mengerikan yang bisa merenggut nyawanya
setiap saat.
Mario
masuk rumah sakit Dharma Kasih enam bulan yang lalu dalam kondisi kritis,
karena kanker tulang yang menggerogoti tubuhnya sudah mencapai stadium tiga.
Kaki kirinya harus diamputasi sebatas lutut untuk menyelamatkan jiwanya. Sebuah
pilihan yang sangat berat untuk anak kecil yang baru berusia 8 tahun. Saat
terbangun setelah operasi dan mengetahui kakinya yang telah hilang, Mario
sempat menangis berhari-hari. Dia baru tenang setelah orang tuanya berjanji
akan membelikan kaki palsu untuknya agar dia bisa berjalan lagi seperti dulu.
Sebuah janji yang sulit dipenuhi. Orang tuanya hanya guru SD di sebuah sekolah
negeri yang penghasilannya tidak seberapa. Bahkan semua biaya pengobatan Mario
ditanggung oleh Yayasan Kanker Indonesia.
Dengan
diamputasinya kaki kiri Mario, tidak berarti penyakitnya langsung sembuh. Dia
harus rutin menjalani kemoterapi sebulan sekali untuk membunuh sel-sel kanker
yang sudah menyebar di hampir seluruh bagian tubuhnya. Belum lagi belasan butir
obat yang harus masuk ke lambungnya setiap hari.
Mario
adalah pasien istimewa di rumah sakit ini. Dia menjadi kesayangan semua dokter
dan perawat. Semangat hidupnya sangat tinggi. Walaupun tidak bisa melanjutkan
sekolah karena penyakitnya, tapi dia tetap rajin belajar. Setiap sore jika
orang tuanya datang, dia selalu minta diajarkan tentang pelajaran yang baru
diberikan di sekolah hari itu. Dia selalu bilang ingin menjadi pemain bola
terkenal. Selain cerdas, dia juga periang. Dia paling suka jika diajak
berkeliling menjenguk pasien-pasien lain.
“Biasanya
setiap pasien yang sudah mengenalnya, penyakitnya akan cepat sembuh. Contohnya
kamu,” Nina tertawa kecil memandang Michael yang hanya tersenyum.
“Sekarang
kamu mengerti kan kalau nasibmu masih lebih beruntung?”
“Siapa
bilang nasibku lebih beruntung?” tiba-tiba Michael menjadi sinis. Dia
memalingkan wajahnya menghindari tatapan Nina.
“Kamu
tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku. Mario punya orang-orang di
sekelilingnya yang menyayangi dia, sedangkan aku..?”
“Kalau
kamu mau, kamu boleh cerita. Saya akan mendengarkan.”
Michael
mulai menuturkan kisah hidupnya. Dibesarkan dalam keluarga broken home,
Michael tidak mengenal ibu kandungnya, yang meninggalkan dia dan ayahnya saat
usianya tiga tahun demi laki-laki lain. Ayahnya menikah lagi dengan perempuan
lain yang kini menjadi ibu tirinya. Walaupun berlimpah harta, tapi Michael
tidak pernah merasakan kasih sayang ayahnya yang selalu sibuk dengan bisnisnya,
apalagi ibu tirinya yang tidak punya pekerjaan lain selain menghamburkan uang
ayahnya. Setahun yang lalu, Michael mengalami kecelakaan mobil, lukanya cukup
parah dan membutuhkan transfusi darah. Itulah awal petaka yang menimpanya
sekarang.
“Kamu
tahu? Selama aku di sini, tidak ada seorang pun yang menjengukku. Bahkan
pacarku, Via, menghilang begitu saja setelah mengetahui aku positif terkena AIDS,” Michael mengakhiri ceritanya
dengan sedih.
“Kamu
percaya kan kalau Tuhan itu Maha Adil? Buktinya, kamu dirawat di sini, dan bisa
bertemu Mario. Setidaknya kamu bisa belajar dari dia, bagaimana menghargai
hidup yang singkat ini dan tetap bersemangat, karena itulah hal yang paling
penting agar kita bisa tetap kuat dan bertahan.”
Michael
terdiam merenungkan kata-kata Nina.
“Aku
minta maaf ya, karena sudah berpikiran buruk tentangmu,” ujar Nina setelah
beberapa saat. Michael menatap Nina bingung.
“Kupikir
kamu seorang pecandu,” lanjut Nina hati-hati, takut menyinggung perasaan
Michael.
Di
luar dugaan, Michael tertawa.
“Walaupun
hidupku berantakan, tapi aku tak pernah berniat mencoba barang haram itu.”
***
“Suster
Nina.” Nina menoleh, mencari sumber suara yang memanggil namanya.
“Michael?”
serunya senang. Laki-laki itu keluar dari rumah sakit seminggu yang lalu. Dia
kelihatan sehat, wajahnya segar, tidak seperti ketika Nina melihatnya pertama
kali.
“Apa
kabar? Tumben kemari. Nggak sakit lagi kan?”
“Aku
sudah lebih sehat, tapi masih harus terus minum obat. Terima kasih karena kamu
dan Mario sudah menyadarkanku. Maaf, boleh aku memanggilmu Nina saja?” Nina
tersenyum mengangguk..
“Aku
mau menjenguk Mario. Aku punya kabar gembira untuknya.”
“Apa
itu?”
“Ada
sebuah yayasan yang mengadakan program 1000 kaki palsu untuk orang-orang cacat
yang tidak mampu. Aku sudah mendaftarkan nama Mario dan sudah disetujui.
Mudah-mudahan dalam dua bulan ini kaki palsu itu sudah siap dan bisa
digunakan.”
“Benarkah?
Ini kabar yang sangat bagus. Ayo, kita harus memberitahukannya pada Mario. Dia
pasti senang sekali.” Nina menarik tangan Michael tak sabar menuju kamar Mario.
***
Hari
ini semua orang di rumah sakit Dharma Kasih berduka. Bahkan langit juga ikut
menangis. Hujan lebat seolah ditumpahkan dari langit mengguyur bumi sejak pagi.
Mario, bocah kecil periang itu telah kembali pada Penciptanya. Tubuh kecilnya
tidak mampu menahan efek samping dari kemoterapi yang harus dijalaninya berulang
kali. Padahal itu adalah terapi yang terakhir, dan menurut dokter, kondisinya sudah
membaik. Tetapi tidak ada yang bisa melawan kuasa takdir. Justru setelah terapi
yang terakhir itu, keadaan Mario tiba-tiba memburuk dan koma selama dua hari.
Sepertinya Tuhan masih menyayangi Mario, karena Dia tidak membiarkan Mario
meninggal dalam kesakitan. Mario masih bisa tersenyum pada semua orang di
dekatnya, orang tuanya, Nina, juga Michael, sebelum menutup matanya untuk
selamanya.
Michael
menangis dalam pelukan Nina. Kali ini dia tidak peduli bila ada yang
menyebutnya cengeng. Dia benar-benar sedih dan terpukul dengan kepergian Mario.
“Padahal
seminggu lagi kaki palsu untuk Mario akan sampai. Dan aku juga sudah membawa
hadiah ini untuknya.”
Michael menunjukkan sepasang sepatu olahraga dan kaos
merah bergaris hitam, ada tulisan Kaka, 22, di punggungnya – pemain bola
dunia idola Mario.
“Takdir
sudah ditentukan, kita tidak bisa melawannya,” Nina mencoba menghibur, tapi dia
juga merasakan kepedihan yang sama besarnya dengan Michael.
*****
Sabtu, 16 April 2016
Medali
Pukul satu tengah malam. Hujan deras yang mengguyur
bumi sejak sore tadi masih menyisakan gerimis. Titik-titik airnya yang jatuh
menimpa genteng rumah terdengar halus memecah kesunyian malam yang pekat. Darius
terbangun dalam keremangan lampu kamarnya, dia mendapati istrinya tidak ada di
sampingnya. Darius turun dari tempat tidurnya, dia tahu ke mana istrinya perig malam-malam
begini.
Dugaannya benar, istrinya ada di kamar putri mereka,
duduk di samping ranjang, memandangi kedua putrinya yang terlelap. Sudah
beberapa hari ini istrinya selalu terbangun tengah malam, dan mendatangi
kamar anak-anaknya. Sesekali dia
terlihat mengusap matanya. Darius tidak ingin mengganggu istrinya, dia
meninggalkan kamar putrinya tanpa suara, kembali ke kamarnya sendiri.
Kantuknya hilang sudah, pikiran tentang putrinya
mengganggu di kepalanya. Beberapa bulan terakhir ini Tari sering mengeluh sakit
kepala. Darius tidak terlalu cemas, dia menganggap sakit kepala putri sulungnya
itu karena terlalu lelah memikirkan pelajaran sekolahnya. Tetapi seminggu yang lalu
Tari pingsan di sekolah, dan Darius tidak bisa tidak cemas, karena dari hasil pemeriksaan
CT Scan, ternyata ada tumor di otak Tari.
Dokter menyarankan satu-satunya jalan penyembuhan adalah operasi, tetapi
biayanya benar-benar membuat Darius mengelus dada, dua ratus juta.
Dari mana
dia mendapat uang sebanyak itu? Dia memang memiliki sedikit tabungan, tetapi
itu tidak cukup. Bahkan jika ditambah dengan rumah dan seluruh isinya dijual, nilainya
belumlah sampai dua ratus juta.
“Cobalah cari pinjaman dari kantor Bang,” pinta
istrinya tiga hari yang lalu. Darius masih belum melakukan permintaan istrinya.
Dia ragu, apakah perusahaan bersedia meminjamkan uang dalam jumlah yang sangat
besar, sedangkan dia hanyalah seorang supir. Tetapi, sepertinya itulah
satu-satunya harapan yang tersisa untuk menyelamatkan nyawa Tari. Maka, Darius
bertekad hari ini dia harus mencoba bicara dengan atasannya.
“Dua ratus juta?” ulang Klara, manajer sekaligus
atasan Darius, dengan nada terkejut; reaksi yang sudah hampir bisa ditebak
Darius ketika dia masuk dan menceritakan keadaan putrinya.
“Perusahaan tidak mungkin memberi pinjaman sebesar
itu, bagaimana Bapak bisa membayarnya? Kerja seumur hidup pun belum tentu Bapak
bisa melunasinya.”
Jawaban yang menyakitkan, tetapi dalam hati Darius terpaksa
mengakui kebenaran kata-kata itu.
“Pak Yus, awas!” teriakan Adi, rekannya sesama supir,
membuat Darius tersentak kaget, refleks dia menginjak rem. Terlambat, bumper
depan mobilnya terlanjur menabrak setumpuk kaca yang tersandar di dinding.
Wajah Darius memucat.
“Ini sudah keterlaluan. Seminggu ini Pak Yus sudah dua
kali memecahkan kaca. Bapak tahu berapa harga kaca-kaca? Ini tidak bisa
ditolerir lagi. Gaji Pak Yus akan kami potong untuk mengganti kerugian
perusahaan akibat keteledoran Bapak itu,” kata Klara tegas.
Darius menghela
nafas panjang, dia hanya bisa diam dan pasrah menerima semua keputusan yang tak
terbantah itu.
“Bagaimana Bang? Berhasikah mendapatkan pinjaman dari
kantor?” tanya istrinya penuh harap ketika menyambut Darius pulang sore itu. Darius
memandang istrinya gundah, perlahan dia menggeleng. Melihat gurat kekecewaan di
wajah istrinya, Darius tidak tega menceritakan masalah yang dialaminya di
kantor.
“Di mana anak-anak?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.
“Marni ke rumah temannya, katanya mau pinjam pe-er.
Tari di kamar, tadi siang sepulang sekolah, dia mengeluh kepalanya pusing.”
“Sudah minum obat?” tanya Darius khawatir.
“Sudah, mungkin sekarang masih tidur.”
Darius mengabaikan rasa capeknya dan berjalan menuju
kamar putrinya. Tari masih terlelap. Darius menatap wajah putrinya dengan
perasaan getir. Tari anak yang cerdas. Prestasi belajarnya di sekolah selalu
bagus, rankingnya tidak pernah keluar dari dua besar. Kelahirannya dua belas
tahun yang lalu membawa kehangatan dalam keluarga Darius yang sudah menanti
kehadirannya selama lima tahun. Itulah sebabnya Darius memberinya nama Mentari.
Tari belum tahu tentang penyakit yang menggerogoti
kepalanya, Darius dan istrinya belum berterus terang kepadanya. Dokter memang
mengatakan kalau daging yang tumbuh dalam kepala Tari bukan jenis yang ganas,
tetapi kalau tidak segera dibuang juga bisa membahayakan jiwanya. Darius
benar-benar tak tega membayangkan bagaimana nanti kepala putri kecilnya harus
dibelah di ruang operasi. Tanpa disadarinya, tahu-tahu matanya sudah basah.
Kotak hitam beludru itu masih tersimpan di sudut dalam
laci kecil di dalam lemari pakaian, sudah lama tak tersentuh. Darius meniup
pelan lapisan debu tipis yang menyelubungi kotak. Sinar kuning keemasan memantul
dari dalam ketika Darius membuka kotak itu. Dia mengambil sebuah medali dari
dalam kotak. Ingatannya melayang kembali ke dua puluh dua tahun silam,
saat-saat paling membanggakan dalam hidupnya, saat dia meraih medali emas
pertamanya di kejuaraan nasional angkat besi di Jakarta.
Dulu dia adalah salah
satu manusia terkuat di tanah air, bahkan di asia. Puluhan medali sudah
diraihnya, dari perunggu hingga emas, dari berbagai ajang pertandingan, baik
tingkat nasional maupun internasional.
Tetapi setelah lima belas tahun berlalu, ketika dia
merasa staminanya semakin menurun dan memutuskan untuk berhenti, segala
kebanggaan itu mulai luntur. Keberhasilannya selama belasan tahun mengharumkan
nama bangsa mulai dilupakan, dia merasa diabaikan.
Bahkan bonus sebuah rumah
mewah yang pernah dijanjikan untuknya tidak pernah dia terima. Hingga kini,
Darius hanya memiliki sebuah rumah petak di daerah pinggiran kota dan sebuah
sepeda motor tua yang masih setia menemaninya ke mana-mana. Dia tidak pernah mengecap
bangku kuliah, juga tidak memiliki keahlian khusus, sehingga hanya bisa menjadi
supir.
“Bang, makan dulu yuk!” Panggilan istrinya membuyarkan lamunan
Darius.
“Mi, aku mau menjual medali-medali ini,” kata Darius mengabaikan
ajakan istrinya.
“Dijual? Untuk apa Bang?” tanya Ismi kaget.
“Untuk biaya operasi Tari.”
“Tapi, bukankah medali-medali itu sangat berarti buat Abang?”
“Saat ini, tidak ada yang lebih penting daripada
kesembuhan Tari. Jika medali-medali ini bisa menyelamatkan nyawa Tari, aku
rela,” kata Darius pasrah.
“Apa? Hanya lima juta?” ulang Darius tak percaya.
Medali-medali kesayangannya hanya dihargai lima juta?
“Tidak bisa lebih tinggi?” tanyanya. Penjaga toko emas
itu menggeleng.
“Maaf Pak, kata bos saya, kandungan emas dalam
medali-medali ini bukan emas murni, dan lagipula, medali-medali ini masih harus
dilebur lagi.”
Darius terdiam bingung.
“Kalau seperti itu, saya harus berunding dulu,” Darius
mengantongi kembali medali-medali itu, dan beranjak meninggalkan toko.
“Yus! Darius, tunggu!” Langkah Darius terhenti, dia
menoleh.
“Hei, kau lupa sama aku?” Darius menatap laki-laki
yang baru keluar dari dalam toko itu. Sepertinya tidak asing.
“Aku Beny, Beny Sitorus, yang duduk di sebelah kau
waktu SMA dulu,” kata laki-laki itu lagi dengan logat Batak yang kental.
Senyum
Darius mengembang, sekarang dia ingat laki-laki di hadapannya ini.
“Sudah lama kita nggak ketemu, aku hampir tak
mengenalimu.”
Mereka berjabatan tangan, tertawa akrab.
“Aku juga sudah hampir lupa, kalau tadi tak kulihat
medali-medali yang ditunjukkan sama si Guntur ini. Tiba-tiba saja aku ingat
kau, dulu kau setamat SMA kan langsung masuk pelatnas Jakarta.”
“Ayo, masuklah dulu! Kita cerita-cerita dulu di
dalam,” Beny membukakan pintu kayu yang memisahkan pembeli dari bagian dalam
toko emas itu.
***
Hari ini Tari akan dioperasi. Darius sudah meminta
izin cuti dari kantornya untuk menemani istrinya menunggui Tari di rumah sakit
selama operasi berlangsung.
Darius bersyukur karena keputusannya untuk menjual
medali telah membawa berkah untuknya. Dia memang tidak menjual medali-medalinya
kepada Beny, tetapi sahabat baiknya semasa SMA itu telah membantunya
mendapatkan biaya operasi untuk Tari. Beny mengenalkannya pada seorang temannya
yang merupakan salah satu petinggi negara yang membawahi departemen olahraga,
khususnya pembinaan olahraga daerah.
Pejabat pemerintahan itu merasa simpati
dengan masalah yang dihadapi Darius, dan dia telah berjanji kalau pemerintah
akan membantu biaya operasi Tari. Sebagai gantinya, Darius akan menyerahkan
medali dan plakat penghargaan yang pernah diterimanya ke museum olahraga
nasional.
Darius telah mengikhlaskan benda-benda kenangannya
yang paling berharga menjadi milik negara. Yang ada dipikirannya sekarang hanyalah
sebaris doa : semoga operasi Tari bisa berhasil dan putrinya bisa sembuh
kembali. Amin!
*****
Parcel
Parto
memandangi bungkusan besar di tangannya dengan gembira. Tahun ini majikannya
baik sekali, memberikan bingkisan lebaran lebih banyak dari tahun-tahun
sebelumnya. Biasanya dia hanya menerima dua botol markisa dan sekaleng biskuit
murah. Tetapi sekarang, selain dua botol markisa, dia juga mendapat sekaleng
besar biskuit impor, ditambah lagi tiga kaleng manisan buah, dan berbagai macam
buah segar: apel, jeruk, dan anggur.
Ijah, istrinya, dan Udin,
anak laki-laki satu-satunya, pasti senang jika dia pulang membawa oleh-oleh
sebanyak itu. Mereka belum pernah merasakan enaknya biskuit impor, apalagi
manisnya anggur yang merupakan makanan mewah bagi mereka.
Siang tadi, Lina, karyawan
Pak Broto, majikannya, menyuruhnya membawa pulang semua barang-barang yang
dikemas dalam kardus itu dari kantor. Katanya, barang-barang itu untuk
dibagikan kepada pembantu di rumah Pak Broto.
Dan dia sudah membagi
dengan adil semuanya. Mak Surti, Ani, Anto – tukang kebun, Pak Min – satpam,
dan dirinya sendiri, masing-masing mendapat bagian yang sama.
Parto menyimpan bungkusan
itu dalam kamarnya. Dia akan pulang hari Minggu, jadi masih ada waktu tiga hari
untuk mengepak barang-barang itu. Tapi sejenak Parto kelihatan ragu-ragu,
apakah buah-buahan itu bisa tahan disimpan selama itu? Selama ini yang dia
tahu, majikannya selalu menyimpan buah-buahan dalam kulkas.
Atau mungkin nanti dia
minta izin sama Bu Broto saja untuk menyimpan buah-buahan itu sementara dalam
kulkas.
***
“To,
kamu letakkan di mana bingkisan yang dititipkan Lina tadi?” tanya Pak Broto
selepas shalat Isya.
“Sudah saya bagi-bagikan
Pak, sesuai pesanan Mbak Lina.”
“Kamu bagi-bagikan sama
siapa?”
“Ya sama semuanya Pak. Mak
Surti, Ani, Anto, dan Pak Min. Saya juga Pak,” jawab Parto lugu.
“Hahh? Siapa yang suruh
kamu lakukan hal itu? Lancang sekali kamu!" Pak Broto berteriak emosi.
“Tapi Pak….. saya hanya
melakukan apa yang dibilang Mbak Lina. Katanya Bapak yang menyuruh,” Parto
mulai ketakutan.
“Ah, bohong itu! Saya tak
pernah mengatakan itu. Harusnya kamu tanya dulu sama saya. Bingkisan itu mau
saya berikan pada kolega saya, bukan untuk kalian. Pokoknya saya tidak mau
tahu! Saya akan potong harga bingkisan itu dari THR kamu!”
Parto mengerut, dia ingin
protes, tapi pasti tak ada gunanya. Bisa-bisa nanti malah gajinya ikut sekalian
dipotong.
Parto memandang bungkusan
di atas meja dengan sedih. Baru beberapa jam yang lalu dia merasa senang karena
membayangkan betapa gembiranya nanti Ijah dan Udin menyambutnya pulang dengan
membawa banyak oleh-oleh, sekarang kebahagiaan itu menguap.
Mungkin sebaiknya dia
mengembalikan barang-barang itu, jadi uang THR-nya tidak akan dipotong. Tapi,
bagaimana mengatakannya pada yang lain? Mereka pasti sedih sekali. Apalagi Mak
Surti, yang tadi paling gembira ketika menerima bingkisan itu. Parto jadi tak
tega.
“To, semalam kamu dimarahi
Pak Broto ya?” tanya Mak Surti. Parto yang sedang memanaskan mesin mobil jadi
gugup.
“Iya Mak,” jawabnya pelan.
“Memangnya kenapa? Mak
mendengar suara Pak Broto keras sekali, tapi Mak kurang jelas apa yang
dikatakannya.”
“Ah, bukan masalah besar
Mak,” elak Parto.
“Apa karena bingkisan
kemarin?”
Parto kaget.
“Kok Mak tahu?”
“Mak hanya menebak.
Seumur-umur Mak kerja di sini, Pak Broto belum pernah kasih barang sebagus ini.
Mak jadi curiga aja.”
Dengan berat hati akhirnya
Parto menceritakan yang sebenarnya.
“Mak tahu apa yang harus
kita lakukan.”
“Maksud Mak, kita
kembalikan lagi barang-barang itu?”
Mak Surti mengangguk.
“Nanti kita bicara lagi.”
Mak Surti melangkah masuk, saat dilihatnya Pak Broto berjalan menuju ke mobil.
***
“Permisi Pak, maaf
mengganggu,” ucap Mak Surti sopan. Pak Broto sedang menonton televisi
sendirian, istrinya belum pulang dari acara buka puasa bersama di kantornya.
“Ada apa Mak?” Pak Broto menoleh dan baru
sadar, ternyata Mak Surti tidak sendirian, Ani, Anto, Pak Min dan Parto berdiri
di belakangnya.
“Kami cuma mau mengucapkan
terima kasih atas bingkisan lebaran dari Bapak. Tapi kami tidak bisa
menerimanya, karena harus mengorbankan uang THR Parto. Jadi kamu mau
mengembalikan bingkisan ini.” Mak Surti meletakkan sebuah bungkusan di atas
meja. Ani, Anto, Pak Min dan Parto juga melakukan hal yang sama.
Pak Broto terkesima.
Dadanya terasa sesak oleh rasa haru. Dia tidak bisa berkata apa-apa, matanya
menatap lama barang-barang yang tergeletak di atas meja.
“Kami harap, Bapak tidak
jadi memotong uang THR Parto,” ujar Mak Surti lagi.
“Mak, ambillah kembali
barang-barang itu. Bingkisan itu memang untuk kalian.”
Sekarang giliran Mak Surti
dan lainnya yang terkejut. Pak Broto memandangi mereka satu persatu.
“Saya mau minta maaf.
Seharusnya masalah kecil ini tidak perlu dibesar-besarkan. Dan bukan Parto yang
salah. Tadi Lina sudah mengakui
kesalahannya. Jadi saya harap kalian bisa melupakan kesalahpahaman ini.”
Pak Broto terenyuh melihat
raut kegembiraan di wajah mereka ketika menerima kembali bingkisan itu dan
berulang kali mengucapkan terima kasih.
x
Namaku Zack
Umurku
belum genap satu bulan. Aku juga belum punya nama, karena Mama belum sempat
memberikannya padaku. Jalanku masih agak terseok-seok, kadang-kadang suka
terpeleset. Tapi Mama selalu bilang, itu hal yang biasa untuk anak seumuran
aku. Kaki belakangku belum cukup kuat menopang berat tubuhku.
Sampai
hari ini aku masih belum diizinkan Mama keluar rumah. Walaupun kadang-kadang
aku merasa bosan ditinggal sendirian di rumah saat Mama mencari makan di luar. Tapi
rasa bosan itu segera hilang begitu Mama kembali dengan membawa ikan di
mulutnya.
Dua
minggu pertama setelah aku lahir ke dunia, aku hanya hidup dari ASI yang diberikan Mama. Sekarang aku sudah
diperbolehkan makan ikan. Nyam...nyam! Harum ikan goreng yang dibawa Mama sungguh
menggoda selera. Mama selalu memberiku daging yang lembut dan menyisakan bagian
tulang yang keras untuk dirinya sendiri. Ah, Mama memang sangat menyayangiku.
Hari
ini lagi-lagi aku bosan ditinggal sendirian. Aku ingin ikut Mama keluar, tapi
Mama melarangku. Aku membandel, kuikuti Mama dari belakang dengan diam-diam.
Aduh, ternyata ketahuan! Mama berbalik, menggigit tengkukku, dan membawaku
kembali ke rumah.
“Kamu
tidak boleh ikut, sayang. Kamu masih kecil, bahaya kalau keluar. Banyak orang
jahat. Tunggu Mama di sini saja ya,” Mama menasihatiku. Aku hanya mengangguk.
Begitu
Mama berjalan keluar, segera kuikuti lagi dari belakang. Kali ini aku berjalan
mengendap-endap supaya tidak ketahuan Mama. Mama sempat menoleh ke belakang
sekali – mungkin Mama tahu kalau aku mengikutinya – untungnya, di dekatku ada
pot bunga, tubuhku kecil, jadi aku bisa sembunyi di belakang pot bunga itu.
Setelah
yakin Mama tidak melihatku, aku keluar dari persembunyianku. Kakiku pendek,
belum bisa jalan cepat-cepat, agak repot juga harus mengikuti Mama yang sudah
jauh di depanku.
Tiba-tiba
saja aku sampai di tempat yang asing, ramai sekali di sini. Kenapa banyak
sekali orang lalu lalang? Aku takut sekali.
“Mama,”
aku berteriak sekuat tenaga, tapi sepertinya Mama tidak mendengar panggilanku.
Aku tidak berani berjalan lagi, mau pulang juga takut. Lebih baik kutunggu Mama
di sini, nanti Mama pulang pasti lewat jalan ini lagi.
Kulihat
Mama berhenti. Hidungnya mengendus-endus di tanah. Pasti Mama mencium bau ikan.
Benar saja, kepala Mama sekarang tegak, dia berjalan, ah tidak, Mama berlari.
Tiba-tiba
aku mendengar suara aneh, seperti berdecit, keras sekali. Lalu kulihat beberapa
orang yang sedang berjalan berhenti. Hei, kenapa orang-orang itu berkerumun di
dekat Mama? Jangan-jangan mereka mau menjahati Mama.
Aku
mau mendekat, tapi aku masih takut melihat orang-orang itu. Ah, aku tidak boleh
takut, aku harus ke sana dan melihat apa yang terjadi.
Aku
baru berjalan beberapa langkah, ketika orang-orang itu meletakkan sesuatu di
dekatku. Mama! Itu adalah Mama, tapi kenapa Mama hanya diam, tidak melawan
orang-orang itu? Aku mendekati Mama, kugoyang badan Mama, tapi Mama tidak
bergerak, hanya berbaring diam, matanya tertutup tidak melihatku. Ada cairan
berwarna merah di kepala Mama.
Tiba-tiba
aku terjungkal, ada yang menendangku. Aku berusaha bangun, tapi orang-orang itu
malah mengusirku. Aku ingin melawan, tapi aku juga takut sekali, orang-orang
itu badannya besar sekali, aku bahkan tidak bisa melihat jelas muka mereka.
Lalu aku melihat mereka mengangkat Mama.
“Mama!
Mama mau dibawa ke mana? Jangan bawa Mamaku pergi!” aku meneriaki mereka, tapi
tak ada yang mendengar.
Aku
menangis, aku merasa sendirian, ketakutan. Aku ingin pulang, tapi aku lupa
jalannya. Aku hanya menyeret kakiku mengikuti naluriku, yang penting aku harus
pergi menjauh dari keramaian ini.
Akhirnya
aku sampai di tempat yang sepi, tidak ada lagi orang yang berkeliaran. Aku
lapar dan haus. Biasanya saat seperti ini Mama pasti sudah pulang membawa ikan
kesukaanku, dan aku bisa menyusu sepuasnya pada Mama. Tapi sekarang Mama entah
ada di mana. Mungkin karena kelelahan, aku tertidur.
Tidak
tahu berapa lama aku terlelap, saat membuka mata sekelilingku sudah gelap, tapi
justru mataku bisa melihat semuanya lebih jelas dan terang.
Mama!
Aku ingat Mama lagi, aku melihat sekelilingku, tidak ada siapa pun.
“Mama...Mama...,”
aku mulai menangis lagi. Kenapa Mama tidak datang, apakah Mama tidak mendengar
suaraku, padahal aku menangis cukup keras?
Hei,
aku mencium sesuatu, bau yang sangat kukenal. Aku ingat, ini kan bau ikan yang
biasa dibawa Mama. Perutku terasa semakin lapar. Aku mulai berjalan mengikuti
penciumanku mendekati tempat asal bau itu.
Aku
melihat sesuatu, dia mirip sepertiku, tapi badannya lebih besar seperti Mama.
Bau itu berasal dari tempat dia berdiri. Ternyata dia yang sedang menikmati
ikan itu. Mudah-mudahan dia mau berbagi sedikit denganku.
“Hei,
anak kecil, jelek! Ngapain kemari? Mau mencuri makananku ya? Jangan coba-coba
ya, pergi sana!” Suaranya kasar, tidak lembut seperti Mama. Dia menyeringai
memperlihatkan gigi-giginya yang tajam. Ih, ngeri! Lebih baik pergi sebelum dia
mencakar dan menggigitku. Aku kembali ke persembunyianku, memerhatikan dia dari
jauh.
Dia
sudah pergi, semoga masih ada sedikit ikan yang tersisa untukku. Aku berjalan
ke sana lagi, kali ini lebih hati-hati, bersiap-siap kabur kalau dia muncul
lagi.
Tidak
ada daging yang tersisa, hanya tinggal sedikit tulang. Kucoba gigit dengan
gigi-gigiku yang masih kecil. Keras sekali, tapi tak apalah, daripada perutku
lapar.
Ada
suara mendekat, aku mendongak. Seseorang berdiri di depanku, tangannya memegang
sesuatu. Gerakannya cepat sekali, aku tidak sempat berlari menyelamatkan diri.
Tiba-tiba aku merasa badanku dingin, sekujur tubuhku sudah basah kuyup. Aku
berbalik, berlari secepat yang aku bisa, sampai-sampai terpeleset karena licin.
Orang itu masih di belakangku, aku bisa mendengar suaranya, tapi tidak mengerti
apa yang dikatakannya.
Aku
sudah sampai ke tempat persembunyianku, tidak ada suara lagi, berarti orang itu
tidak mengejarku. Aku kedinginan, badanku menggigil. Aku belum bisa menjilati
bulu-buluku yang basah, biasanya Mama yang selalu menjilati aku, membersihkan
tubuhku. Ingat Mama, aku menangis lagi.
Tiba-tiba
aku melihat Mama, ya benar, itu Mama. Akhirnya Mama bisa mendengar aku, Mama
pulang. Tapi kenapa Mama hanya berdiri di sana, diam saja, dan tidak memelukku?
Aku berlari menyambut Mama. Tapi semakin aku berlari, Mama rasanya semakin
jauh, lalu mendadak Mama menghilang.
“Mamaaaa!”
aku terkejut mendengar teriakanku sendiri. Ternyata aku cuma bermimpi bertemu
Mama.
Aku
mengerjapkan mata. Hari sudah terang, badanku terasa kering dan hangat. Aku
juga tidak kedinginan lagi. Tapi perutku semakin lapar, aku juga haus. Aku
harus mencari makan.
Rasanya
aku sudah berjalan jauh sekali, tapi aku tidak menemukan sesuatu yang bisa
kumakan. Kakiku lemas sekali, aku tidak sanggup lagi berjalan. Akhirnya aku
jatuh terduduk.
Sepertinya
aku masih belum aman. Sekarang ada sekelompok orang yang lain mendekatiku.
Mereka lebih kecil daripada orang yang menyiramku semalam, tapi mereka jauh
lebih jahat. Mereka tidak hanya menyiramku, tapi juga melempariku dengan
kerikil. Badanku yang baru kering jadi basah lagi, batu-batu kecil yang
mengenai tubuhku sangat menyakitiku. Aku ingin berlari menghindari mereka, tapi
aku sudah kehabisan tenaga. Bahkan untuk menangis saja aku sudah tidak ada
suara lagi.
“Hei,
anak-anak. Jangan dilempari. Kasihan!”
Aku
mendengar suara di belakangku.
“Biarin
saja Nek Sumi. Dia itu kotor, lihat bulunya, hitam semua. Kata orang bisa bawa
sial. Jadi harus diusir jauh-jauh.”
“Ah,
siapa bilang bisa bawa sial, itu takhyul. Dasar kalian anak-anak nakal. Sudah, pergi
sana!”
Aneh,
aku bisa mengerti semua perkataan mereka. Tubuhku diangkat oleh orang yang dipanggil
Nek Sumi oleh anak-anak yang melempariku tadi.
“Manis,
jangan takut ya!”
Nek
Sumi membawaku masuk ke dalam rumahnya. Aku merasa aman dalam pelukan Nek Sumi.
Nek Sumi membersihkan tubuhku, lalu memberiku semangkuk susu hangat. Enak
sekali, perutku terasa hangat dan tidak lapar lagi.
“Terima
kasih Nek Sumi,” kataku.
“Kamu
lucu sekali,” kata Nek Sumi.
Ah, mungkin
Nek Sumi tidak mengerti ucapanku, dia hanya membelai-belai kepalaku.
Dan
Nek Sumi juga membuatkan rumah baru untukku, lebih besar dan lebih bagus daripada
rumah lamaku, tempat tidurku sekarang lebih empuk.
Aku
memang kehilangan Mama, tapi sekarang aku sudah bertemu dengan Nek Sumi yang
sangat menyayangiku, sama besarnya dengan kasih sayang Mama padaku.
Oh
ya, sekarang aku juga sudah punya nama, Nek Sumi yang memberikannya.
Namaku
Zack, keren kan?
Zack,
si kucing hitam yang manis. Dan ini adalah kisahku!
*****
Langganan:
Postingan (Atom)