Jumat, 04 November 2016

Sahabat dalam Kenangan

25 tahun yang lalu,
Kita bertemu,
Berkenalan,
Saling jabat tangan,
Saling sebut nama,
Hari itu, kita menjadi sahabat.

3 tahun kita bersama,
Menjalani hari penuh warna,
Kita tertawa bersama,
Berbagi canda,
Kadang kita berdebat,
Bahkan juga bertengkar,
Tetapi, kita tetap sahabat.

Waktu berlalu,
Masa remaja terlewati sudah,
Kita pun harus berpisah,
Menempuh jalan berbeda,
Untuk mengejar cita-cita dan impian kita,
Namun, walau terpisah jarak ribuan mil,
Kita tetap sahabat.

Tahun berganti,
Kehidupan berubah,
Kesibukan membuat kita kekurangan waktu,
Kita tak sempat lagi bertukar kabar, berbagi kisah,
Persahabatan kita merenggang.

Hingga suatu hari, 2 tahun yang lalu,
Seorang teman membawa berita duka,
Engkau sedang sakit, sangat parah,
Berbagai obat yang kautelan, juga yang disuntikkan ke tubuhmu,
Tak mampu melawan penyakit yang menderamu,
Helai demi helai rambutmu ikut luruh,
Engkau semakin lemah.

Takdirmu begitu berat,
Usiamu masih muda,
Engkau sedang dalam masa emasmu,
Karir yang cemerlang,
Keluarga yang bahagia,
Tiba-tiba semuanya seolah direnggut darimu,

Akhirnya,
Engkau sampai pada ujung jalanmu,
Walau semangat hidupmu masih berkobar,
Tetapi tubuhmu telah menyerah,
Engkau harus pergi,
Meninggalkan semua yang kaucintai,
Walau hatimu tak rela.

Setahun yang lalu,
Kami melepasmu dalam kesedihan,
Mengiringi kepergianmu dengan doa,
Semoga engkau terbebas dari penderitaan dan menuju alam bahagia.


Setahun berlalu,
Hidup terus berjalan,
Kami telah berdamai dengan kesedihan dan duka masa lalu,
Kami telah merelakan kepergianmu,
Semoga engkau juga telah bahagia di sana.

Hari ini, kami mengenang kembali dirimu,
Memutar memori tentang kebersamaan kita dahulu,
Rindu perlahan menyeruak,
Kami akan selalu mencintaimu,
Walau dunia kita terpisah,
Kita adalah sahabat,
Selamanya.

(Setahun dalam kenangan :
Lily Chandia Halim
23 Apr 1976 - 4 Nov 2015)

Kamis, 28 Juli 2016

Lamunan Senja

Suatu senja, seorang perempuan tua termenung di teras rumah kayu sederhana,
Tubuh rentanya terbalut baju putih dan kain sarung berwarna coklat,
Dengan rambut kelabunya yang tergelung rapi,
Wajah keriputnya tampak segar selepas mandi,
Walaupun sedikit terlalu putih oleh taburan bedak.

Tangan rapuhnya memegang cangkir berisi teh hangat,
Kadang sepiring ubi rebus ikut menemaninya melewati petang,
Mata rabunnya menatap hampa ke jalan,
Memerhatikan mobil dan motor yang berlalu di hadapannya,
Pikirannya menerawang jauh ke belakang,
Mengenang pahit kehidupan di masa lalu.

Dulu, dulu sekali, di masa mudanya,
Dia pernah merasakan kerasnya kehidupan di jalan,
Ditinggal mati suami karena perang,
Menjadi janda di usia belia,
Bekerja serabutan,
Mengasong dari terminal ke terminal,
Bergelut di bawah terik matahari dan dinginnya hujan,
Demi sesuap nasi,
Yang kadang bahkan tak cukup mengenyangkan perut anak-anaknya.

Hidup berpindah dari gubuk ke gubuk,
Pernah diusir karena tak mampu membayar uang sewa,
Membuatnya harus tidur beralas  tanah dan beratap langit,
Ditemani nyanyian nyamuk yang berdengung  di telinganya setiap malam.

Namun dia tak pernah menyerah,
Tekadnya sekeras baja,
Berjuang agar buah hatinya bisa hidup bahagia,
Makan kenyang, tidur nyenyak, sekolah tinggi,
Agar kelak tidak luntang-lantung seperti dirinya.

Kini, tujuan hidupnya telah tercapai,
Anak-anaknya telah menjadi orang,
Hidup senang dan nyaman,
Makan cukup, tidur di kasur empuk,
Tak perlu khawatir kelaparan, kepanasan dan kehujanan.

Walau kadang dia dilanda sepi,
Dadanya sesak oleh rindu yang mendera batin,
Anak cucunya terlalu sibuk dengan urusan mereka sendiri,
Seakan melupakan keberadaannya di sini.

Tubuh tuanya memang sudah lemah,
Tulangnya sudah lapuk,
Dia sudah tak berguna, tak bisa bekerja lagi,
Anak-anaknya sudah tak membutuhkannya lagi,
Mereka tak menghiraukannya lagi,
Meninggalkannya sendirian di sini.

Ah, dia merindukan saat-saat dulu,
Ketika anak-anaknya masih kecil, masih di sisinya,
Meskipun mereka selalu kekurangan,
Tetapi mereka selalu bersama, tak pernah terpisah.

Langit semakin kelam,
Senja telah berlalu,
Malam segera datang menjemput,
Jalan mulai lengang,
Perempuan tua itu masih termenung menatap langit.

Tiba-tiba bibirnya menyunggingkan senyum,
Matanya berbinar,
Raut wajah ceria yang sudah hilang sekian tahun muncul kembali.

Dia melihatnya di sana, di atas langit malam,
Sang suami tersenyum memandangnya,
Sorot matanya menyiratkan keteduhan,
Tatapan yang pernah sangat dicintainya,
Hadir lagi di hadapannya.

Perempuan tua itu mengulurkan tangan,
Menyambut kekasih hati,
Yang datang menjemputnya,
Menggandeng tangannya,
Mengajaknya pergi,
Menembus kegelapan,
Menghapus segala keresahan hatinya,
Bersama, menuju keabadian.


*****

Selasa, 10 Mei 2016

Hujan

Hujan,
mengingatkan aku pada hari itu,
pada dirimu,
pada kenangan indah kita yang terjalin saat itu.

Kita berjalan bersama,
berboncengan di atas motormu,
menembus malam,
di bawah siraman air yang tumpah dari langit.

Kita basah,
tetapi kita tertawa bahagia,
hatiku terasa hangat,
dalam dekapan cintamu.

Hari ini,
aku memandang awan kelabu yang menggantung di langit,
angin berhembus membelai kulitku
tetes air hujan membasahi tubuhku.

Aku menggigil kedinginan,
menangis dalam diam,
air mata mengalir bersatu dengan air hujan membasahi wajah.

Engkau pergi,
cintamu berlalu,
membawa serta cintaku,
bahagiaku lenyap,
sedih melanda,
membekukan hatiku,
menjadi dingin, sedingin malam yang kelam.

Minggu, 08 Mei 2016

Hanya Sebatas Impian

Macet lagi!
"Huff..!" Jasmine menghembuskan nafas kesal.
Sudah sepuluh menit angkot yang ditumpanginya terjebak macet, tidak bisa bergerak seinci pun. Stuck total!

Kalau begini, dia pasti terlambat lagi. Sudah dua hari ini dia terlambat terus, dan mendapat pelototan dari Mbak Lisna, asisten kepala HRD.

Hei, bukan maunya dia untuk terlambat! Selama ini - selama setahun dia bekerja di sini - dia juga belum pernah terlambat. Dia selalu berangkat dari rumah jam tujuh lewat seperempat, berjalan kira-kira lima menit ke halte di depan komplek rumahnya, ditambah beberapa menit waktu untuk menunggu mobil angkutan umum, paling lama empat puluh menit pasti sudah sampai ke kantor - dan masih ada waktu lima menit sebelum jam kerja dimulai.

Tetapi dua hari ini, entah kenapa, jalan begitu macet. Puluhan, atau mungkin juga ratusan kendaraan, mulai dari mobil, motor, bahkan becak, berjubel memenuhi jalan. Sampai-sampai dia mengira ada  konvoi mobil pejabat atau kecelakaan. Bahkan kemarin, baru lima menit dia menaiki angkot yang biasa ditumpanginya, kemacetan sudah menghadang di depan, sepanjang jalan, sebelum  persimpangan empat Tritura hingga simpang Avros. Angkotnya merayap seperti kura-kura, - rasanya jalan kura-kura masih lebih cepat.
Oke, yang terakhir ini agak hiperbola. Tapi, macetnya benar-benar keterlaluan. Alhasil, dia baru sampai di kantor satu jam kemudian, dan dipelototi Mbak Lisna lagi.

"Sudah tahu macet, kenapa nggak berangkat lebih pagi?" tegur Mbak Lisna kemarin padanya.

Makanya, daripada terlambat lagi, terus didamprat Mbak Lisna lagi, lalu diadukan ke kepala HRD - yang ujung-ujungnya nanti pasti gajinya dipotong - Jasmine berencana pagi ini  berangkat setengah jam lebih awal.

Tetapi, apa boleh buat, seperti kata pepatah, manusia berencana, Tuhan yang menentukan. Niatnya untuk bangun lebih pagi dan berangkat lebih pagi gagal, gara-gara semalam PLN yang melakukan pemadaman listrik - tak tanggung-tanggung, sampai lima jam. Ditambah lagi cuaca yang begitu panas karena sudah hampir seminggu ini tak hujan. Tanpa AC dan kipas angin, dia gerah dan kepanasan, tidak bisa tidur. Akhirnya, dia baru terlelap jam dua dini hari, setelah lampu menyala lagi.

Dan akibatnya, tentu saja, dia terlambat bangun. Saat dia membuka mata, langit sudah terang, sudah setengah tujuh lewat beberapa menit. Gara-gara kesal dengan PLN, dia lupa memasang alarm semalam. Sialnya, Mamanya - yang biasanya selalu bangun jam lima pagi - juga ikut-ikutan kesiangan. Ditambah lagi dengan acara berebut - satu-satunya - kamar mandi di rumahnya dengan Jefry, adik semata wayangnya yang masih duduk di kelas XII - walaupun akhirnya dia terpaksa mengalah pada sang adik yang sedang ujian akhir.

Akhirnya, pagi tadi, semua dilakukannya serba terburu-buru. Mandi ala kadarnya alias mandi bebek - asal siram yang penting basah. Dandan ala kadarnya, hanya berbedak dan lipstik - tanpa embel-embel maskara, eyeshadow dan blush on seperti biasanya. Sarapan juga ala kadarnya, hanya semangkuk sereal instan - bukan nasi goreng atau roti bakar yang biasa disiapkan Mamanya. Itu pun sudah menghabiskan waktu hampir setengah jam - biasanya malah bisa sampai satu jam baginya untuk melakukan ritual paginya itu.

Ketika dia keluar dari rumah tadi, jam sudah menunjukkan tujuh lewat sepuluh, Hanya lebih awal lima menit dari biasanya.

Dan sekarang - seperti halnya kemarin - baru lima menit jalan, mobilnya sudah terjebak di tengah-tengah jalan, tak bisa maju apalagi mundur.
Beberapa motor menyalip dari sisi kiri jalan, ada yang naik ke trotoar. Jasmine menatap iri ke arah mereka. Seandainya dia punya motor, dia pasti tak perlu takut terlambat.

Jasmine tersentak dari lamunannya. Mobil sedikit oleng. Rupanya sang supir melihat ada celah dan banting setir, mencoba mengambil lajur kiri, bersamaan dengan sebuah sepeda motor yang datang dari arah belakang.

"TEEET!"
Suara klakson motor terdengar memekakkan telinga.

Hampir saja kedua kendaraan  itu berciuman seandainya saja sang supir tidak sempat menginjak rem. Akibatnya Jasmine - dan juga penumpang lain dalam mobil terdorong ke depan.

Suara deru mesin kendaraan yang sudah bising sekarang ditingkahi lagi dengan umpatan dari pengendara motor yang hampir tertabrak tadi. Tak mau kalah, sang supir juga ikut-ikutan marah dan mengumpat sambil menunjuk-nunjuk ke arah pengendara motor, walaupun suaranya tak bisa terdengar oleh penumpang yang duduk di belakang, karena mobil angkotnya memang model yang sudah tua - di mana pintu penumpang ada di belakang dan ada sekat kaca yang memisahkan supir dengan penumpang di belakang.

Dasar supir sinting, dia yang salah, dia pula yang marah-marah! Jasmine ikut mengumpat dalam hati.

Rentetan suara klakson dari belakang akhirnya membubarkan keributan kecil itu. Sang pengendara motor berlalu setelah menggeber motornya - sebagai luapan rasa marah yang tak terpuaskan.

Mobil akhirnya bisa melaju sedikit lebih kencang setelah berhasil masuk ke lajur kiri, walaupun agak melompat-lompat karena ban sebelah kirinya melindasi pinggir jalan tak beraspal yang berbatu-batu dan berpasir, dan lebih rendah dari badan jalan - membuatnya seakan sedang naik kuda.

Tetapi baru beberapa puluh meter, supir menginjak rem lagi - masih dengan gaya yang sama seperti tadi, tiba-tiba dan langsung sampai kandas - dan lagi-lagi membuat mereka yang duduk di belakang tersentak dan terdorong ke belakang.

Hahh! Sial benar dia hari ini, sudah kesiangan, ketemu supir edan lagi! Jasmine mendecak sebal. Dan sepertinya bukan hanya dia yang kesal, sebagian penumpang lain di sebelahnya juga menggerutu.

Ternyata mobil berhenti karena ada penumpang baru yang mau naik. Jasmine mengamati sejenak bangku di depannya, menghitung, ada enam orang, berarti sudah penuh. Sedangkan bangku di sisi yang dia duduki saat ini sudah ada lima orang termasuk dirinya, jadi masih bisa muat satu orang lagi.
Jasmine menggeser duduknya ke arah luar, bermaksud agar penumpang yang akan naik itu masuk dan duduk di sebelah dalam. Tapi belum dua detik, dia terpaksa bergeser lagi, kali ini lebih ke dalam, sampai ke ujung. Karena penumpang baru itu ternyata seorang ibu paruh baya bertubuh besar, membawa keranjang yang juga tak kalah besarnya. Rasanya tak mungkin si ibu mau masuk dan duduk di dalam apalagi paling ujung, sedangkan untuk naik ke mobil ini - yang pijakannya lumayan tinggi - sepertinya si ibu sudah kesusahan. Di tambah lagi keadaan dalam mobil angkot yang sempit dan penuh, sampai-sampai orang yang duduk berhadapan bisa laga lutut.

Jasmine meringis saat merasakan tubuhnya terhimpit ke dinding ketika si ibu akhirnya berhasil naik dan duduk di ujung luar dekat pintu. Dia merasa gerah, angkot ini benar-benar tua, dan sudah keropos. Bangkunya tak empuk lagi, kain pelapisnya koyak dan banyak tempelan, sebagian busanya bahkan terlihat mengintip keluar. Atapnya tidak dilapisi apapun, yang terlihat hanyalah rangka besinya yang sudah berkarat, dan ada titik-titik lubang kecil - yang kalau hujan, dia yakin mobil ini pasti bocor. Jendelanya kecil, kacanya tak bisa dibuka lagi.

Huhh! Dia benar-benar kepanasan. Satu-satunya lubang angin yang ada di dekat atap tak cukup besar untuk membawa angin masuk ke dalam mobil.
Jasmine menyeka titik-titik keringat yang bermunculan di dahi. Dia menguap beberapa kali.
Ah!  Dia merindukan bantalnya lagi, tidurnya semalam belum terpuaskan.

Tiba-tiba Jasmine terpaku. Matanya tak berkedip menatap ke depan. Dia sampai lupa menurunkan tangannya yang masih menutupi mulutnya yang menguap tadi.

Oh My God! Mama! Dani Pedrosa datang ke Medan!

Ah, tentu saja itu mustahil. Mana mungkin seorang Dani Pedrosa datang ke sini, apalagi berdesak-desakan dalam angkot tua seperti ini. Tapi makhluk yang duduk tepat di depannya sekarang ini memang seperti kloningnya sang pembalap motogp dari negeri matador itu. Alis, hidung, bibirnya, nyaris sempurna. Wajahnya juga putih bersih, dengan rambut yang dipangkas rapi.

Yah, Jasmine memang sangat menggemari olahraga khas pria itu, meskipun hanya sebatas jadi penonton melalui televisi di rumah. Dan tentu saja dia punya pembalap favorit, siapa lagi kalau bukan Dani Pedrosa, si ganteng Little Spaniard dari Spanyol yang memakai nomor keramat 26.

Yang membedakan laki-laki di depannya dengan pembalap idolanya itu hanya penampilannya saja. Laki-laki tampan di hadapannya ini jelas tidak memakai baju pembalap. Penampilannya rapi, ala eksekutif muda, kemeja biru muda, celana panjang berbahan kain warna hitam, sepatu kulit hitam mengilap. Sebuah tas laptop ada di pangkuannya. Dan juga sebuah kotak makan.

Wow! Seorang laki-laki tampan dengan kotak bekalnya! Pasti dia adalah laki-laki yang baik dan penyayang keluarga. Kotak bekal itu pasti disiapkan oleh istrinya.
Eh, istri? Apakah laki-laki ini sudah menikah? Yah, mungkin saja. Laki-laki setampan dia tak mungkin masih menjomblo. Sungguh beruntung perempuan yang menjadi istrinya.

Jasmine meringis tanpa sadar memikirkan kalimat-kalimat yang berseliweran di kepalanya.

"TIIN...TIIIN!"
Suara klakson mobil membuyarkan lamunan Jasmine, mengembalikannya ke alam nyata. Dia mengerjap dan menoleh ke kiri. Untung dia duduk di sudut, dan tak ada yang memperhatikan sikapnya tadi. Dan untungnya juga laki-laki tampan yang jadi objek lamunannya tadi sedang memejamkan mata - sepertinya sedang tidur. Gila, merem saja sudah begitu ganteng, apalagi kalau melek.

"TIIIIIIN!"
Lagi-lagi klakson yang memekakkan kuping itu menghempaskannya dari alam khayal. Sampai-sampai dia, dan beberapa penumpang lain dalam angkot, menutup telinga.

Jasmine mengintip ke depan, melalui sekat kaca. Ah, mereka baru tiba di persimpangan Tritura. Lampu merah sedang menyala, dan kalau melihat arus kendaraan yang lewat, bakal lama baru lampu hijau, karena ini adalah persimpangan empat dan dilalui kendaraan dari empat arah. Dan angkot yang ditumpanginya ini ternyata berada di lajur kiri, jalurnya kendaraan yang mau belok ke kiri. Pantas saja mobil-mobil di belakang yang hendak belok ke kiri protes karena jalan mereka terhalang. Sang supir ngeyel juga, dia tak juga bergerak walau di belakang suara klakson semakin ramai bersahutan, bahkan ada yang berteriak menyuruh maju.

Tiba-tiba seorang polisi, entah dari mana muncul - barangkali dari pos polisi di seberang jalan - datang menghampiri. Sepertinya sang supir kelabakan, takut ditilang. Dia segera membelokkan mobil ke kiri sebelum polisi itu sempat menahannya. Dan itu artinya, mobil harus memutar balik dari belokan U Turn yang terletak beberapa ratus meter dari persimpangan ini. Sedangkan arus kendaraan dari sisi seberang jalan yang menuju ke persimpangan Tritura tidak bergerak sama sekali - karena terjebak lampu merah.
Jasmine berdecak jengkel. Mobilnya lagi-lagi harus berhenti di titik U Turn karena tidak bisa memotong antrian kendaraan yang begitu panjang.
Urgh! Supir tua ini benar-benar akan membuatnya terlambat.
Tak bisa berbuat apa-apa, Jasmine akhirnya memejamkan matanya, pasrah.

***

Jasmine terperangah, matanya terbelalak. Si Dani Pedrosa tersenyum padanya. Oke, dia berlebihan, terlalu mendramatisir. Yang tersenyum itu bukan Dani Pedrosa, tapi hanya duplikatnya. Tapi tetap saja dia kaget. Makhluk tampan di depannya ini kan tidak dikenalnya, tapi kenapa malah tersenyum padanya? Iya, padanya. Bukan pada orang di sebelahnya. Matanya jelas-jelas menatap ke depan, ke arahnya, bukan ke kiri, ke kanan, apalagi ke belakang. Dan senyumannya itu sukses membuat jantungnya mendadak dangdut.
Dia jadi salah tingkah. Apa dia harus membalas senyumnya? Kalau tak dibalas, berdosakah? Kalau dibalas, takutnya disangka ge-er.
Ah, kenapa dia jadi lebay begini? Itu kan cuma sebuah senyuman.

Akhirnya Jasmine membuang pandang, bersikap sewajar mungkin, seolah tak melihat senyuman itu. Walaupun agak susah - matanya yang sok genit, sebentar-sebentar melirik dan mencuri pandang ke depan. Dan astaga, laki-laki itu masih menatapnya dengan senyum yang masih melekat di bibirnya.

Gara-gara sibuk meredam debur jantungnya, Jasmine sampai lupa memerhatikan jalan. Dia baru ingat ketika mobil telah melewati kantornya beberapa meter dan segera memencet bel, bersamaan dengan sebuah tangan yang juga terulur menyentuh bel - ternyata tangan lelaki itu. Tangan mereka bersentuhan.
Jasmine tersentak, tangannya bagai tersengat listrik. Refleks dia dia menarik kembali tangannya. Dan laki-laki itu, masih dengan senyum yang sama, menyilakan dengan isyarat tangan agar dia turun terlebih dahulu. Semua penumpang sudah turun - entah kapan, dia tak menyadarinya - hanya tinggal mereka berdua.

"Mau nyeberang?"
Jasmine menoleh, laki-laki itu sudah berdiri di sampingnya.

"I..iya," sahut Jasmine hampir menyerupai bisikan. Sial, kenapa dia jadi gugup.
Laki-laki itu sekarang berpindah ke samping kanannya - seolah ingin melindunginya dari kendaraan yang datang dari arah kanan jalan satu arah ini. Ah, sungguh gentle.

"Ayo!"
Jasmine terpaku sejenak menatap tangan yang terulur itu, sebelum akhirnya memutuskan untuk mengabaikannya dan ikut menyeberang.

"Hei, tunggu!"
Jasmine menoleh.

"Kamu kerja di mana?"

"Di sana," Jamine menunjuk ke arah sebuah gedung bertingkat enam di sebelah kanan.

"Saya kerja di sini," laki-laki itu menunjuk ke gedung di hadapan mereka - yang adalah sebuah bank.
 Aha, dia seorang bankir, batin Jasmine.

"Ternyata selama ini kita sangat dekat ya." Dia tertawa kecil, dan lagi-lagi sukses membuat Jasmine terpesona.

"Kenalkan, saya Bayu," dia mengulurkan tangannya.

"Jasmine."

Genggaman tangannya begitu hangat, membuat Jasmine enggan melepaskannya.

"Hp kamu ada?"

"Eh, untuk apa?"

Seketika Jasmine memasang sikap waspada. Wajarlah, mereka baru kenal beberapa menit yang lalu, masa sekarang orang ini mau meminta handphonenya. Yah, walaupun dia tampan, tapi tidak menjamin kalau dia orang baik kan?
Curiga itu tetap perlu, apalagi handphonenya baru dibelinya dua bulan yang lalu, cicilannya belum lunas pula.

"Jangan takut, saya bukan rampok kok."

Jasmine bisa merasakan wajahnya panas.
Waduh! Kenapa laki-laki ini bisa membaca pikirannya? Rutuknya dalam hati.

"Boleh saya pinjam hpmu sebentar?"
Laki-laki itu mengulangi permintaannya.
Dengan perasaan malu, tapi tetap sedikit curiga, Jasmine mengeluarkan handphonenya dari dalam tas dan menyerahkannya.

Jasmine memperhatikan laki-laki yang mengaku bernama Bayu itu mengetik sesuatu di handphonenya, lalu mengeluarkan handphonenya sendiri dari saku celana.

"Ini, sudah. Jangan dihapus ya!" dia mengembalikan handphone Jasmine sambil tersenyum lebar.

"Sampai jumpa lagi Jasmine," dia melambai dan melangkah masuk ke kantornya, meninggalkan Jasmine yang masih terpaku.

***

Jasmine mematut diri, memandang bayangan yang terpantul di cermin. Gaun tanpa lengan selutut berwarna biru muda bermotif polkadot, rambut ikal sebahunya digerai dan dihiasi  bando berwarna senada dengan gaunnya.
Sempurna.
Dia sedang bahagia, bibirnya yang terpoles lipstik merah muda tak berhenti menyunggingkan senyum sejak tadi. Bagaimana tidak? Hari ini Bayu mengajaknya kencan.
Memang sih, tadi di telepon Bayu hanya menyebut jalan-jalan, tetapi jika seorang pria dewasa mengajak keluar seorang wanita dewasa pada malam Minggu, bisa kan ini disebut kencan?

***

Jasmine terpana, dia memandang takjub pada apa yang terhampar di depan matanya. Jalan di depan alun-alun kota gemerlap oleh kerlip lampu warna-warni, gedung-gedung tinggi di kejauhan bersinar terang. Ini sungguh indah. Dia belum pernah keluar di malam hari. Selama ini dunianya hanya berputar antara rumah dan kantor. Pemandangan seperti ini hanya pernah dilihatnya di televisi.

"Apa pemandangan di luar lebih menarik dari aku?"

Seketika Jasmine menoleh. Dia tersipu, karena hampir lupa kalau dia tidak sendirian.

"Maaf," ujarnya lebih menyerupai bisikan. Wajahnya merona.
Hari ini dia mendapat banyak kejutan dari laki-laki tampan yang sedang duduk di hadapannya saat ini.
Bolehkah dia merunutnya satu persatu?

Sejak awal perjumpaannya dengan Bayu, laki-laki itu sukses membuat pikirannya porak poranda, dia dilanda rasa penasaran setengah mati. Bayu tak pernah menghubunginya, padahal dia tahu persis saat laki-laki itu  meminjam handphonenya di pagi itu tujuannya adalah mencatat nomornya. Tapi tak mungkin dia yang menghubungi lebih dulu, bisa jatuh harga dirinya sebagai perempuan.
Setelah seminggu, dan dia berniat melupakan perkenalan yang dianggapnya konyol itu, tiba-tiba pagi tadi Bayu meneleponnya.

Lalu tadi Bayu menjemputnya dengan mengendarai BWM hitam, membuatnya terpukau tak percaya. Laki-laki itu bahkan membukakan pintu untuknya, membuat perasaannya melayang.

Dan sekarang, dia dibawa ke restoran mewah ini, yang berada di ketinggian enam lantai. Jasmine benar-benar kehilangan kata-kata untuk mengungkapkan perasaannya.
Dia hanya mampu tersipu dalam diam ketika Bayu - yang sekarang pindah duduk di sebelahnya - menggenggam tangannya dan menatapnya mesra.

"Kamu cantik sekali. Aku bersyukur waktu itu mobilku rusak dan masuk bengkel, sehingga aku harus naik angkot ke kantor. Jadinya aku bisa ketemu kamu. Aku mencintaimu Jasmine, sejak pertama kali melihatmu seminggu yang lalu."

Jasmine menatap Bayu tak percaya. Bayu mencintainya? Benarkah? Perasaannya melambung.
Dilihatnya Bayu yang perlahan mendekatkan wajahnya.
Oh Mama! Dia mau apa? Apa dia mau menciumku?
Jasmine panik, dadanya berdebar keras. Dia tak tau harus bicara atau melakukan apa. Akhirnya dia memejamkan mata, menanti dengan jantung yang bertalu-talu kencang.

***

BUUKK!

Jasmine tersentak. Matanya mengerjap, lalu terbuka lebar. Ini bukan di restoran, juga bukan malam hari. Langit terang benderang, sekilas sinar matahari yang menerobos dari jendela menyilaukan matanya.
Jadi, tadi dia bermimpi? Kata cinta yang didengarnya tadi cuma mimpi?

Perlahan dia mulai menyadari keadaannya. Dia memegang kepalanya yang terasa sakit, sambil  menatap laki-laki di depannya - yang jadi objek mimpinya. Tangan laki-laki itu bergerak, memencet bel.
Jasmine terkesiap. Dia memandang keluar.
Astaga! Ternyata ini sudah sampai di kantornya. Hampir saja dia kelewatan. Tergesa-gesa dia turun, mengikuti laki-laki di depannya. Mobil sudah kosong, hanya tinggal mereka berdua.

Jasmine melirik laki-laki tadi yang sekarang sudah berdiri di sebelah kanannya. Sepertinya dia juga ingin menyeberang.
Ah, ini kenapa mirip dengan mimpinya? Apakah mimpinya akan menjadi kenyataan?
Dia masih sibuk dengan pikirannya, dan tidak sadar kalau laki-laki di sebelahnya itu sudah berjalan meninggalkannya.

Jasmine menoleh dan sedikit terkejut mendapati orang yang sedang dipikirkannya menghilang. Kepalanya berputar, dan dia melihatnya.

"Bayu!" serunya refleks. Yang dipanggil tak menghiraukan. Tentu saja, karena namanya bukan Bayu, itu hanya ada dalam mimpinya. Jasmine memukul keningnya, merutuki kebodohannya.

Dua detik kemudian, Jasmine melongo. Matanya membelalak menatap sosok - yang menyandang tas laptop dan menenteng kotak makan - yang semakin menjauh itu. Sepertinya dia harus menepis segala angan dan mimpi paginya, melupakan laki-laki yang bernama Bayu - atau apa pun namanya, terserahlah.

Wajah boleh tampan, tapi jika gerak geriknya begitu gemulai seperti perempuan - bahkan melebihi Jasmine yang notabene adalah perempuan tulen? Pacaran dengan laki-laki setengah perempuan? Jasmine meringis dengan pikirannya sendiri.

Jasmine melirik ke arloji di pergelangan tangan kirinya. Jam setengah sembilan.
Alamak! Dia terlambat setengah jam, lebih parah dari kemarin,
Seketika wajah yang terbayang dalam angannya berubah, dari seorang laki-laki menjadi perempuan galak yang melotot padanya. Wajah Mbak Lisna.

Ooh, Jasmine benar-benar pasrah pada nasibnya hari ini.

*****

Minggu, 17 April 2016

Saat Mario Pergi

“Dasar orang edan!”
“Ada apa Nda? Baru datang sudah marah-marah.”
“Orang lain berjuang susah payah untuk bertahan hidup, dia malah mau mati!” Amanda meneruskan omelannya tanpa menghiraukan pertanyaan Nina.
“Siapa yang mau mati?”
“Itu, pasien kamar 305. Sudah dua hari ini dia tidak mau makan. Tadi, dia mencoba mencabut selang infusnya. Untung aku sempat mencegahnya.”
“Sekarang keadaannya gimana?”
“Sudah tidur. Tadi kusuntik obat penenang.”
“Ya sudah. Jangan emosi lagi. Masih banyak pasien lain yang harus dijenguk. Aku pulang dulu ya.”
Nina meninggalkan Amanda sendirian di ruang perawat. Tugasnya untuk hari ini sudah selesai. Amanda dan Rasti akan menggantikannya untuk tugas jaga malam. Tapi Rasti masih belum kelihatan. Mungkin agak terlambat.

Nina membuka perlahan pintu kamar 305. Dia penasaran dengan pasien yang disebutkan Amanda tadi. Seorang laki-laki muda sebaya dengannya. Nina mendekat, memperhatikan wajah yang tertidur pulas. Pengaruh obat yang diberikan Amanda sepertinya akan bertahan sampai besok pagi. Wajahnya bersih, cukup tampan. Tapi mengapa dia begitu putus asa sampai ingin mengakhiri hidupnya?


“Manda, boleh kulihat data pasien yang di kamar 305?”
“Pasien sinting itu? Kenapa, kamu penasaran dengan dia?” 
Amanda menyodorkan sebuah map kuning kepada Nina. Nina hanya tersenyum tidak menjawab.
Namanya Michael. Umur 25 tahun. Masuk ke sini seminggu yang lalu karena demam tinggi. Diagnosa sementara gejala tifus. Lembar kedua adalah hasil pemeriksaan darah dari laboratorium. 
Mata Nina terbelalak membaca hasil yang tertulis di atas kertas. Dia mendekatkan wajahnya ke kertas, untuk meyakinkan penglihatannya. Positif HIV!
***
“Suster, jangan dibuka tirainya!”
“Hai, pagi. Sudah bangun ya? Bagaimana tidurmu semalam? Nyenyak?” sapa Nina ramah seolah tidak mendengar apa yang baru dikatakan Michael.
“Tolong,  jangan dibuka tirainya!” ulang Michael lagi, agak keras.
“Tirai ini harus dibuka supaya sinar matahari bisa masuk ke dalam. Lagipula matahari pagi itu menyehatkan, jadi kamu bisa lebih cepat sembuh,” jawab Nina tenang.
“Percuma saja, aku tidak akan pernah sembuh. Aku akan segera mati!”
“Setiap orang akan mati. Hanya masalah waktu, siapa yang lebih cepat, siapa yang belakangan. Apa kamu pikir kamu bisa mendahului takdir dengan mencoba bunuh diri dengan tidak makan dan mencabut selang infusmu? Itu mati konyol namanya!” tukas Nina tajam.
“Tapi kamu tidak tahu apa yang terjadi padaku,” kata Michael, meratap. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan, menangis.
“Saya tahu, sangat tahu. Saya juga pernah bertemu pasien lain yang keadaannya jauh lebih parah dari kamu, tapi dia lebih tegar, tidak sepertimu.” 
Nina menatap Michael lekat. Tidak ada tampang kriminal atau pecandu narkoba. Tetapi mengapa bisa terkena penyakit yang masih dianggap aib oleh kebanyakan orang?
“Kenapa memandangiku seperti itu?”
“Heran saja. Ganteng-ganteng kok cengeng,” jawab Nina ringan. 
Mau tak mau Michael tersenyum mendengar jawaban Nina. 
Sebuah awal yang bagus. Semoga keputusannya bertukar tempat dengan Amanda untuk menjaga pasien ini tidak salah. Kata-katanya tadi mungkin terlalu keras, tapi menghadapi pasien yang putus asa seperti ini memang harus begitu. Itu yang pernah dia pelajari dari kakaknya yang menjadi psikolog.
“Jangan lupa habiskan sarapannya,” pesan Nina sebelum keluar dari kamar.

“Pagi, Suster Nina!”
“Pagi Mario! Wah, kamu sudah rapi ya? Sudah sarapan?”
“Sudah. Tadi Suster Lidya yang membantu. Suster, lihat ini, aku punya krayon dan buku gambar baru. Kemarin Ibu membelikannya untukku. Suster, temani aku menggambar ya?” pinta Mario manja.
“Boleh, tapi jangan sekarang ya. Suster Nina mau mengajak kamu jalan-jalan dulu. Mau?”
“Mau. Asyiiik!” Mario bertepuk tangan riang. Nina menggendongnya dan mendudukkannya di atas kursi roda.
“Kita mau ke mana ?”
“Hari ini Suster mau mengajak kamu kenalan sama teman baru.”
“Cantik nggak?”
“Dia itu laki-laki sayang.” Nina tertawa.
“Pacar Suster ya?” tanya Mario polos.
“Hush! Kecil-kecil sudah tahu pacaran. Bukan. Dia itu teman Suster.”
Mario terus bercerita selama Nina mendorong kursi rodanya.

“Halo Michael. Bagaimana, sudah merasa baikan?” Nina tersenyum senang saat melirik ke meja. Michael sudah menghabiskan sarapannya.
“Siapa dia?” Michael memandang Mario heran.
“Ini Mario. Saya ajak ke sini supaya kamu punya teman ngobrol. Daripada kamu bosan sendirian. Ayo Mario, kenalan dulu, ini namanya Om Michael.” Nina mendorong kursi roda Mario mendekati ranjang Michael.
Keduanya cepat akrab. Nina tersenyum senang, Michael sepertinya menyukai anak kecil.
“Saya masih harus memeriksa pasien lain. Kalian ngobrol saja dulu ya. Mario, jangan kecapekan ya. Kalau ada apa-apa, panggil Suster. “
 ***
“Sus, Mario ke mana? Kok nggak diajak ke sini?”
“Hari ini dia harus menjalani kemoterapi. Jadi tidak bisa dibawa keluar.”
“Sebenarnya dia sakit apa?”
“Kanker tulang.”
“Kanker? Bagaimana mungkin?” Michael terkejut. Bocah kecil yang periang itu, siapa menduga dia sedang menderita penyakit mengerikan yang bisa merenggut nyawanya setiap saat.

Mario masuk rumah sakit Dharma Kasih enam bulan yang lalu dalam kondisi kritis, karena kanker tulang yang menggerogoti tubuhnya sudah mencapai stadium tiga. Kaki kirinya harus diamputasi sebatas lutut untuk menyelamatkan jiwanya. Sebuah pilihan yang sangat berat untuk anak kecil yang baru berusia 8 tahun. Saat terbangun setelah operasi dan mengetahui kakinya yang telah hilang, Mario sempat menangis berhari-hari. Dia baru tenang setelah orang tuanya berjanji akan membelikan kaki palsu untuknya agar dia bisa berjalan lagi seperti dulu. 
Sebuah janji yang sulit dipenuhi. Orang tuanya hanya guru SD di sebuah sekolah negeri yang penghasilannya tidak seberapa. Bahkan semua biaya pengobatan Mario ditanggung oleh Yayasan Kanker Indonesia.

Dengan diamputasinya kaki kiri Mario, tidak berarti penyakitnya langsung sembuh. Dia harus rutin menjalani kemoterapi sebulan sekali untuk membunuh sel-sel kanker yang sudah menyebar di hampir seluruh bagian tubuhnya. Belum lagi belasan butir obat yang harus masuk ke lambungnya setiap hari.

Mario adalah pasien istimewa di rumah sakit ini. Dia menjadi kesayangan semua dokter dan perawat. Semangat hidupnya sangat tinggi. Walaupun tidak bisa melanjutkan sekolah karena penyakitnya, tapi dia tetap rajin belajar. Setiap sore jika orang tuanya datang, dia selalu minta diajarkan tentang pelajaran yang baru diberikan di sekolah hari itu. Dia selalu bilang ingin menjadi pemain bola terkenal. Selain cerdas, dia juga periang. Dia paling suka jika diajak berkeliling menjenguk pasien-pasien lain.

“Biasanya setiap pasien yang sudah mengenalnya, penyakitnya akan cepat sembuh. Contohnya kamu,” Nina tertawa kecil memandang Michael yang hanya tersenyum.
“Sekarang kamu mengerti kan kalau nasibmu masih lebih beruntung?”
“Siapa bilang nasibku lebih beruntung?” tiba-tiba Michael menjadi sinis. Dia memalingkan wajahnya menghindari tatapan Nina.
“Kamu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku. Mario punya orang-orang di sekelilingnya yang menyayangi dia, sedangkan aku..?”
“Kalau kamu mau, kamu boleh cerita. Saya akan mendengarkan.”

Michael mulai menuturkan kisah hidupnya. Dibesarkan dalam keluarga broken home, Michael tidak mengenal ibu kandungnya, yang meninggalkan dia dan ayahnya saat usianya tiga tahun demi laki-laki lain. Ayahnya menikah lagi dengan perempuan lain yang kini menjadi ibu tirinya. Walaupun berlimpah harta, tapi Michael tidak pernah merasakan kasih sayang ayahnya yang selalu sibuk dengan bisnisnya, apalagi ibu tirinya yang tidak punya pekerjaan lain selain menghamburkan uang ayahnya. Setahun yang lalu, Michael mengalami kecelakaan mobil, lukanya cukup parah dan membutuhkan transfusi darah. Itulah awal petaka yang menimpanya sekarang.

“Kamu tahu? Selama aku di sini, tidak ada seorang pun yang menjengukku. Bahkan pacarku, Via, menghilang begitu saja setelah mengetahui aku positif  terkena AIDS,” Michael mengakhiri ceritanya dengan sedih.
“Kamu percaya kan kalau Tuhan itu Maha Adil? Buktinya, kamu dirawat di sini, dan bisa bertemu Mario. Setidaknya kamu bisa belajar dari dia, bagaimana menghargai hidup yang singkat ini dan tetap bersemangat, karena itulah hal yang paling penting agar kita bisa tetap kuat dan bertahan.”
Michael terdiam merenungkan kata-kata Nina.
“Aku minta maaf ya, karena sudah berpikiran buruk tentangmu,” ujar Nina setelah beberapa saat. Michael menatap Nina bingung.
“Kupikir kamu seorang pecandu,” lanjut Nina hati-hati, takut menyinggung perasaan Michael.
Di luar dugaan, Michael tertawa.
“Walaupun hidupku berantakan, tapi aku tak pernah berniat mencoba barang haram itu.”
 ***
“Suster Nina.” Nina menoleh, mencari sumber suara yang memanggil namanya.
“Michael?” serunya senang. Laki-laki itu keluar dari rumah sakit seminggu yang lalu. Dia kelihatan sehat, wajahnya segar, tidak seperti ketika Nina melihatnya pertama kali.
“Apa kabar? Tumben kemari. Nggak sakit lagi kan?”
“Aku sudah lebih sehat, tapi masih harus terus minum obat. Terima kasih karena kamu dan Mario sudah menyadarkanku. Maaf, boleh aku memanggilmu Nina saja?” Nina tersenyum mengangguk..
“Aku mau menjenguk Mario. Aku punya kabar gembira untuknya.”
“Apa itu?”
“Ada sebuah yayasan yang mengadakan program 1000 kaki palsu untuk orang-orang cacat yang tidak mampu. Aku sudah mendaftarkan nama Mario dan sudah disetujui. Mudah-mudahan dalam dua bulan ini kaki palsu itu sudah siap dan bisa digunakan.”
“Benarkah? Ini kabar yang sangat bagus. Ayo, kita harus memberitahukannya pada Mario. Dia pasti senang sekali.” Nina menarik tangan Michael tak sabar menuju kamar Mario.

***

Hari ini semua orang di rumah sakit Dharma Kasih berduka. Bahkan langit juga ikut menangis. Hujan lebat seolah ditumpahkan dari langit mengguyur bumi sejak pagi. Mario, bocah kecil periang itu telah kembali pada Penciptanya. Tubuh kecilnya tidak mampu menahan efek samping dari kemoterapi yang harus dijalaninya berulang kali. Padahal itu adalah terapi yang terakhir, dan menurut dokter, kondisinya sudah membaik. Tetapi tidak ada yang bisa melawan kuasa takdir. Justru setelah terapi yang terakhir itu, keadaan Mario tiba-tiba memburuk dan koma selama dua hari. 
Sepertinya Tuhan masih menyayangi Mario, karena Dia tidak membiarkan Mario meninggal dalam kesakitan. Mario masih bisa tersenyum pada semua orang di dekatnya, orang tuanya, Nina, juga Michael, sebelum menutup matanya untuk selamanya.

Michael menangis dalam pelukan Nina. Kali ini dia tidak peduli bila ada yang menyebutnya cengeng. Dia benar-benar sedih dan terpukul dengan kepergian Mario.
“Padahal seminggu lagi kaki palsu untuk Mario akan sampai. Dan aku juga sudah membawa hadiah ini untuknya.” 
Michael menunjukkan sepasang sepatu olahraga dan kaos merah bergaris hitam, ada tulisan Kaka, 22, di punggungnya – pemain bola dunia idola Mario.

“Takdir sudah ditentukan, kita tidak bisa melawannya,” Nina mencoba menghibur, tapi dia juga merasakan kepedihan yang sama besarnya dengan Michael.

*****

Sabtu, 16 April 2016

Medali

Pukul satu tengah malam. Hujan deras yang mengguyur bumi sejak sore tadi masih menyisakan gerimis. Titik-titik airnya yang jatuh menimpa genteng rumah terdengar halus memecah kesunyian malam yang pekat. Darius terbangun dalam keremangan lampu kamarnya, dia mendapati istrinya tidak ada di sampingnya. Darius turun dari tempat tidurnya, dia tahu ke mana istrinya perig malam-malam begini.

Dugaannya benar, istrinya ada di kamar putri mereka, duduk di samping ranjang, memandangi kedua putrinya yang terlelap. Sudah beberapa hari ini istrinya selalu terbangun tengah malam, dan mendatangi kamar  anak-anaknya. Sesekali dia terlihat mengusap matanya. Darius tidak ingin mengganggu istrinya, dia meninggalkan kamar putrinya tanpa suara, kembali ke kamarnya sendiri.

Kantuknya hilang sudah, pikiran tentang putrinya mengganggu di kepalanya. Beberapa bulan terakhir ini Tari sering mengeluh sakit kepala. Darius tidak terlalu cemas, dia menganggap sakit kepala putri sulungnya itu karena terlalu lelah memikirkan pelajaran sekolahnya. Tetapi seminggu yang lalu Tari pingsan di sekolah, dan Darius tidak bisa tidak cemas, karena dari hasil pemeriksaan CT Scan, ternyata ada tumor di otak Tari.  Dokter menyarankan satu-satunya jalan penyembuhan adalah operasi, tetapi biayanya benar-benar membuat Darius mengelus dada, dua ratus juta. 

Dari mana dia mendapat uang sebanyak itu? Dia memang memiliki sedikit tabungan, tetapi itu tidak cukup. Bahkan jika ditambah dengan rumah dan seluruh isinya dijual, nilainya belumlah sampai dua ratus juta.

“Cobalah cari pinjaman dari kantor Bang,” pinta istrinya tiga hari yang lalu. Darius masih belum melakukan permintaan istrinya. Dia ragu, apakah perusahaan bersedia meminjamkan uang dalam jumlah yang sangat besar, sedangkan dia hanyalah seorang supir. Tetapi, sepertinya itulah satu-satunya harapan yang tersisa untuk menyelamatkan nyawa Tari. Maka, Darius bertekad hari ini dia harus mencoba bicara dengan atasannya.


“Dua ratus juta?” ulang Klara, manajer sekaligus atasan Darius, dengan nada terkejut; reaksi yang sudah hampir bisa ditebak Darius ketika dia masuk dan menceritakan keadaan putrinya.

“Perusahaan tidak mungkin memberi pinjaman sebesar itu, bagaimana Bapak bisa membayarnya? Kerja seumur hidup pun belum tentu Bapak bisa melunasinya.” 
Jawaban yang menyakitkan, tetapi dalam hati Darius terpaksa mengakui kebenaran kata-kata itu.

“Pak Yus, awas!” teriakan Adi, rekannya sesama supir, membuat Darius tersentak kaget, refleks dia menginjak rem. Terlambat, bumper depan mobilnya terlanjur menabrak setumpuk kaca yang tersandar di dinding. Wajah Darius memucat.

“Ini sudah keterlaluan. Seminggu ini Pak Yus sudah dua kali memecahkan kaca. Bapak tahu berapa harga kaca-kaca? Ini tidak bisa ditolerir lagi. Gaji Pak Yus akan kami potong untuk mengganti kerugian perusahaan akibat keteledoran Bapak itu,” kata Klara tegas. 
Darius menghela nafas panjang, dia hanya bisa diam dan pasrah menerima semua keputusan yang tak terbantah itu.


“Bagaimana Bang? Berhasikah mendapatkan pinjaman dari kantor?” tanya istrinya penuh harap ketika menyambut Darius pulang sore itu. Darius memandang istrinya gundah, perlahan dia menggeleng. Melihat gurat kekecewaan di wajah istrinya, Darius tidak tega menceritakan masalah yang dialaminya di kantor.

“Di mana anak-anak?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.
“Marni ke rumah temannya, katanya mau pinjam pe-er. Tari di kamar, tadi siang sepulang sekolah, dia mengeluh kepalanya pusing.”
“Sudah minum obat?” tanya Darius khawatir.
“Sudah, mungkin sekarang masih tidur.”
Darius mengabaikan rasa capeknya dan berjalan menuju kamar putrinya. Tari masih terlelap. Darius menatap wajah putrinya dengan perasaan getir. Tari anak yang cerdas. Prestasi belajarnya di sekolah selalu bagus, rankingnya tidak pernah keluar dari dua besar. Kelahirannya dua belas tahun yang lalu membawa kehangatan dalam keluarga Darius yang sudah menanti kehadirannya selama lima tahun. Itulah sebabnya Darius memberinya nama Mentari.

Tari belum tahu tentang penyakit yang menggerogoti kepalanya, Darius dan istrinya belum berterus terang kepadanya. Dokter memang mengatakan kalau daging yang tumbuh dalam kepala Tari bukan jenis yang ganas, tetapi kalau tidak segera dibuang juga bisa membahayakan jiwanya. Darius benar-benar tak tega membayangkan bagaimana nanti kepala putri kecilnya harus dibelah di ruang operasi. Tanpa disadarinya, tahu-tahu matanya sudah basah.


Kotak hitam beludru itu masih tersimpan di sudut dalam laci kecil di dalam lemari pakaian, sudah lama tak tersentuh. Darius meniup pelan lapisan debu tipis yang menyelubungi kotak. Sinar kuning keemasan memantul dari dalam ketika Darius membuka kotak itu. Dia mengambil sebuah medali dari dalam kotak. Ingatannya melayang kembali ke dua puluh dua tahun silam, saat-saat paling membanggakan dalam hidupnya, saat dia meraih medali emas pertamanya di kejuaraan nasional angkat besi di Jakarta. 

Dulu dia adalah salah satu manusia terkuat di tanah air, bahkan di asia. Puluhan medali sudah diraihnya, dari perunggu hingga emas, dari berbagai ajang pertandingan, baik tingkat nasional maupun internasional.

Tetapi setelah lima belas tahun berlalu, ketika dia merasa staminanya semakin menurun dan memutuskan untuk berhenti, segala kebanggaan itu mulai luntur. Keberhasilannya selama belasan tahun mengharumkan nama bangsa mulai dilupakan, dia merasa diabaikan. 
Bahkan bonus sebuah rumah mewah yang pernah dijanjikan untuknya tidak pernah dia terima. Hingga kini, Darius hanya memiliki sebuah rumah petak di daerah pinggiran kota dan sebuah sepeda motor tua yang masih setia menemaninya ke mana-mana. Dia tidak pernah mengecap bangku kuliah, juga tidak memiliki keahlian khusus, sehingga hanya bisa menjadi supir.

“Bang, makan dulu yuk!”  Panggilan istrinya membuyarkan lamunan Darius.
“Mi, aku mau menjual medali-medali ini,” kata Darius mengabaikan ajakan istrinya.
“Dijual? Untuk apa Bang?” tanya Ismi kaget.
“Untuk biaya operasi Tari.”
“Tapi, bukankah medali-medali itu sangat berarti buat Abang?”
“Saat ini, tidak ada yang lebih penting daripada kesembuhan Tari. Jika medali-medali ini bisa menyelamatkan nyawa Tari, aku rela,” kata Darius pasrah.


“Apa? Hanya lima juta?” ulang Darius tak percaya. Medali-medali kesayangannya hanya dihargai lima juta?
“Tidak bisa lebih tinggi?” tanyanya. Penjaga toko emas itu menggeleng.
“Maaf Pak, kata bos saya, kandungan emas dalam medali-medali ini bukan emas murni, dan lagipula, medali-medali ini masih harus dilebur lagi.”
Darius terdiam bingung.
“Kalau seperti itu, saya harus berunding dulu,” Darius mengantongi kembali medali-medali itu, dan beranjak meninggalkan toko.

“Yus! Darius, tunggu!” Langkah Darius terhenti, dia menoleh.
“Hei, kau lupa sama aku?” Darius menatap laki-laki yang baru keluar dari dalam toko itu. Sepertinya tidak asing.
“Aku Beny, Beny Sitorus, yang duduk di sebelah kau waktu SMA dulu,” kata laki-laki itu lagi dengan logat Batak yang kental. 
Senyum Darius mengembang, sekarang dia ingat laki-laki di hadapannya ini.
“Sudah lama kita nggak ketemu, aku hampir tak mengenalimu.” 
Mereka berjabatan tangan, tertawa akrab.
“Aku juga sudah hampir lupa, kalau tadi tak kulihat medali-medali yang ditunjukkan sama si Guntur ini. Tiba-tiba saja aku ingat kau, dulu kau setamat SMA kan langsung masuk pelatnas Jakarta.”
“Ayo, masuklah dulu! Kita cerita-cerita dulu di dalam,” Beny membukakan pintu kayu yang memisahkan pembeli dari bagian dalam toko emas itu.
***
Hari ini Tari akan dioperasi. Darius sudah meminta izin cuti dari kantornya untuk menemani istrinya menunggui Tari di rumah sakit selama operasi berlangsung.
Darius bersyukur karena keputusannya untuk menjual medali telah membawa berkah untuknya. Dia memang tidak menjual medali-medalinya kepada Beny, tetapi sahabat baiknya semasa SMA itu telah membantunya mendapatkan biaya operasi untuk Tari. Beny mengenalkannya pada seorang temannya yang merupakan salah satu petinggi negara yang membawahi departemen olahraga, khususnya pembinaan olahraga daerah. 

Pejabat pemerintahan itu merasa simpati dengan masalah yang dihadapi Darius, dan dia telah berjanji kalau pemerintah akan membantu biaya operasi Tari. Sebagai gantinya, Darius akan menyerahkan medali dan plakat penghargaan yang pernah diterimanya ke museum olahraga nasional.

Darius telah mengikhlaskan benda-benda kenangannya yang paling berharga menjadi milik negara. Yang ada dipikirannya sekarang hanyalah sebaris doa : semoga operasi Tari bisa berhasil dan putrinya bisa sembuh kembali. Amin!

*****

Parcel

Parto memandangi bungkusan besar di tangannya dengan gembira. Tahun ini majikannya baik sekali, memberikan bingkisan lebaran lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya. Biasanya dia hanya menerima dua botol markisa dan sekaleng biskuit murah. Tetapi sekarang, selain dua botol markisa, dia juga mendapat sekaleng besar biskuit impor, ditambah lagi tiga kaleng manisan buah, dan berbagai macam buah segar:  apel, jeruk, dan anggur.

Ijah, istrinya, dan Udin, anak laki-laki satu-satunya, pasti senang jika dia pulang membawa oleh-oleh sebanyak itu. Mereka belum pernah merasakan enaknya biskuit impor, apalagi manisnya anggur yang merupakan makanan mewah bagi mereka.

Siang tadi, Lina, karyawan Pak Broto, majikannya, menyuruhnya membawa pulang semua barang-barang yang dikemas dalam kardus itu dari kantor. Katanya, barang-barang itu untuk dibagikan kepada pembantu di rumah Pak Broto.
Dan dia sudah membagi dengan adil semuanya. Mak Surti, Ani, Anto – tukang kebun, Pak Min – satpam, dan dirinya sendiri, masing-masing mendapat bagian yang sama.

Parto menyimpan bungkusan itu dalam kamarnya. Dia akan pulang hari Minggu, jadi masih ada waktu tiga hari untuk mengepak barang-barang itu. Tapi sejenak Parto kelihatan ragu-ragu, apakah buah-buahan itu bisa tahan disimpan selama itu? Selama ini yang dia tahu, majikannya selalu menyimpan buah-buahan dalam kulkas.
Atau mungkin nanti dia minta izin sama Bu Broto saja untuk menyimpan buah-buahan itu sementara dalam kulkas.
 ***
“To, kamu letakkan di mana bingkisan yang dititipkan Lina tadi?” tanya Pak Broto selepas shalat Isya.
“Sudah saya bagi-bagikan Pak, sesuai pesanan Mbak Lina.”
“Kamu bagi-bagikan sama siapa?”
“Ya sama semuanya Pak. Mak Surti, Ani, Anto, dan Pak Min. Saya juga Pak,” jawab Parto lugu.
“Hahh? Siapa yang suruh kamu lakukan hal itu? Lancang sekali kamu!" Pak Broto berteriak emosi.
“Tapi Pak….. saya hanya melakukan apa yang dibilang Mbak Lina. Katanya Bapak yang menyuruh,” Parto mulai ketakutan.
“Ah, bohong itu! Saya tak pernah mengatakan itu. Harusnya kamu tanya dulu sama saya. Bingkisan itu mau saya berikan pada kolega saya, bukan untuk kalian. Pokoknya saya tidak mau tahu! Saya akan potong harga bingkisan itu dari THR kamu!”
Parto mengerut, dia ingin protes, tapi pasti tak ada gunanya. Bisa-bisa nanti malah gajinya ikut sekalian dipotong.

Parto memandang bungkusan di atas meja dengan sedih. Baru beberapa jam yang lalu dia merasa senang karena membayangkan betapa gembiranya nanti Ijah dan Udin menyambutnya pulang dengan membawa banyak oleh-oleh, sekarang kebahagiaan itu menguap.
Mungkin sebaiknya dia mengembalikan barang-barang itu, jadi uang THR-nya tidak akan dipotong. Tapi, bagaimana mengatakannya pada yang lain? Mereka pasti sedih sekali. Apalagi Mak Surti, yang tadi paling gembira ketika menerima bingkisan itu. Parto jadi tak tega.

“To, semalam kamu dimarahi Pak Broto ya?” tanya Mak Surti. Parto yang sedang memanaskan mesin mobil jadi gugup.
“Iya Mak,” jawabnya pelan.
“Memangnya kenapa? Mak mendengar suara Pak Broto keras sekali, tapi Mak kurang jelas apa yang dikatakannya.”
“Ah, bukan masalah besar Mak,” elak Parto.
“Apa karena bingkisan kemarin?”
Parto kaget.
“Kok Mak tahu?”
“Mak hanya menebak. Seumur-umur Mak kerja di sini, Pak Broto belum pernah kasih barang sebagus ini. Mak jadi curiga aja.”
Dengan berat hati akhirnya Parto menceritakan yang sebenarnya.
“Mak tahu apa yang harus kita lakukan.”
“Maksud Mak, kita kembalikan lagi barang-barang itu?”
Mak Surti mengangguk.
“Nanti kita bicara lagi.” Mak Surti melangkah masuk, saat dilihatnya Pak Broto berjalan menuju ke mobil.
 ***
“Permisi Pak, maaf mengganggu,” ucap Mak Surti sopan. Pak Broto sedang menonton televisi sendirian, istrinya belum pulang dari acara buka puasa bersama di kantornya.
Ada apa Mak?” Pak Broto menoleh dan baru sadar, ternyata Mak Surti tidak sendirian, Ani, Anto, Pak Min dan Parto berdiri di belakangnya.
“Kami cuma mau mengucapkan terima kasih atas bingkisan lebaran dari Bapak. Tapi kami tidak bisa menerimanya, karena harus mengorbankan uang THR Parto. Jadi kamu mau mengembalikan bingkisan ini.” Mak Surti meletakkan sebuah bungkusan di atas meja. Ani, Anto, Pak Min dan Parto juga melakukan hal yang sama.
Pak Broto terkesima. Dadanya terasa sesak oleh rasa haru. Dia tidak bisa berkata apa-apa, matanya menatap lama barang-barang yang tergeletak di atas meja.
“Kami harap, Bapak tidak jadi memotong uang THR Parto,” ujar Mak Surti lagi.
“Mak, ambillah kembali barang-barang itu. Bingkisan itu memang untuk kalian.”
Sekarang giliran Mak Surti dan lainnya yang terkejut. Pak Broto memandangi mereka satu persatu.
“Saya mau minta maaf. Seharusnya masalah kecil ini tidak perlu dibesar-besarkan. Dan bukan Parto yang salah.  Tadi Lina sudah mengakui kesalahannya. Jadi saya harap kalian bisa melupakan kesalahpahaman ini.”
Pak Broto terenyuh melihat raut kegembiraan di wajah mereka ketika menerima kembali bingkisan itu dan berulang kali mengucapkan terima kasih.

x