Umurku
belum genap satu bulan. Aku juga belum punya nama, karena Mama belum sempat
memberikannya padaku. Jalanku masih agak terseok-seok, kadang-kadang suka
terpeleset. Tapi Mama selalu bilang, itu hal yang biasa untuk anak seumuran
aku. Kaki belakangku belum cukup kuat menopang berat tubuhku.
Sampai
hari ini aku masih belum diizinkan Mama keluar rumah. Walaupun kadang-kadang
aku merasa bosan ditinggal sendirian di rumah saat Mama mencari makan di luar. Tapi
rasa bosan itu segera hilang begitu Mama kembali dengan membawa ikan di
mulutnya.
Dua
minggu pertama setelah aku lahir ke dunia, aku hanya hidup dari ASI yang diberikan Mama. Sekarang aku sudah
diperbolehkan makan ikan. Nyam...nyam! Harum ikan goreng yang dibawa Mama sungguh
menggoda selera. Mama selalu memberiku daging yang lembut dan menyisakan bagian
tulang yang keras untuk dirinya sendiri. Ah, Mama memang sangat menyayangiku.
Hari
ini lagi-lagi aku bosan ditinggal sendirian. Aku ingin ikut Mama keluar, tapi
Mama melarangku. Aku membandel, kuikuti Mama dari belakang dengan diam-diam.
Aduh, ternyata ketahuan! Mama berbalik, menggigit tengkukku, dan membawaku
kembali ke rumah.
“Kamu
tidak boleh ikut, sayang. Kamu masih kecil, bahaya kalau keluar. Banyak orang
jahat. Tunggu Mama di sini saja ya,” Mama menasihatiku. Aku hanya mengangguk.
Begitu
Mama berjalan keluar, segera kuikuti lagi dari belakang. Kali ini aku berjalan
mengendap-endap supaya tidak ketahuan Mama. Mama sempat menoleh ke belakang
sekali – mungkin Mama tahu kalau aku mengikutinya – untungnya, di dekatku ada
pot bunga, tubuhku kecil, jadi aku bisa sembunyi di belakang pot bunga itu.
Setelah
yakin Mama tidak melihatku, aku keluar dari persembunyianku. Kakiku pendek,
belum bisa jalan cepat-cepat, agak repot juga harus mengikuti Mama yang sudah
jauh di depanku.
Tiba-tiba
saja aku sampai di tempat yang asing, ramai sekali di sini. Kenapa banyak
sekali orang lalu lalang? Aku takut sekali.
“Mama,”
aku berteriak sekuat tenaga, tapi sepertinya Mama tidak mendengar panggilanku.
Aku tidak berani berjalan lagi, mau pulang juga takut. Lebih baik kutunggu Mama
di sini, nanti Mama pulang pasti lewat jalan ini lagi.
Kulihat
Mama berhenti. Hidungnya mengendus-endus di tanah. Pasti Mama mencium bau ikan.
Benar saja, kepala Mama sekarang tegak, dia berjalan, ah tidak, Mama berlari.
Tiba-tiba
aku mendengar suara aneh, seperti berdecit, keras sekali. Lalu kulihat beberapa
orang yang sedang berjalan berhenti. Hei, kenapa orang-orang itu berkerumun di
dekat Mama? Jangan-jangan mereka mau menjahati Mama.
Aku
mau mendekat, tapi aku masih takut melihat orang-orang itu. Ah, aku tidak boleh
takut, aku harus ke sana dan melihat apa yang terjadi.
Aku
baru berjalan beberapa langkah, ketika orang-orang itu meletakkan sesuatu di
dekatku. Mama! Itu adalah Mama, tapi kenapa Mama hanya diam, tidak melawan
orang-orang itu? Aku mendekati Mama, kugoyang badan Mama, tapi Mama tidak
bergerak, hanya berbaring diam, matanya tertutup tidak melihatku. Ada cairan
berwarna merah di kepala Mama.
Tiba-tiba
aku terjungkal, ada yang menendangku. Aku berusaha bangun, tapi orang-orang itu
malah mengusirku. Aku ingin melawan, tapi aku juga takut sekali, orang-orang
itu badannya besar sekali, aku bahkan tidak bisa melihat jelas muka mereka.
Lalu aku melihat mereka mengangkat Mama.
“Mama!
Mama mau dibawa ke mana? Jangan bawa Mamaku pergi!” aku meneriaki mereka, tapi
tak ada yang mendengar.
Aku
menangis, aku merasa sendirian, ketakutan. Aku ingin pulang, tapi aku lupa
jalannya. Aku hanya menyeret kakiku mengikuti naluriku, yang penting aku harus
pergi menjauh dari keramaian ini.
Akhirnya
aku sampai di tempat yang sepi, tidak ada lagi orang yang berkeliaran. Aku
lapar dan haus. Biasanya saat seperti ini Mama pasti sudah pulang membawa ikan
kesukaanku, dan aku bisa menyusu sepuasnya pada Mama. Tapi sekarang Mama entah
ada di mana. Mungkin karena kelelahan, aku tertidur.
Tidak
tahu berapa lama aku terlelap, saat membuka mata sekelilingku sudah gelap, tapi
justru mataku bisa melihat semuanya lebih jelas dan terang.
Mama!
Aku ingat Mama lagi, aku melihat sekelilingku, tidak ada siapa pun.
“Mama...Mama...,”
aku mulai menangis lagi. Kenapa Mama tidak datang, apakah Mama tidak mendengar
suaraku, padahal aku menangis cukup keras?
Hei,
aku mencium sesuatu, bau yang sangat kukenal. Aku ingat, ini kan bau ikan yang
biasa dibawa Mama. Perutku terasa semakin lapar. Aku mulai berjalan mengikuti
penciumanku mendekati tempat asal bau itu.
Aku
melihat sesuatu, dia mirip sepertiku, tapi badannya lebih besar seperti Mama.
Bau itu berasal dari tempat dia berdiri. Ternyata dia yang sedang menikmati
ikan itu. Mudah-mudahan dia mau berbagi sedikit denganku.
“Hei,
anak kecil, jelek! Ngapain kemari? Mau mencuri makananku ya? Jangan coba-coba
ya, pergi sana!” Suaranya kasar, tidak lembut seperti Mama. Dia menyeringai
memperlihatkan gigi-giginya yang tajam. Ih, ngeri! Lebih baik pergi sebelum dia
mencakar dan menggigitku. Aku kembali ke persembunyianku, memerhatikan dia dari
jauh.
Dia
sudah pergi, semoga masih ada sedikit ikan yang tersisa untukku. Aku berjalan
ke sana lagi, kali ini lebih hati-hati, bersiap-siap kabur kalau dia muncul
lagi.
Tidak
ada daging yang tersisa, hanya tinggal sedikit tulang. Kucoba gigit dengan
gigi-gigiku yang masih kecil. Keras sekali, tapi tak apalah, daripada perutku
lapar.
Ada
suara mendekat, aku mendongak. Seseorang berdiri di depanku, tangannya memegang
sesuatu. Gerakannya cepat sekali, aku tidak sempat berlari menyelamatkan diri.
Tiba-tiba aku merasa badanku dingin, sekujur tubuhku sudah basah kuyup. Aku
berbalik, berlari secepat yang aku bisa, sampai-sampai terpeleset karena licin.
Orang itu masih di belakangku, aku bisa mendengar suaranya, tapi tidak mengerti
apa yang dikatakannya.
Aku
sudah sampai ke tempat persembunyianku, tidak ada suara lagi, berarti orang itu
tidak mengejarku. Aku kedinginan, badanku menggigil. Aku belum bisa menjilati
bulu-buluku yang basah, biasanya Mama yang selalu menjilati aku, membersihkan
tubuhku. Ingat Mama, aku menangis lagi.
Tiba-tiba
aku melihat Mama, ya benar, itu Mama. Akhirnya Mama bisa mendengar aku, Mama
pulang. Tapi kenapa Mama hanya berdiri di sana, diam saja, dan tidak memelukku?
Aku berlari menyambut Mama. Tapi semakin aku berlari, Mama rasanya semakin
jauh, lalu mendadak Mama menghilang.
“Mamaaaa!”
aku terkejut mendengar teriakanku sendiri. Ternyata aku cuma bermimpi bertemu
Mama.
Aku
mengerjapkan mata. Hari sudah terang, badanku terasa kering dan hangat. Aku
juga tidak kedinginan lagi. Tapi perutku semakin lapar, aku juga haus. Aku
harus mencari makan.
Rasanya
aku sudah berjalan jauh sekali, tapi aku tidak menemukan sesuatu yang bisa
kumakan. Kakiku lemas sekali, aku tidak sanggup lagi berjalan. Akhirnya aku
jatuh terduduk.
Sepertinya
aku masih belum aman. Sekarang ada sekelompok orang yang lain mendekatiku.
Mereka lebih kecil daripada orang yang menyiramku semalam, tapi mereka jauh
lebih jahat. Mereka tidak hanya menyiramku, tapi juga melempariku dengan
kerikil. Badanku yang baru kering jadi basah lagi, batu-batu kecil yang
mengenai tubuhku sangat menyakitiku. Aku ingin berlari menghindari mereka, tapi
aku sudah kehabisan tenaga. Bahkan untuk menangis saja aku sudah tidak ada
suara lagi.
“Hei,
anak-anak. Jangan dilempari. Kasihan!”
Aku
mendengar suara di belakangku.
“Biarin
saja Nek Sumi. Dia itu kotor, lihat bulunya, hitam semua. Kata orang bisa bawa
sial. Jadi harus diusir jauh-jauh.”
“Ah,
siapa bilang bisa bawa sial, itu takhyul. Dasar kalian anak-anak nakal. Sudah, pergi
sana!”
Aneh,
aku bisa mengerti semua perkataan mereka. Tubuhku diangkat oleh orang yang dipanggil
Nek Sumi oleh anak-anak yang melempariku tadi.
“Manis,
jangan takut ya!”
Nek
Sumi membawaku masuk ke dalam rumahnya. Aku merasa aman dalam pelukan Nek Sumi.
Nek Sumi membersihkan tubuhku, lalu memberiku semangkuk susu hangat. Enak
sekali, perutku terasa hangat dan tidak lapar lagi.
“Terima
kasih Nek Sumi,” kataku.
“Kamu
lucu sekali,” kata Nek Sumi.
Ah, mungkin
Nek Sumi tidak mengerti ucapanku, dia hanya membelai-belai kepalaku.
Dan
Nek Sumi juga membuatkan rumah baru untukku, lebih besar dan lebih bagus daripada
rumah lamaku, tempat tidurku sekarang lebih empuk.
Aku
memang kehilangan Mama, tapi sekarang aku sudah bertemu dengan Nek Sumi yang
sangat menyayangiku, sama besarnya dengan kasih sayang Mama padaku.
Oh
ya, sekarang aku juga sudah punya nama, Nek Sumi yang memberikannya.
Namaku
Zack, keren kan?
Zack,
si kucing hitam yang manis. Dan ini adalah kisahku!
*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar