Sabtu, 16 April 2016

Namaku Zack

Umurku belum genap satu bulan. Aku juga belum punya nama, karena Mama belum sempat memberikannya padaku. Jalanku masih agak terseok-seok, kadang-kadang suka terpeleset. Tapi Mama selalu bilang, itu hal yang biasa untuk anak seumuran aku. Kaki belakangku belum cukup kuat menopang berat tubuhku.

Sampai hari ini aku masih belum diizinkan Mama keluar rumah. Walaupun kadang-kadang aku merasa bosan ditinggal sendirian di rumah saat Mama mencari makan di luar. Tapi rasa bosan itu segera hilang begitu Mama kembali dengan membawa ikan di mulutnya.

Dua minggu pertama setelah aku lahir ke dunia, aku hanya hidup dari ASI yang  diberikan Mama. Sekarang aku sudah diperbolehkan makan ikan.  Nyam...nyam! Harum ikan goreng yang dibawa Mama sungguh menggoda selera. Mama selalu memberiku daging yang lembut dan menyisakan bagian tulang yang keras untuk dirinya sendiri. Ah, Mama memang sangat menyayangiku.

Hari ini lagi-lagi aku bosan ditinggal sendirian. Aku ingin ikut Mama keluar, tapi Mama melarangku. Aku membandel, kuikuti Mama dari belakang dengan diam-diam. Aduh, ternyata ketahuan! Mama berbalik, menggigit tengkukku, dan membawaku kembali ke rumah.
“Kamu tidak boleh ikut, sayang. Kamu masih kecil, bahaya kalau keluar. Banyak orang jahat. Tunggu Mama di sini saja ya,” Mama menasihatiku. Aku hanya mengangguk.
Begitu Mama berjalan keluar, segera kuikuti lagi dari belakang. Kali ini aku berjalan mengendap-endap supaya tidak ketahuan Mama. Mama sempat menoleh ke belakang sekali – mungkin Mama tahu kalau aku mengikutinya – untungnya, di dekatku ada pot bunga, tubuhku kecil, jadi aku bisa sembunyi di belakang pot bunga itu.

Setelah yakin Mama tidak melihatku, aku keluar dari persembunyianku. Kakiku pendek, belum bisa jalan cepat-cepat, agak repot juga harus mengikuti Mama yang sudah jauh di depanku.
Tiba-tiba saja aku sampai di tempat yang asing, ramai sekali di sini. Kenapa banyak sekali orang lalu lalang? Aku takut sekali.

“Mama,” aku berteriak sekuat tenaga, tapi sepertinya Mama tidak mendengar panggilanku. Aku tidak berani berjalan lagi, mau pulang juga takut. Lebih baik kutunggu Mama di sini, nanti Mama pulang pasti lewat jalan ini lagi.
Kulihat Mama berhenti. Hidungnya mengendus-endus di tanah. Pasti Mama mencium bau ikan. Benar saja, kepala Mama sekarang tegak, dia berjalan, ah tidak, Mama berlari.
Tiba-tiba aku mendengar suara aneh, seperti berdecit, keras sekali. Lalu kulihat beberapa orang yang sedang berjalan berhenti. Hei, kenapa orang-orang itu berkerumun di dekat Mama? Jangan-jangan mereka mau menjahati Mama.

Aku mau mendekat, tapi aku masih takut melihat orang-orang itu. Ah, aku tidak boleh takut, aku harus ke sana dan melihat apa yang terjadi.
Aku baru berjalan beberapa langkah, ketika orang-orang itu meletakkan sesuatu di dekatku. Mama! Itu adalah Mama, tapi kenapa Mama hanya diam, tidak melawan orang-orang itu? Aku mendekati Mama, kugoyang badan Mama, tapi Mama tidak bergerak, hanya berbaring diam, matanya tertutup tidak melihatku. Ada cairan berwarna merah di kepala Mama.

Tiba-tiba aku terjungkal, ada yang menendangku. Aku berusaha bangun, tapi orang-orang itu malah mengusirku. Aku ingin melawan, tapi aku juga takut sekali, orang-orang itu badannya besar sekali, aku bahkan tidak bisa melihat jelas muka mereka. Lalu aku melihat mereka mengangkat Mama.

“Mama! Mama mau dibawa ke mana? Jangan bawa Mamaku pergi!” aku meneriaki mereka, tapi tak ada yang mendengar.
Aku menangis, aku merasa sendirian, ketakutan. Aku ingin pulang, tapi aku lupa jalannya. Aku hanya menyeret kakiku mengikuti naluriku, yang penting aku harus pergi menjauh dari keramaian ini.

Akhirnya aku sampai di tempat yang sepi, tidak ada lagi orang yang berkeliaran. Aku lapar dan haus. Biasanya saat seperti ini Mama pasti sudah pulang membawa ikan kesukaanku, dan aku bisa menyusu sepuasnya pada Mama. Tapi sekarang Mama entah ada di mana. Mungkin karena kelelahan, aku tertidur.

Tidak tahu berapa lama aku terlelap, saat membuka mata sekelilingku sudah gelap, tapi justru mataku bisa melihat semuanya lebih jelas dan terang.
Mama! Aku ingat Mama lagi, aku melihat sekelilingku, tidak ada siapa pun.
“Mama...Mama...,” aku mulai menangis lagi. Kenapa Mama tidak datang, apakah Mama tidak mendengar suaraku, padahal aku menangis cukup keras?

Hei, aku mencium sesuatu, bau yang sangat kukenal. Aku ingat, ini kan bau ikan yang biasa dibawa Mama. Perutku terasa semakin lapar. Aku mulai berjalan mengikuti penciumanku mendekati tempat asal bau itu.
Aku melihat sesuatu, dia mirip sepertiku, tapi badannya lebih besar seperti Mama. Bau itu berasal dari tempat dia berdiri. Ternyata dia yang sedang menikmati ikan itu. Mudah-mudahan dia mau berbagi sedikit denganku.

“Hei, anak kecil, jelek! Ngapain kemari? Mau mencuri makananku ya? Jangan coba-coba ya, pergi sana!” Suaranya kasar, tidak lembut seperti Mama. Dia menyeringai memperlihatkan gigi-giginya yang tajam. Ih, ngeri! Lebih baik pergi sebelum dia mencakar dan menggigitku. Aku kembali ke persembunyianku, memerhatikan dia dari jauh.

Dia sudah pergi, semoga masih ada sedikit ikan yang tersisa untukku. Aku berjalan ke sana lagi, kali ini lebih hati-hati, bersiap-siap kabur kalau dia muncul lagi.
Tidak ada daging yang tersisa, hanya tinggal sedikit tulang. Kucoba gigit dengan gigi-gigiku yang masih kecil. Keras sekali, tapi tak apalah, daripada perutku lapar.

Ada suara mendekat, aku mendongak. Seseorang berdiri di depanku, tangannya memegang sesuatu. Gerakannya cepat sekali, aku tidak sempat berlari menyelamatkan diri. Tiba-tiba aku merasa badanku dingin, sekujur tubuhku sudah basah kuyup. Aku berbalik, berlari secepat yang aku bisa, sampai-sampai terpeleset karena licin. Orang itu masih di belakangku, aku bisa mendengar suaranya, tapi tidak mengerti apa yang dikatakannya.

Aku sudah sampai ke tempat persembunyianku, tidak ada suara lagi, berarti orang itu tidak mengejarku. Aku kedinginan, badanku menggigil. Aku belum bisa menjilati bulu-buluku yang basah, biasanya Mama yang selalu menjilati aku, membersihkan tubuhku. Ingat Mama, aku menangis lagi.

Tiba-tiba aku melihat Mama, ya benar, itu Mama. Akhirnya Mama bisa mendengar aku, Mama pulang. Tapi kenapa Mama hanya berdiri di sana, diam saja, dan tidak memelukku? Aku berlari menyambut Mama. Tapi semakin aku berlari, Mama rasanya semakin jauh, lalu mendadak Mama menghilang.

“Mamaaaa!” aku terkejut mendengar teriakanku sendiri. Ternyata aku cuma bermimpi bertemu Mama.
Aku mengerjapkan mata. Hari sudah terang, badanku terasa kering dan hangat. Aku juga tidak kedinginan lagi. Tapi perutku semakin lapar, aku juga haus. Aku harus mencari makan.

Rasanya aku sudah berjalan jauh sekali, tapi aku tidak menemukan sesuatu yang bisa kumakan. Kakiku lemas sekali, aku tidak sanggup lagi berjalan. Akhirnya aku jatuh terduduk.
Sepertinya aku masih belum aman. Sekarang ada sekelompok orang yang lain mendekatiku. Mereka lebih kecil daripada orang yang menyiramku semalam, tapi mereka jauh lebih jahat. Mereka tidak hanya menyiramku, tapi juga melempariku dengan kerikil. Badanku yang baru kering jadi basah lagi, batu-batu kecil yang mengenai tubuhku sangat menyakitiku. Aku ingin berlari menghindari mereka, tapi aku sudah kehabisan tenaga. Bahkan untuk menangis saja aku sudah tidak ada suara lagi.

“Hei, anak-anak. Jangan dilempari. Kasihan!”
Aku mendengar suara di belakangku.
“Biarin saja Nek Sumi. Dia itu kotor, lihat bulunya, hitam semua. Kata orang bisa bawa sial. Jadi harus diusir jauh-jauh.”
“Ah, siapa bilang bisa bawa sial, itu takhyul. Dasar kalian anak-anak nakal. Sudah, pergi sana!”
Aneh, aku bisa mengerti semua perkataan mereka. Tubuhku diangkat oleh orang yang dipanggil Nek Sumi oleh anak-anak yang melempariku tadi.
“Manis, jangan takut ya!”
Nek Sumi membawaku masuk ke dalam rumahnya. Aku merasa aman dalam pelukan Nek Sumi. Nek Sumi membersihkan tubuhku, lalu memberiku semangkuk susu hangat. Enak sekali, perutku terasa hangat dan tidak lapar lagi.

“Terima kasih Nek Sumi,” kataku.
“Kamu lucu sekali,” kata Nek Sumi.
Ah, mungkin Nek Sumi tidak mengerti ucapanku, dia hanya membelai-belai kepalaku.
Dan Nek Sumi juga membuatkan rumah baru untukku, lebih besar dan lebih bagus daripada rumah lamaku, tempat tidurku sekarang lebih empuk.

Aku memang kehilangan Mama, tapi sekarang aku sudah bertemu dengan Nek Sumi yang sangat menyayangiku, sama besarnya dengan kasih sayang Mama padaku.
Oh ya, sekarang aku juga sudah punya nama, Nek Sumi yang memberikannya.
Namaku Zack, keren kan?

Zack, si kucing hitam yang manis. Dan ini adalah kisahku!
*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar