Macet lagi!
"Huff..!" Jasmine menghembuskan nafas kesal.
Sudah sepuluh menit angkot yang ditumpanginya terjebak macet, tidak bisa bergerak seinci pun. Stuck total!
Kalau begini, dia pasti terlambat lagi. Sudah dua hari ini dia terlambat terus, dan mendapat pelototan dari Mbak Lisna, asisten kepala HRD.
Hei, bukan maunya dia untuk terlambat! Selama ini - selama setahun dia bekerja di sini - dia juga belum pernah terlambat. Dia selalu berangkat dari rumah jam tujuh lewat seperempat, berjalan kira-kira lima menit ke halte di depan komplek rumahnya, ditambah beberapa menit waktu untuk menunggu mobil angkutan umum, paling lama empat puluh menit pasti sudah sampai ke kantor - dan masih ada waktu lima menit sebelum jam kerja dimulai.
Hei, bukan maunya dia untuk terlambat! Selama ini - selama setahun dia bekerja di sini - dia juga belum pernah terlambat. Dia selalu berangkat dari rumah jam tujuh lewat seperempat, berjalan kira-kira lima menit ke halte di depan komplek rumahnya, ditambah beberapa menit waktu untuk menunggu mobil angkutan umum, paling lama empat puluh menit pasti sudah sampai ke kantor - dan masih ada waktu lima menit sebelum jam kerja dimulai.
Tetapi dua hari ini, entah kenapa, jalan begitu macet. Puluhan, atau mungkin juga ratusan kendaraan, mulai dari mobil, motor, bahkan becak, berjubel memenuhi jalan. Sampai-sampai dia mengira ada konvoi mobil pejabat atau kecelakaan. Bahkan kemarin, baru lima menit dia menaiki angkot yang biasa ditumpanginya, kemacetan sudah menghadang di depan, sepanjang jalan, sebelum persimpangan empat Tritura hingga simpang Avros. Angkotnya merayap seperti kura-kura, - rasanya jalan kura-kura masih lebih cepat.
Oke, yang terakhir ini agak hiperbola. Tapi, macetnya benar-benar keterlaluan. Alhasil, dia baru sampai di kantor satu jam kemudian, dan dipelototi Mbak Lisna lagi.
"Sudah tahu macet, kenapa nggak berangkat lebih pagi?" tegur Mbak Lisna kemarin padanya.
Makanya, daripada terlambat lagi, terus didamprat Mbak Lisna lagi, lalu diadukan ke kepala HRD - yang ujung-ujungnya nanti pasti gajinya dipotong - Jasmine berencana pagi ini berangkat setengah jam lebih awal.
Tetapi, apa boleh buat, seperti kata pepatah, manusia berencana, Tuhan yang menentukan. Niatnya untuk bangun lebih pagi dan berangkat lebih pagi gagal, gara-gara semalam PLN yang melakukan pemadaman listrik - tak tanggung-tanggung, sampai lima jam. Ditambah lagi cuaca yang begitu panas karena sudah hampir seminggu ini tak hujan. Tanpa AC dan kipas angin, dia gerah dan kepanasan, tidak bisa tidur. Akhirnya, dia baru terlelap jam dua dini hari, setelah lampu menyala lagi.
Dan akibatnya, tentu saja, dia terlambat bangun. Saat dia membuka mata, langit sudah terang, sudah setengah tujuh lewat beberapa menit. Gara-gara kesal dengan PLN, dia lupa memasang alarm semalam. Sialnya, Mamanya - yang biasanya selalu bangun jam lima pagi - juga ikut-ikutan kesiangan. Ditambah lagi dengan acara berebut - satu-satunya - kamar mandi di rumahnya dengan Jefry, adik semata wayangnya yang masih duduk di kelas XII - walaupun akhirnya dia terpaksa mengalah pada sang adik yang sedang ujian akhir.
Akhirnya, pagi tadi, semua dilakukannya serba terburu-buru. Mandi ala kadarnya alias mandi bebek - asal siram yang penting basah. Dandan ala kadarnya, hanya berbedak dan lipstik - tanpa embel-embel maskara, eyeshadow dan blush on seperti biasanya. Sarapan juga ala kadarnya, hanya semangkuk sereal instan - bukan nasi goreng atau roti bakar yang biasa disiapkan Mamanya. Itu pun sudah menghabiskan waktu hampir setengah jam - biasanya malah bisa sampai satu jam baginya untuk melakukan ritual paginya itu.
Ketika dia keluar dari rumah tadi, jam sudah menunjukkan tujuh lewat sepuluh, Hanya lebih awal lima menit dari biasanya.
Dan sekarang - seperti halnya kemarin - baru lima menit jalan, mobilnya sudah terjebak di tengah-tengah jalan, tak bisa maju apalagi mundur.
Beberapa motor menyalip dari sisi kiri jalan, ada yang naik ke trotoar. Jasmine menatap iri ke arah mereka. Seandainya dia punya motor, dia pasti tak perlu takut terlambat.
Jasmine tersentak dari lamunannya. Mobil sedikit oleng. Rupanya sang supir melihat ada celah dan banting setir, mencoba mengambil lajur kiri, bersamaan dengan sebuah sepeda motor yang datang dari arah belakang.
"TEEET!"
Suara klakson motor terdengar memekakkan telinga.
Hampir saja kedua kendaraan itu berciuman seandainya saja sang supir tidak sempat menginjak rem. Akibatnya Jasmine - dan juga penumpang lain dalam mobil terdorong ke depan.
Suara deru mesin kendaraan yang sudah bising sekarang ditingkahi lagi dengan umpatan dari pengendara motor yang hampir tertabrak tadi. Tak mau kalah, sang supir juga ikut-ikutan marah dan mengumpat sambil menunjuk-nunjuk ke arah pengendara motor, walaupun suaranya tak bisa terdengar oleh penumpang yang duduk di belakang, karena mobil angkotnya memang model yang sudah tua - di mana pintu penumpang ada di belakang dan ada sekat kaca yang memisahkan supir dengan penumpang di belakang.
Dasar supir sinting, dia yang salah, dia pula yang marah-marah! Jasmine ikut mengumpat dalam hati.
Rentetan suara klakson dari belakang akhirnya membubarkan keributan kecil itu. Sang pengendara motor berlalu setelah menggeber motornya - sebagai luapan rasa marah yang tak terpuaskan.
Mobil akhirnya bisa melaju sedikit lebih kencang setelah berhasil masuk ke lajur kiri, walaupun agak melompat-lompat karena ban sebelah kirinya melindasi pinggir jalan tak beraspal yang berbatu-batu dan berpasir, dan lebih rendah dari badan jalan - membuatnya seakan sedang naik kuda.
Tetapi baru beberapa puluh meter, supir menginjak rem lagi - masih dengan gaya yang sama seperti tadi, tiba-tiba dan langsung sampai kandas - dan lagi-lagi membuat mereka yang duduk di belakang tersentak dan terdorong ke belakang.
Hahh! Sial benar dia hari ini, sudah kesiangan, ketemu supir edan lagi! Jasmine mendecak sebal. Dan sepertinya bukan hanya dia yang kesal, sebagian penumpang lain di sebelahnya juga menggerutu.
Ternyata mobil berhenti karena ada penumpang baru yang mau naik. Jasmine mengamati sejenak bangku di depannya, menghitung, ada enam orang, berarti sudah penuh. Sedangkan bangku di sisi yang dia duduki saat ini sudah ada lima orang termasuk dirinya, jadi masih bisa muat satu orang lagi.
Jasmine menggeser duduknya ke arah luar, bermaksud agar penumpang yang akan naik itu masuk dan duduk di sebelah dalam. Tapi belum dua detik, dia terpaksa bergeser lagi, kali ini lebih ke dalam, sampai ke ujung. Karena penumpang baru itu ternyata seorang ibu paruh baya bertubuh besar, membawa keranjang yang juga tak kalah besarnya. Rasanya tak mungkin si ibu mau masuk dan duduk di dalam apalagi paling ujung, sedangkan untuk naik ke mobil ini - yang pijakannya lumayan tinggi - sepertinya si ibu sudah kesusahan. Di tambah lagi keadaan dalam mobil angkot yang sempit dan penuh, sampai-sampai orang yang duduk berhadapan bisa laga lutut.
Jasmine meringis saat merasakan tubuhnya terhimpit ke dinding ketika si ibu akhirnya berhasil naik dan duduk di ujung luar dekat pintu. Dia merasa gerah, angkot ini benar-benar tua, dan sudah keropos. Bangkunya tak empuk lagi, kain pelapisnya koyak dan banyak tempelan, sebagian busanya bahkan terlihat mengintip keluar. Atapnya tidak dilapisi apapun, yang terlihat hanyalah rangka besinya yang sudah berkarat, dan ada titik-titik lubang kecil - yang kalau hujan, dia yakin mobil ini pasti bocor. Jendelanya kecil, kacanya tak bisa dibuka lagi.
Huhh! Dia benar-benar kepanasan. Satu-satunya lubang angin yang ada di dekat atap tak cukup besar untuk membawa angin masuk ke dalam mobil.
Jasmine menyeka titik-titik keringat yang bermunculan di dahi. Dia menguap beberapa kali.
Ah! Dia merindukan bantalnya lagi, tidurnya semalam belum terpuaskan.
Tiba-tiba Jasmine terpaku. Matanya tak berkedip menatap ke depan. Dia sampai lupa menurunkan tangannya yang masih menutupi mulutnya yang menguap tadi.
Oh My God! Mama! Dani Pedrosa datang ke Medan!
Ah, tentu saja itu mustahil. Mana mungkin seorang Dani Pedrosa datang ke sini, apalagi berdesak-desakan dalam angkot tua seperti ini. Tapi makhluk yang duduk tepat di depannya sekarang ini memang seperti kloningnya sang pembalap motogp dari negeri matador itu. Alis, hidung, bibirnya, nyaris sempurna. Wajahnya juga putih bersih, dengan rambut yang dipangkas rapi.
Yah, Jasmine memang sangat menggemari olahraga khas pria itu, meskipun hanya sebatas jadi penonton melalui televisi di rumah. Dan tentu saja dia punya pembalap favorit, siapa lagi kalau bukan Dani Pedrosa, si ganteng Little Spaniard dari Spanyol yang memakai nomor keramat 26.
Yang membedakan laki-laki di depannya dengan pembalap idolanya itu hanya penampilannya saja. Laki-laki tampan di hadapannya ini jelas tidak memakai baju pembalap. Penampilannya rapi, ala eksekutif muda, kemeja biru muda, celana panjang berbahan kain warna hitam, sepatu kulit hitam mengilap. Sebuah tas laptop ada di pangkuannya. Dan juga sebuah kotak makan.
Wow! Seorang laki-laki tampan dengan kotak bekalnya! Pasti dia adalah laki-laki yang baik dan penyayang keluarga. Kotak bekal itu pasti disiapkan oleh istrinya.
Eh, istri? Apakah laki-laki ini sudah menikah? Yah, mungkin saja. Laki-laki setampan dia tak mungkin masih menjomblo. Sungguh beruntung perempuan yang menjadi istrinya.
Jasmine meringis tanpa sadar memikirkan kalimat-kalimat yang berseliweran di kepalanya.
"TIIN...TIIIN!"
Suara klakson mobil membuyarkan lamunan Jasmine, mengembalikannya ke alam nyata. Dia mengerjap dan menoleh ke kiri. Untung dia duduk di sudut, dan tak ada yang memperhatikan sikapnya tadi. Dan untungnya juga laki-laki tampan yang jadi objek lamunannya tadi sedang memejamkan mata - sepertinya sedang tidur. Gila, merem saja sudah begitu ganteng, apalagi kalau melek.
"TIIIIIIN!"
Lagi-lagi klakson yang memekakkan kuping itu menghempaskannya dari alam khayal. Sampai-sampai dia, dan beberapa penumpang lain dalam angkot, menutup telinga.
Jasmine mengintip ke depan, melalui sekat kaca. Ah, mereka baru tiba di persimpangan Tritura. Lampu merah sedang menyala, dan kalau melihat arus kendaraan yang lewat, bakal lama baru lampu hijau, karena ini adalah persimpangan empat dan dilalui kendaraan dari empat arah. Dan angkot yang ditumpanginya ini ternyata berada di lajur kiri, jalurnya kendaraan yang mau belok ke kiri. Pantas saja mobil-mobil di belakang yang hendak belok ke kiri protes karena jalan mereka terhalang. Sang supir ngeyel juga, dia tak juga bergerak walau di belakang suara klakson semakin ramai bersahutan, bahkan ada yang berteriak menyuruh maju.
Tiba-tiba seorang polisi, entah dari mana muncul - barangkali dari pos polisi di seberang jalan - datang menghampiri. Sepertinya sang supir kelabakan, takut ditilang. Dia segera membelokkan mobil ke kiri sebelum polisi itu sempat menahannya. Dan itu artinya, mobil harus memutar balik dari belokan U Turn yang terletak beberapa ratus meter dari persimpangan ini. Sedangkan arus kendaraan dari sisi seberang jalan yang menuju ke persimpangan Tritura tidak bergerak sama sekali - karena terjebak lampu merah.
Jasmine berdecak jengkel. Mobilnya lagi-lagi harus berhenti di titik U Turn karena tidak bisa memotong antrian kendaraan yang begitu panjang.
Urgh! Supir tua ini benar-benar akan membuatnya terlambat.
Tak bisa berbuat apa-apa, Jasmine akhirnya memejamkan matanya, pasrah.
***
Jasmine terperangah, matanya terbelalak. Si Dani Pedrosa tersenyum padanya. Oke, dia berlebihan, terlalu mendramatisir. Yang tersenyum itu bukan Dani Pedrosa, tapi hanya duplikatnya. Tapi tetap saja dia kaget. Makhluk tampan di depannya ini kan tidak dikenalnya, tapi kenapa malah tersenyum padanya? Iya, padanya. Bukan pada orang di sebelahnya. Matanya jelas-jelas menatap ke depan, ke arahnya, bukan ke kiri, ke kanan, apalagi ke belakang. Dan senyumannya itu sukses membuat jantungnya mendadak dangdut.
Dia jadi salah tingkah. Apa dia harus membalas senyumnya? Kalau tak dibalas, berdosakah? Kalau dibalas, takutnya disangka ge-er.
Ah, kenapa dia jadi lebay begini? Itu kan cuma sebuah senyuman.
Akhirnya Jasmine membuang pandang, bersikap sewajar mungkin, seolah tak melihat senyuman itu. Walaupun agak susah - matanya yang sok genit, sebentar-sebentar melirik dan mencuri pandang ke depan. Dan astaga, laki-laki itu masih menatapnya dengan senyum yang masih melekat di bibirnya.
Gara-gara sibuk meredam debur jantungnya, Jasmine sampai lupa memerhatikan jalan. Dia baru ingat ketika mobil telah melewati kantornya beberapa meter dan segera memencet bel, bersamaan dengan sebuah tangan yang juga terulur menyentuh bel - ternyata tangan lelaki itu. Tangan mereka bersentuhan.
Jasmine tersentak, tangannya bagai tersengat listrik. Refleks dia dia menarik kembali tangannya. Dan laki-laki itu, masih dengan senyum yang sama, menyilakan dengan isyarat tangan agar dia turun terlebih dahulu. Semua penumpang sudah turun - entah kapan, dia tak menyadarinya - hanya tinggal mereka berdua.
"Mau nyeberang?"
Jasmine menoleh, laki-laki itu sudah berdiri di sampingnya.
"I..iya," sahut Jasmine hampir menyerupai bisikan. Sial, kenapa dia jadi gugup.
Laki-laki itu sekarang berpindah ke samping kanannya - seolah ingin melindunginya dari kendaraan yang datang dari arah kanan jalan satu arah ini. Ah, sungguh gentle.
"Ayo!"
Jasmine terpaku sejenak menatap tangan yang terulur itu, sebelum akhirnya memutuskan untuk mengabaikannya dan ikut menyeberang.
"Hei, tunggu!"
Jasmine menoleh.
"Kamu kerja di mana?"
"Di sana," Jamine menunjuk ke arah sebuah gedung bertingkat enam di sebelah kanan.
"Saya kerja di sini," laki-laki itu menunjuk ke gedung di hadapan mereka - yang adalah sebuah bank.
Aha, dia seorang bankir, batin Jasmine.
"Ternyata selama ini kita sangat dekat ya." Dia tertawa kecil, dan lagi-lagi sukses membuat Jasmine terpesona.
"Kenalkan, saya Bayu," dia mengulurkan tangannya.
"Jasmine."
Genggaman tangannya begitu hangat, membuat Jasmine enggan melepaskannya.
"Hp kamu ada?"
"Eh, untuk apa?"
Seketika Jasmine memasang sikap waspada. Wajarlah, mereka baru kenal beberapa menit yang lalu, masa sekarang orang ini mau meminta handphonenya. Yah, walaupun dia tampan, tapi tidak menjamin kalau dia orang baik kan?
Curiga itu tetap perlu, apalagi handphonenya baru dibelinya dua bulan yang lalu, cicilannya belum lunas pula.
"Jangan takut, saya bukan rampok kok."
Jasmine bisa merasakan wajahnya panas.
Waduh! Kenapa laki-laki ini bisa membaca pikirannya? Rutuknya dalam hati.
"Boleh saya pinjam hpmu sebentar?"
Laki-laki itu mengulangi permintaannya.
Dengan perasaan malu, tapi tetap sedikit curiga, Jasmine mengeluarkan handphonenya dari dalam tas dan menyerahkannya.
Jasmine memperhatikan laki-laki yang mengaku bernama Bayu itu mengetik sesuatu di handphonenya, lalu mengeluarkan handphonenya sendiri dari saku celana.
"Ini, sudah. Jangan dihapus ya!" dia mengembalikan handphone Jasmine sambil tersenyum lebar.
"Sampai jumpa lagi Jasmine," dia melambai dan melangkah masuk ke kantornya, meninggalkan Jasmine yang masih terpaku.
***
Jasmine mematut diri, memandang bayangan yang terpantul di cermin. Gaun tanpa lengan selutut berwarna biru muda bermotif polkadot, rambut ikal sebahunya digerai dan dihiasi bando berwarna senada dengan gaunnya.
Sempurna.
Dia sedang bahagia, bibirnya yang terpoles lipstik merah muda tak berhenti menyunggingkan senyum sejak tadi. Bagaimana tidak? Hari ini Bayu mengajaknya kencan.
Memang sih, tadi di telepon Bayu hanya menyebut jalan-jalan, tetapi jika seorang pria dewasa mengajak keluar seorang wanita dewasa pada malam Minggu, bisa kan ini disebut kencan?
***
Jasmine terpana, dia memandang takjub pada apa yang terhampar di depan matanya. Jalan di depan alun-alun kota gemerlap oleh kerlip lampu warna-warni, gedung-gedung tinggi di kejauhan bersinar terang. Ini sungguh indah. Dia belum pernah keluar di malam hari. Selama ini dunianya hanya berputar antara rumah dan kantor. Pemandangan seperti ini hanya pernah dilihatnya di televisi.
"Apa pemandangan di luar lebih menarik dari aku?"
Seketika Jasmine menoleh. Dia tersipu, karena hampir lupa kalau dia tidak sendirian.
"Maaf," ujarnya lebih menyerupai bisikan. Wajahnya merona.
Hari ini dia mendapat banyak kejutan dari laki-laki tampan yang sedang duduk di hadapannya saat ini.
Bolehkah dia merunutnya satu persatu?
Sejak awal perjumpaannya dengan Bayu, laki-laki itu sukses membuat pikirannya porak poranda, dia dilanda rasa penasaran setengah mati. Bayu tak pernah menghubunginya, padahal dia tahu persis saat laki-laki itu meminjam handphonenya di pagi itu tujuannya adalah mencatat nomornya. Tapi tak mungkin dia yang menghubungi lebih dulu, bisa jatuh harga dirinya sebagai perempuan.
Setelah seminggu, dan dia berniat melupakan perkenalan yang dianggapnya konyol itu, tiba-tiba pagi tadi Bayu meneleponnya.
Lalu tadi Bayu menjemputnya dengan mengendarai BWM hitam, membuatnya terpukau tak percaya. Laki-laki itu bahkan membukakan pintu untuknya, membuat perasaannya melayang.
Dan sekarang, dia dibawa ke restoran mewah ini, yang berada di ketinggian enam lantai. Jasmine benar-benar kehilangan kata-kata untuk mengungkapkan perasaannya.
Dia hanya mampu tersipu dalam diam ketika Bayu - yang sekarang pindah duduk di sebelahnya - menggenggam tangannya dan menatapnya mesra.
"Kamu cantik sekali. Aku bersyukur waktu itu mobilku rusak dan masuk bengkel, sehingga aku harus naik angkot ke kantor. Jadinya aku bisa ketemu kamu. Aku mencintaimu Jasmine, sejak pertama kali melihatmu seminggu yang lalu."
Jasmine menatap Bayu tak percaya. Bayu mencintainya? Benarkah? Perasaannya melambung.
Dilihatnya Bayu yang perlahan mendekatkan wajahnya.
Oh Mama! Dia mau apa? Apa dia mau menciumku?
Jasmine panik, dadanya berdebar keras. Dia tak tau harus bicara atau melakukan apa. Akhirnya dia memejamkan mata, menanti dengan jantung yang bertalu-talu kencang.
***
BUUKK!
Jasmine tersentak. Matanya mengerjap, lalu terbuka lebar. Ini bukan di restoran, juga bukan malam hari. Langit terang benderang, sekilas sinar matahari yang menerobos dari jendela menyilaukan matanya.
Jadi, tadi dia bermimpi? Kata cinta yang didengarnya tadi cuma mimpi?
Perlahan dia mulai menyadari keadaannya. Dia memegang kepalanya yang terasa sakit, sambil menatap laki-laki di depannya - yang jadi objek mimpinya. Tangan laki-laki itu bergerak, memencet bel.
Jasmine terkesiap. Dia memandang keluar.
Astaga! Ternyata ini sudah sampai di kantornya. Hampir saja dia kelewatan. Tergesa-gesa dia turun, mengikuti laki-laki di depannya. Mobil sudah kosong, hanya tinggal mereka berdua.
Jasmine melirik laki-laki tadi yang sekarang sudah berdiri di sebelah kanannya. Sepertinya dia juga ingin menyeberang.
Ah, ini kenapa mirip dengan mimpinya? Apakah mimpinya akan menjadi kenyataan?
Dia masih sibuk dengan pikirannya, dan tidak sadar kalau laki-laki di sebelahnya itu sudah berjalan meninggalkannya.
Jasmine menoleh dan sedikit terkejut mendapati orang yang sedang dipikirkannya menghilang. Kepalanya berputar, dan dia melihatnya.
"Bayu!" serunya refleks. Yang dipanggil tak menghiraukan. Tentu saja, karena namanya bukan Bayu, itu hanya ada dalam mimpinya. Jasmine memukul keningnya, merutuki kebodohannya.
Dua detik kemudian, Jasmine melongo. Matanya membelalak menatap sosok - yang menyandang tas laptop dan menenteng kotak makan - yang semakin menjauh itu. Sepertinya dia harus menepis segala angan dan mimpi paginya, melupakan laki-laki yang bernama Bayu - atau apa pun namanya, terserahlah.
Wajah boleh tampan, tapi jika gerak geriknya begitu gemulai seperti perempuan - bahkan melebihi Jasmine yang notabene adalah perempuan tulen? Pacaran dengan laki-laki setengah perempuan? Jasmine meringis dengan pikirannya sendiri.
Jasmine melirik ke arloji di pergelangan tangan kirinya. Jam setengah sembilan.
Alamak! Dia terlambat setengah jam, lebih parah dari kemarin,
Seketika wajah yang terbayang dalam angannya berubah, dari seorang laki-laki menjadi perempuan galak yang melotot padanya. Wajah Mbak Lisna.
Ooh, Jasmine benar-benar pasrah pada nasibnya hari ini.
*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar