Suatu senja, seorang perempuan tua termenung di teras rumah
kayu sederhana,
Tubuh rentanya terbalut baju putih dan kain sarung berwarna
coklat,
Dengan rambut kelabunya yang tergelung rapi,
Wajah keriputnya tampak segar selepas mandi,
Walaupun sedikit terlalu putih oleh taburan bedak.
Tangan rapuhnya memegang cangkir berisi teh hangat,
Kadang sepiring ubi rebus ikut menemaninya melewati petang,
Mata rabunnya menatap hampa ke jalan,
Memerhatikan mobil dan motor yang berlalu di hadapannya,
Pikirannya menerawang jauh ke belakang,
Mengenang pahit kehidupan di masa lalu.
Dulu, dulu sekali, di masa mudanya,
Dia pernah merasakan kerasnya kehidupan di jalan,
Ditinggal mati suami karena perang,
Menjadi janda di usia belia,
Bekerja serabutan,
Mengasong dari terminal ke terminal,
Bergelut di bawah terik matahari dan dinginnya hujan,
Demi sesuap nasi,
Yang kadang bahkan tak cukup mengenyangkan perut
anak-anaknya.
Hidup berpindah dari gubuk ke gubuk,
Pernah diusir karena tak mampu membayar uang sewa,
Membuatnya harus tidur beralas tanah dan beratap langit,
Ditemani nyanyian nyamuk yang berdengung di telinganya setiap malam.
Namun dia tak pernah menyerah,
Tekadnya sekeras baja,
Berjuang agar buah hatinya bisa hidup bahagia,
Makan kenyang, tidur nyenyak, sekolah tinggi,
Agar kelak tidak luntang-lantung seperti dirinya.
Kini, tujuan hidupnya telah tercapai,
Anak-anaknya telah menjadi orang,
Hidup senang dan nyaman,
Makan cukup, tidur di kasur empuk,
Tak perlu khawatir kelaparan, kepanasan dan kehujanan.
Walau kadang dia dilanda sepi,
Dadanya sesak oleh rindu yang mendera batin,
Anak cucunya terlalu sibuk dengan urusan mereka sendiri,
Seakan melupakan keberadaannya di sini.
Tubuh tuanya memang sudah lemah,
Tulangnya sudah lapuk,
Dia sudah tak berguna, tak bisa bekerja lagi,
Anak-anaknya sudah tak membutuhkannya lagi,
Mereka tak menghiraukannya lagi,
Meninggalkannya sendirian di sini.
Ah, dia merindukan saat-saat dulu,
Ketika anak-anaknya masih kecil, masih di sisinya,
Meskipun mereka selalu kekurangan,
Tetapi mereka selalu bersama, tak pernah terpisah.
Langit semakin kelam,
Senja telah berlalu,
Malam segera datang menjemput,
Jalan mulai lengang,
Perempuan tua itu masih termenung menatap langit.
Tiba-tiba bibirnya menyunggingkan senyum,
Matanya berbinar,
Raut wajah ceria yang sudah hilang sekian tahun muncul
kembali.
Dia melihatnya di sana, di atas langit malam,
Sang suami tersenyum memandangnya,
Sorot matanya menyiratkan keteduhan,
Tatapan yang pernah sangat dicintainya,
Hadir lagi di hadapannya.
Perempuan tua itu mengulurkan tangan,
Menyambut kekasih hati,
Yang datang menjemputnya,
Menggandeng tangannya,
Mengajaknya pergi,
Menembus kegelapan,
Menghapus segala keresahan hatinya,
Bersama, menuju keabadian.
*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar