Indra meneliti wajahnya di cermin.
Bersih, tidak berjerawat. Alis mata tebal, hidung mancung, garis rahang yang
keras, membuat siapa pun yang melihatnya pasti akan mengakui ketampanannya.
Yang paling disukainya adalah matanya. Banyak orang bilang, matanya seperti
magnet yang bisa menarik setiap orang yang memandang ke kedalamannya. Bentuk
badannya juga bagus, dengan tinggi 180 cm, postur tubuh yang ideal untuk
seorang model.
Mbak Anissa suka menyebutnya narsis
karena kebiasaannya berdiri lama-lama di depan cermin. Lebih baik narsis
daripada minder, begitu selalu jawabnya membela diri dari cemoohan kakaknya.
Sejak kecil Indra sangat ingin menjadi
model, bisa memakai baju desainer terkenal, berjalan di atas cat walk,
menjadi pusat perhatian dan dikenal banyak orang. Tetapi dia harus rela melepas
impian masa kecilnya itu karena ayahnya, yang seorang pensiunan ABRI, tidak
menyetujui keinginannya. Ayahnya memberikannya kebebasan memilih bidang
pekerjaan yang disukai kecuali menjadi model. Menurutnya dunia model tidak jauh
dari dunia artis yang glamor, penuh kebohongan, dan mudah menjerumuskan orang
dalam pergaulan yang salah.
Dididik dalam keluarga militer yang
keras, membuat Indra selalu patuh pada orang tuanya. Kata-kata ayahnya bagaikan
sabda Tuhan yang tidak boleh dilawan, walaupun kadang bertentangan dengan kata
hatinya. Bahkan ibunya sendiri juga tidak berani membantah ayahnya.
Maka jadilah Indra seorang akuntan
yang sukses seperti sekarang. Dia bisa membeli apa pun yang diinginkannya
dengan gajinya sendiri. Rumah, mobil mewah, jalan-jalan ke luar negeri, bahkan
tahun ini dia akan memberangkatkan orang tuanya naik haji. Hidupnya hampir
lengkap, kecuali satu, seorang istri.
“Umurmu sudah kepala tiga. Hidupmu
juga sudah mapan. Sudah saatnya kamu menikah.”
Itu yang sering dikatakan
ibunya. Dia maklum, sebagai anak lelaki satu-satunya, tentu orang tuanya sangat
berharap dia bisa meneruskan garis keturunan keluarga. Tiga orang kakaknya yang
sudah berkeluarga, semuanya perempuan.
Menikah? Indra selalu memikirkan kata
itu akhir-akhir ini. Menikah dengan siapa? Kekasih saja dia tidak punya.
“Jangan bilang kalau kau belum pernah
jatuh cinta dan pacaran.” Hadi, sahabat yang dikenalnya sewaktu kuliah,
menertawakannya.
Wajar jika Hadi merasa heran, karena dia sendiri pernah
mendapat julukan playboy waktu sekolah dulu. Bahkan dia sudah tidak
ingat Clara, pacarnya sekarang adalah pacar yang ke berapa. Padahal kalau
dibandingkan dengan Indra, wajah dan penampilannya biasa-biasa saja.
Kehidupannya juga tidak semewah Indra, walaupun dia memiliki sebuah gerai
ponsel sendiri di kawasan Mangga Dua Square.
Tetapi memang begitulah keadaannya.
Jika Hadi dijuluki playboy, maka Indra dipanggil gunung es karena
sikapnya yang cuek dan dingin terhadap wanita. Sebenarnya waktu SMA dulu, Indra
pernah menyukai teman sekelasnya. Namanya Linda. Mereka sempat dekat beberapa
bulan, sampai suatu hari tanpa sengaja Indra mendengar pembicaraan Linda dengan
teman-temannya yang lain di kantin. Ternyata Linda hanya memanfaatkannya untuk
memancing kecemburuan cowok lain yang ditaksirnya. Sejak itu Indra menjadi
dingin terhadap wanita. Dia hanya berbicara seperlunya dengan mereka. Jika ada
salah seorang dari mereka yang menunjukkan perhatian lebih terhadapnya, maka
dia akan langsung curiga kalau wanita itu hanya ingin memanfaatkannya. Apalagi
sekarang, dia tidak yakin ada wanita yang benar-benar bisa tulus mencintainya
tanpa melihat semua yang dimilikinya saat ini.
“Jangan berpikiran negatif terus,
nggak baik,” nasihat Hadi.
“Tidak semua perempuan sejelek seperti
yang kaukira. Ada seseorang yang kukira mencintaimu dengan tulus.
"Siapa?"
"Nadira.”
“Nadira?”
“Iya, Nadira.”
“Bagaimana kau bisa tahu?”
“Pengalaman friend. Masa sih
kau tidak sadar kalau sejak dulu Nadira itu menyukaimu?”
Indra terdiam merenungkan kata-kata
Hadi. Dia mengenal Nadira semasa ospek di kampus belasan tahun yang lalu.
Hingga kini Nadira masih menjadi salah satu teman terbaiknya karena mereka juga
bekerja di perusahaan yang sama. Gadis itu tidak berasal dari keluarga kaya,
walaupun tidak terlalu miskin. Dia teman diskusi yang menyenangkan. Satu hal
yang membuat Indra kagum padanya, dia selalu memegang teguh prinsip hidupnya
untuk tetap berada di jalur yang lurus dan tidak terpengaruh ketika orang-orang
di sekitarnya berlomba mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya dengan
menghalalkan segala cara.
Nadira pernah diminta merubah laporan
keuangan sebuah perusahaan pengolahan limbah industri. Pemilik perusahaan ingin
menguasai sendiri sebagian besar keuntungan dan mengurangi pembagian deviden
kepada para investor. Dia berani membayar Nadira dengan harga tinggi. Tetapi
Nadira menolak dengan tegas tawaran itu.
Indra sendiri dengan malu harus
mengakui dalam hati, jika dia berada di posisi Nadira saat itu, mungkin dia
akan berpikir dua kali untuk menolak tawaran yang menggiurkan itu.
Apa benar Nadira menyukainya? Mengapa
dia merasa sikap Nadira biasa-biasa saja padanya? Hadi yang asal bicara atau
dia yang bodoh tidak menyadari perhatian Nadira padanya?
Tapi dia sendiri tidak memiliki
perasaan apa-apa terhadap Nadira selain seorang sahabat.
“Itu karena kalian tiap hari ketemu,
jadi kau tidak sadar akan perasaanmu sendiri. Jika kau menunggu sampai Nadira
pergi atau diambil orang, baru menyadari bahwa kau suka padanya, itu sudah
terlambat,” kata Hadi mengingatkan.
Indra tidak yakin dengan Hadi, dia
tetap ragu akan perasaannya sendiri. Berada di dekat Nadira berbeda dengan
ketika dia bersama Linda dulu.
Tapi tidak ada salahnya mencoba saran
Hadi. Dia bisa membuktikan kata-kata Hadi tentang perasaan Nadira padanya,
sekaligus meyakinkan hatinya sendiri.
Dan sekarang dia ada di sini, di
halaman parkir studio 21, bersama Nadira. Tadi siang ketika mengajak Nadira,
dia melihat raut terkejut di wajah gadis itu, yang sesaat kemudian berubah
menjadi semu kemerahan disertai anggukan tersenyum.
Indra berjalan di samping Nadira,
tidak mencoba menggandeng tangannya seperti pasangan lain yang lewat di depan
mereka. Dia belum berani melangkah terlalu jauh, khawatir Nadira tersinggung.
“Dira!” mereka menoleh bersamaan ke belakang
mencari sumber suara. Tiga orang laki-laki seusia mereka menghampiri.
“Adam, kebetulan ketemu di sini. Mau
nonton juga ya?” Nadira menyapa laki-laki yang di tengah.
Indra meninggalkan mereka untuk antri
di loket karcis. Sepintas Nadira sempat mengenalkannya pada Adam.
Lima menit mengantri, Indra melihat
Nadira masih asyik mengobrol dengan Adam dan dua orang temannya. Tiba-tiba ada
perasaan tidak suka melihat kedekatan mereka. Indra menggeleng, berusaha
menepis pikiran buruk dari kepalanya. Nadira dan Adam adalah sepupu, mengapa
dia harus merasa marah melihat kedekatan mereka?
Di dalam, Indra sama sekali tidak bisa menikmati film yang ditontonnya. Dia gelisah, pikirannya terus melayang kepada Nadira dan
Adam, pada keakraban mereka di luar tadi. Padahal saat itu, Adam dan kedua
temannya sedang menonton film yang lain, dan tidak bersama dengan mereka.
***
Teminal A1, Bandara Soekarno Hatta,
dua bulan kemudian.
Indra duduk menyendiri di sudut ruang
tunggu. Tas ranselnya tergeletak di samping kursi. Tidak ada calon penumpang
lain selain dia di dalam ruangan itu. Seorang petugas cleaning service menyapu lantai, di pintu masuk ruang tunggu
dua orang petugas sedang berbicara, tetapi suaranya kecil sehingga tidak
terdengar dari tempat Indra duduk.
Masih ada
dua jam lebih sebelum pesawat yang akan membawanya ke Surabaya terbang. Indra
sengaja pergi pagi-pagi dari rumah untuk menghindari lebih banyak lagi
kemarahan dan kesedihan dari orang tuanya yand sudah membuatnya lelah seminggu
terakhir ini.
Dia
memejamkan mata, mencoba tidur sejenak. Semalam dia hanya berhasil terlelap
kurang dari dua jam, karena terlalu tegang memikirkan semuanya.
Satu
setengah bulan yang lalu, dalam keadaan pikiran kacau, dia bertemu dengan
Welly, seorang teman lama, yang mengenalkannya pada guru spiritualnya. Entah
mengapa, saat berbicara dan menatap wajah Sang Guru, Indra merasakan kedamaian
dalam hatinya yang belum pernah dirasakannya selama ini. Dia bisa melupakan
semua masalahnya.
Pertemuan
itu telah merubah segalanya dalam kehidupan Indra. Dia memutuskan untuk
mengundurkan diri dari perusahaan di tengah puncak karirnya, dan meninggalkan
semua kekayaan yang telah dikumpulkannya bertahun-tahun, untuk menenangkan diri
di pondok – istilah Sang Guru untuk kediamannya.
Sebuah
keputusan yang pasti akan membuat banyak orang terperangah, terutama kedua
orang tuanya. Oleh karena itu Indra menyimpan semua rencananya hingga seminggu
menjelang keberangkatannya. Dan seperti yang sudah dibayangkannya, orang tuanya
terbelalak tak percaya mendengar keinginannya. Ayahnya marah besar. Dia tidak
bisa menerima keputusan yang diambil Indra. Ibunya hanya bisa menangis. Tetapi
kali ini Indra sudah mantap dengan pilihannya. Dia tidak akan membiarkan
siapapun mempengaruhi dirinya.
Dan
sekarang, dengan hanya membawa beberapa helai pakaian, Indra akan pergi. Sore
nanti setelah tiba di Surabaya, seorang teman Welly akan menjemputnya dan
mengantarnya ke Trawas, sebuah kota kecil di Mojokerto, menuju ke pondok.
Indra tidak
tahu berapa lama dia akan berada di sana.
Nadira,
maafkan aku! Gumam Indra dalam hati.
Indra tidak
pernah bercerita mengapa dia ingin pergi, dan Nadira juga tidak memaksanya
berbicara. Tetapi Indra tahu pasti Nadira terpukul dengan kepergiannya.
Indra tidak
mungkin mengatakan alasan yang sebenarnya. Terlalu memalukan apalagi jika
sampai orang tuanya mengetahui hal ini.
Bagaimana
mungkin dia bisa mengatakan kalau dia tidak mencintai Nadira karena ternyata
dia justru menyukai Adam?
*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar