Sabtu, 16 April 2016

Parcel

Parto memandangi bungkusan besar di tangannya dengan gembira. Tahun ini majikannya baik sekali, memberikan bingkisan lebaran lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya. Biasanya dia hanya menerima dua botol markisa dan sekaleng biskuit murah. Tetapi sekarang, selain dua botol markisa, dia juga mendapat sekaleng besar biskuit impor, ditambah lagi tiga kaleng manisan buah, dan berbagai macam buah segar:  apel, jeruk, dan anggur.

Ijah, istrinya, dan Udin, anak laki-laki satu-satunya, pasti senang jika dia pulang membawa oleh-oleh sebanyak itu. Mereka belum pernah merasakan enaknya biskuit impor, apalagi manisnya anggur yang merupakan makanan mewah bagi mereka.

Siang tadi, Lina, karyawan Pak Broto, majikannya, menyuruhnya membawa pulang semua barang-barang yang dikemas dalam kardus itu dari kantor. Katanya, barang-barang itu untuk dibagikan kepada pembantu di rumah Pak Broto.
Dan dia sudah membagi dengan adil semuanya. Mak Surti, Ani, Anto – tukang kebun, Pak Min – satpam, dan dirinya sendiri, masing-masing mendapat bagian yang sama.

Parto menyimpan bungkusan itu dalam kamarnya. Dia akan pulang hari Minggu, jadi masih ada waktu tiga hari untuk mengepak barang-barang itu. Tapi sejenak Parto kelihatan ragu-ragu, apakah buah-buahan itu bisa tahan disimpan selama itu? Selama ini yang dia tahu, majikannya selalu menyimpan buah-buahan dalam kulkas.
Atau mungkin nanti dia minta izin sama Bu Broto saja untuk menyimpan buah-buahan itu sementara dalam kulkas.
 ***
“To, kamu letakkan di mana bingkisan yang dititipkan Lina tadi?” tanya Pak Broto selepas shalat Isya.
“Sudah saya bagi-bagikan Pak, sesuai pesanan Mbak Lina.”
“Kamu bagi-bagikan sama siapa?”
“Ya sama semuanya Pak. Mak Surti, Ani, Anto, dan Pak Min. Saya juga Pak,” jawab Parto lugu.
“Hahh? Siapa yang suruh kamu lakukan hal itu? Lancang sekali kamu!" Pak Broto berteriak emosi.
“Tapi Pak….. saya hanya melakukan apa yang dibilang Mbak Lina. Katanya Bapak yang menyuruh,” Parto mulai ketakutan.
“Ah, bohong itu! Saya tak pernah mengatakan itu. Harusnya kamu tanya dulu sama saya. Bingkisan itu mau saya berikan pada kolega saya, bukan untuk kalian. Pokoknya saya tidak mau tahu! Saya akan potong harga bingkisan itu dari THR kamu!”
Parto mengerut, dia ingin protes, tapi pasti tak ada gunanya. Bisa-bisa nanti malah gajinya ikut sekalian dipotong.

Parto memandang bungkusan di atas meja dengan sedih. Baru beberapa jam yang lalu dia merasa senang karena membayangkan betapa gembiranya nanti Ijah dan Udin menyambutnya pulang dengan membawa banyak oleh-oleh, sekarang kebahagiaan itu menguap.
Mungkin sebaiknya dia mengembalikan barang-barang itu, jadi uang THR-nya tidak akan dipotong. Tapi, bagaimana mengatakannya pada yang lain? Mereka pasti sedih sekali. Apalagi Mak Surti, yang tadi paling gembira ketika menerima bingkisan itu. Parto jadi tak tega.

“To, semalam kamu dimarahi Pak Broto ya?” tanya Mak Surti. Parto yang sedang memanaskan mesin mobil jadi gugup.
“Iya Mak,” jawabnya pelan.
“Memangnya kenapa? Mak mendengar suara Pak Broto keras sekali, tapi Mak kurang jelas apa yang dikatakannya.”
“Ah, bukan masalah besar Mak,” elak Parto.
“Apa karena bingkisan kemarin?”
Parto kaget.
“Kok Mak tahu?”
“Mak hanya menebak. Seumur-umur Mak kerja di sini, Pak Broto belum pernah kasih barang sebagus ini. Mak jadi curiga aja.”
Dengan berat hati akhirnya Parto menceritakan yang sebenarnya.
“Mak tahu apa yang harus kita lakukan.”
“Maksud Mak, kita kembalikan lagi barang-barang itu?”
Mak Surti mengangguk.
“Nanti kita bicara lagi.” Mak Surti melangkah masuk, saat dilihatnya Pak Broto berjalan menuju ke mobil.
 ***
“Permisi Pak, maaf mengganggu,” ucap Mak Surti sopan. Pak Broto sedang menonton televisi sendirian, istrinya belum pulang dari acara buka puasa bersama di kantornya.
Ada apa Mak?” Pak Broto menoleh dan baru sadar, ternyata Mak Surti tidak sendirian, Ani, Anto, Pak Min dan Parto berdiri di belakangnya.
“Kami cuma mau mengucapkan terima kasih atas bingkisan lebaran dari Bapak. Tapi kami tidak bisa menerimanya, karena harus mengorbankan uang THR Parto. Jadi kamu mau mengembalikan bingkisan ini.” Mak Surti meletakkan sebuah bungkusan di atas meja. Ani, Anto, Pak Min dan Parto juga melakukan hal yang sama.
Pak Broto terkesima. Dadanya terasa sesak oleh rasa haru. Dia tidak bisa berkata apa-apa, matanya menatap lama barang-barang yang tergeletak di atas meja.
“Kami harap, Bapak tidak jadi memotong uang THR Parto,” ujar Mak Surti lagi.
“Mak, ambillah kembali barang-barang itu. Bingkisan itu memang untuk kalian.”
Sekarang giliran Mak Surti dan lainnya yang terkejut. Pak Broto memandangi mereka satu persatu.
“Saya mau minta maaf. Seharusnya masalah kecil ini tidak perlu dibesar-besarkan. Dan bukan Parto yang salah.  Tadi Lina sudah mengakui kesalahannya. Jadi saya harap kalian bisa melupakan kesalahpahaman ini.”
Pak Broto terenyuh melihat raut kegembiraan di wajah mereka ketika menerima kembali bingkisan itu dan berulang kali mengucapkan terima kasih.

x

Tidak ada komentar:

Posting Komentar