Parto
memandangi bungkusan besar di tangannya dengan gembira. Tahun ini majikannya
baik sekali, memberikan bingkisan lebaran lebih banyak dari tahun-tahun
sebelumnya. Biasanya dia hanya menerima dua botol markisa dan sekaleng biskuit
murah. Tetapi sekarang, selain dua botol markisa, dia juga mendapat sekaleng
besar biskuit impor, ditambah lagi tiga kaleng manisan buah, dan berbagai macam
buah segar: apel, jeruk, dan anggur.
Ijah, istrinya, dan Udin,
anak laki-laki satu-satunya, pasti senang jika dia pulang membawa oleh-oleh
sebanyak itu. Mereka belum pernah merasakan enaknya biskuit impor, apalagi
manisnya anggur yang merupakan makanan mewah bagi mereka.
Siang tadi, Lina, karyawan
Pak Broto, majikannya, menyuruhnya membawa pulang semua barang-barang yang
dikemas dalam kardus itu dari kantor. Katanya, barang-barang itu untuk
dibagikan kepada pembantu di rumah Pak Broto.
Dan dia sudah membagi
dengan adil semuanya. Mak Surti, Ani, Anto – tukang kebun, Pak Min – satpam,
dan dirinya sendiri, masing-masing mendapat bagian yang sama.
Parto menyimpan bungkusan
itu dalam kamarnya. Dia akan pulang hari Minggu, jadi masih ada waktu tiga hari
untuk mengepak barang-barang itu. Tapi sejenak Parto kelihatan ragu-ragu,
apakah buah-buahan itu bisa tahan disimpan selama itu? Selama ini yang dia
tahu, majikannya selalu menyimpan buah-buahan dalam kulkas.
Atau mungkin nanti dia
minta izin sama Bu Broto saja untuk menyimpan buah-buahan itu sementara dalam
kulkas.
***
“To,
kamu letakkan di mana bingkisan yang dititipkan Lina tadi?” tanya Pak Broto
selepas shalat Isya.
“Sudah saya bagi-bagikan
Pak, sesuai pesanan Mbak Lina.”
“Kamu bagi-bagikan sama
siapa?”
“Ya sama semuanya Pak. Mak
Surti, Ani, Anto, dan Pak Min. Saya juga Pak,” jawab Parto lugu.
“Hahh? Siapa yang suruh
kamu lakukan hal itu? Lancang sekali kamu!" Pak Broto berteriak emosi.
“Tapi Pak….. saya hanya
melakukan apa yang dibilang Mbak Lina. Katanya Bapak yang menyuruh,” Parto
mulai ketakutan.
“Ah, bohong itu! Saya tak
pernah mengatakan itu. Harusnya kamu tanya dulu sama saya. Bingkisan itu mau
saya berikan pada kolega saya, bukan untuk kalian. Pokoknya saya tidak mau
tahu! Saya akan potong harga bingkisan itu dari THR kamu!”
Parto mengerut, dia ingin
protes, tapi pasti tak ada gunanya. Bisa-bisa nanti malah gajinya ikut sekalian
dipotong.
Parto memandang bungkusan
di atas meja dengan sedih. Baru beberapa jam yang lalu dia merasa senang karena
membayangkan betapa gembiranya nanti Ijah dan Udin menyambutnya pulang dengan
membawa banyak oleh-oleh, sekarang kebahagiaan itu menguap.
Mungkin sebaiknya dia
mengembalikan barang-barang itu, jadi uang THR-nya tidak akan dipotong. Tapi,
bagaimana mengatakannya pada yang lain? Mereka pasti sedih sekali. Apalagi Mak
Surti, yang tadi paling gembira ketika menerima bingkisan itu. Parto jadi tak
tega.
“To, semalam kamu dimarahi
Pak Broto ya?” tanya Mak Surti. Parto yang sedang memanaskan mesin mobil jadi
gugup.
“Iya Mak,” jawabnya pelan.
“Memangnya kenapa? Mak
mendengar suara Pak Broto keras sekali, tapi Mak kurang jelas apa yang
dikatakannya.”
“Ah, bukan masalah besar
Mak,” elak Parto.
“Apa karena bingkisan
kemarin?”
Parto kaget.
“Kok Mak tahu?”
“Mak hanya menebak.
Seumur-umur Mak kerja di sini, Pak Broto belum pernah kasih barang sebagus ini.
Mak jadi curiga aja.”
Dengan berat hati akhirnya
Parto menceritakan yang sebenarnya.
“Mak tahu apa yang harus
kita lakukan.”
“Maksud Mak, kita
kembalikan lagi barang-barang itu?”
Mak Surti mengangguk.
“Nanti kita bicara lagi.”
Mak Surti melangkah masuk, saat dilihatnya Pak Broto berjalan menuju ke mobil.
***
“Permisi Pak, maaf
mengganggu,” ucap Mak Surti sopan. Pak Broto sedang menonton televisi
sendirian, istrinya belum pulang dari acara buka puasa bersama di kantornya.
“Ada apa Mak?” Pak Broto menoleh dan baru
sadar, ternyata Mak Surti tidak sendirian, Ani, Anto, Pak Min dan Parto berdiri
di belakangnya.
“Kami cuma mau mengucapkan
terima kasih atas bingkisan lebaran dari Bapak. Tapi kami tidak bisa
menerimanya, karena harus mengorbankan uang THR Parto. Jadi kamu mau
mengembalikan bingkisan ini.” Mak Surti meletakkan sebuah bungkusan di atas
meja. Ani, Anto, Pak Min dan Parto juga melakukan hal yang sama.
Pak Broto terkesima.
Dadanya terasa sesak oleh rasa haru. Dia tidak bisa berkata apa-apa, matanya
menatap lama barang-barang yang tergeletak di atas meja.
“Kami harap, Bapak tidak
jadi memotong uang THR Parto,” ujar Mak Surti lagi.
“Mak, ambillah kembali
barang-barang itu. Bingkisan itu memang untuk kalian.”
Sekarang giliran Mak Surti
dan lainnya yang terkejut. Pak Broto memandangi mereka satu persatu.
“Saya mau minta maaf.
Seharusnya masalah kecil ini tidak perlu dibesar-besarkan. Dan bukan Parto yang
salah. Tadi Lina sudah mengakui
kesalahannya. Jadi saya harap kalian bisa melupakan kesalahpahaman ini.”
Pak Broto terenyuh melihat
raut kegembiraan di wajah mereka ketika menerima kembali bingkisan itu dan
berulang kali mengucapkan terima kasih.
x
Tidak ada komentar:
Posting Komentar