Kamis, 14 April 2016

Dilema

Indra meneliti wajahnya di cermin. Bersih, tidak berjerawat. Alis mata tebal, hidung mancung, garis rahang yang keras, membuat siapa pun yang melihatnya pasti akan mengakui ketampanannya. Yang paling disukainya adalah matanya. Banyak orang bilang, matanya seperti magnet yang bisa menarik setiap orang yang memandang ke kedalamannya. Bentuk badannya juga bagus, dengan tinggi 180 cm, postur tubuh yang ideal untuk seorang model.

Mbak Anissa suka menyebutnya narsis karena kebiasaannya berdiri lama-lama di depan cermin. Lebih baik narsis daripada minder, begitu selalu jawabnya membela diri dari cemoohan kakaknya.

Sejak kecil Indra sangat ingin menjadi model, bisa memakai baju desainer terkenal, berjalan di atas cat walk, menjadi pusat perhatian dan dikenal banyak orang. Tetapi dia harus rela melepas impian masa kecilnya itu karena ayahnya, yang seorang pensiunan ABRI, tidak menyetujui keinginannya. Ayahnya memberikannya kebebasan memilih bidang pekerjaan yang disukai kecuali menjadi model. Menurutnya dunia model tidak jauh dari dunia artis yang glamor, penuh kebohongan, dan mudah menjerumuskan orang dalam pergaulan yang salah.

Dididik dalam keluarga militer yang keras, membuat Indra selalu patuh pada orang tuanya. Kata-kata ayahnya bagaikan sabda Tuhan yang tidak boleh dilawan, walaupun kadang bertentangan dengan kata hatinya. Bahkan ibunya sendiri juga tidak berani membantah ayahnya.

Maka jadilah Indra seorang akuntan yang sukses seperti sekarang. Dia bisa membeli apa pun yang diinginkannya dengan gajinya sendiri. Rumah, mobil mewah, jalan-jalan ke luar negeri, bahkan tahun ini dia akan memberangkatkan orang tuanya naik haji. Hidupnya hampir lengkap, kecuali satu, seorang istri.

“Umurmu sudah kepala tiga. Hidupmu juga sudah mapan. Sudah saatnya kamu menikah.” 
Itu yang sering dikatakan ibunya. Dia maklum, sebagai anak lelaki satu-satunya, tentu orang tuanya sangat berharap dia bisa meneruskan garis keturunan keluarga. Tiga orang kakaknya yang sudah berkeluarga, semuanya perempuan.
Menikah? Indra selalu memikirkan kata itu akhir-akhir ini. Menikah dengan siapa? Kekasih saja dia tidak punya.

“Jangan bilang kalau kau belum pernah jatuh cinta dan pacaran.” Hadi, sahabat yang dikenalnya sewaktu kuliah, menertawakannya. 
Wajar jika Hadi merasa heran, karena dia sendiri pernah mendapat julukan playboy waktu sekolah dulu. Bahkan dia sudah tidak ingat Clara, pacarnya sekarang adalah pacar yang ke berapa. Padahal kalau dibandingkan dengan Indra, wajah dan penampilannya biasa-biasa saja. Kehidupannya juga tidak semewah Indra, walaupun dia memiliki sebuah gerai ponsel sendiri di kawasan Mangga Dua Square.

Tetapi memang begitulah keadaannya. Jika Hadi dijuluki playboy, maka Indra dipanggil gunung es karena sikapnya yang cuek dan dingin terhadap wanita. Sebenarnya waktu SMA dulu, Indra pernah menyukai teman sekelasnya. Namanya Linda. Mereka sempat dekat beberapa bulan, sampai suatu hari tanpa sengaja Indra mendengar pembicaraan Linda dengan teman-temannya yang lain di kantin. Ternyata Linda hanya memanfaatkannya untuk memancing kecemburuan cowok lain yang ditaksirnya. Sejak itu Indra menjadi dingin terhadap wanita. Dia hanya berbicara seperlunya dengan mereka. Jika ada salah seorang dari mereka yang menunjukkan perhatian lebih terhadapnya, maka dia akan langsung curiga kalau wanita itu hanya ingin memanfaatkannya. Apalagi sekarang, dia tidak yakin ada wanita yang benar-benar bisa tulus mencintainya tanpa melihat semua yang dimilikinya saat ini.

“Jangan berpikiran negatif terus, nggak baik,” nasihat Hadi.
“Tidak semua perempuan sejelek seperti yang kaukira. Ada seseorang yang kukira mencintaimu dengan tulus. 
"Siapa?"
"Nadira.”
“Nadira?”
“Iya, Nadira.”
“Bagaimana kau bisa tahu?”
“Pengalaman friend. Masa sih kau tidak sadar kalau sejak dulu Nadira itu menyukaimu?”

Indra terdiam merenungkan kata-kata Hadi. Dia mengenal Nadira semasa ospek di kampus belasan tahun yang lalu. Hingga kini Nadira masih menjadi salah satu teman terbaiknya karena mereka juga bekerja di perusahaan yang sama. Gadis itu tidak berasal dari keluarga kaya, walaupun tidak terlalu miskin. Dia teman diskusi yang menyenangkan. Satu hal yang membuat Indra kagum padanya, dia selalu memegang teguh prinsip hidupnya untuk tetap berada di jalur yang lurus dan tidak terpengaruh ketika orang-orang di sekitarnya berlomba mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya dengan menghalalkan segala cara.

Nadira pernah diminta merubah laporan keuangan sebuah perusahaan pengolahan limbah industri. Pemilik perusahaan ingin menguasai sendiri sebagian besar keuntungan dan mengurangi pembagian deviden kepada para investor. Dia berani membayar Nadira dengan harga tinggi. Tetapi Nadira menolak dengan tegas tawaran itu.
Indra sendiri dengan malu harus mengakui dalam hati, jika dia berada di posisi Nadira saat itu, mungkin dia akan berpikir dua kali untuk menolak tawaran yang menggiurkan itu.
Apa benar Nadira menyukainya? Mengapa dia merasa sikap Nadira biasa-biasa saja padanya? Hadi yang asal bicara atau dia yang bodoh tidak menyadari perhatian Nadira padanya?
Tapi dia sendiri tidak memiliki perasaan apa-apa terhadap Nadira selain seorang sahabat.

“Itu karena kalian tiap hari ketemu, jadi kau tidak sadar akan perasaanmu sendiri. Jika kau menunggu sampai Nadira pergi atau diambil orang, baru menyadari bahwa kau suka padanya, itu sudah terlambat,” kata Hadi mengingatkan.

Indra tidak yakin dengan Hadi, dia tetap ragu akan perasaannya sendiri. Berada di dekat Nadira berbeda dengan ketika dia bersama Linda dulu.
Tapi tidak ada salahnya mencoba saran Hadi. Dia bisa membuktikan kata-kata Hadi tentang perasaan Nadira padanya, sekaligus meyakinkan hatinya sendiri.


Dan sekarang dia ada di sini, di halaman parkir studio 21, bersama Nadira. Tadi siang ketika mengajak Nadira, dia melihat raut terkejut di wajah gadis itu, yang sesaat kemudian berubah menjadi semu kemerahan disertai anggukan tersenyum.
Indra berjalan di samping Nadira, tidak mencoba menggandeng tangannya seperti pasangan lain yang lewat di depan mereka. Dia belum berani melangkah terlalu jauh, khawatir Nadira tersinggung.

“Dira!” mereka menoleh bersamaan ke belakang mencari sumber suara. Tiga orang laki-laki seusia mereka menghampiri.
“Adam, kebetulan ketemu di sini. Mau nonton juga ya?” Nadira menyapa laki-laki yang di tengah.
Indra meninggalkan mereka untuk antri di loket karcis. Sepintas Nadira sempat mengenalkannya pada Adam.
Lima menit mengantri, Indra melihat Nadira masih asyik mengobrol dengan Adam dan dua orang temannya. Tiba-tiba ada perasaan tidak suka melihat kedekatan mereka. Indra menggeleng, berusaha menepis pikiran buruk dari kepalanya. Nadira dan Adam adalah sepupu, mengapa dia harus merasa marah melihat kedekatan mereka?

Di dalam, Indra sama sekali tidak bisa menikmati film yang ditontonnya. Dia gelisah, pikirannya terus melayang kepada Nadira dan Adam, pada keakraban mereka di luar tadi. Padahal saat itu, Adam dan kedua temannya sedang menonton film yang lain, dan tidak bersama dengan mereka.

***

Teminal A1, Bandara Soekarno Hatta, dua bulan kemudian.
Indra duduk menyendiri di sudut ruang tunggu. Tas ranselnya tergeletak di samping kursi. Tidak ada calon penumpang lain selain dia di dalam ruangan itu. Seorang petugas cleaning service menyapu lantai, di pintu masuk ruang tunggu dua orang petugas sedang berbicara, tetapi suaranya kecil sehingga tidak terdengar dari tempat Indra duduk.

Masih ada dua jam lebih sebelum pesawat yang akan membawanya ke Surabaya terbang. Indra sengaja pergi pagi-pagi dari rumah untuk menghindari lebih banyak lagi kemarahan dan kesedihan dari orang tuanya yand sudah membuatnya lelah seminggu terakhir ini.
Dia memejamkan mata, mencoba tidur sejenak. Semalam dia hanya berhasil terlelap kurang dari dua jam, karena terlalu tegang memikirkan semuanya.

Satu setengah bulan yang lalu, dalam keadaan pikiran kacau, dia bertemu dengan Welly, seorang teman lama, yang mengenalkannya pada guru spiritualnya. Entah mengapa, saat berbicara dan menatap wajah Sang Guru, Indra merasakan kedamaian dalam hatinya yang belum pernah dirasakannya selama ini. Dia bisa melupakan semua masalahnya.

Pertemuan itu telah merubah segalanya dalam kehidupan Indra. Dia memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan di tengah puncak karirnya, dan meninggalkan semua kekayaan yang telah dikumpulkannya bertahun-tahun, untuk menenangkan diri di pondok – istilah Sang Guru untuk kediamannya.

Sebuah keputusan yang pasti akan membuat banyak orang terperangah, terutama kedua orang tuanya. Oleh karena itu Indra menyimpan semua rencananya hingga seminggu menjelang keberangkatannya. Dan seperti yang sudah dibayangkannya, orang tuanya terbelalak tak percaya mendengar keinginannya. Ayahnya marah besar. Dia tidak bisa menerima keputusan yang diambil Indra. Ibunya hanya bisa menangis. Tetapi kali ini Indra sudah mantap dengan pilihannya. Dia tidak akan membiarkan siapapun mempengaruhi dirinya.

Dan sekarang, dengan hanya membawa beberapa helai pakaian, Indra akan pergi. Sore nanti setelah tiba di Surabaya, seorang teman Welly akan menjemputnya dan mengantarnya ke Trawas, sebuah kota kecil di Mojokerto, menuju ke pondok.
Indra tidak tahu berapa lama dia akan berada di sana.

Nadira, maafkan aku! Gumam Indra dalam hati.
Indra tidak pernah bercerita mengapa dia ingin pergi, dan Nadira juga tidak memaksanya berbicara. Tetapi Indra tahu pasti Nadira terpukul dengan kepergiannya.
Indra tidak mungkin mengatakan alasan yang sebenarnya. Terlalu memalukan apalagi jika sampai orang tuanya mengetahui hal ini.

Bagaimana mungkin dia bisa mengatakan kalau dia tidak mencintai Nadira karena ternyata dia justru menyukai Adam? 
*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar