Hans
mengetuk-ngetukkan jari di atas setir. Kebiasaan yang selalu dilakukannya bila
terjebak kemacetan di jalan. Sesekali dia menghembuskan nafas kesal. Sudah
lebih dari setengah jam mobilnya hanya merayap tidak lebih dari 5 km/jam. Kakinya
sudah pegal karena sebentar-sebentar harus menginjak rem.
Pukul sepuluh lewat dua puluh menit. Dia sudah terlambat dua puluh menit dari waktu yang dijanjikannya untuk bertemu dengan Johan, direktur pelaksana PT. Bahtera Adi Prima, pemilik proyek SPBU yang akan dibangun di jalan Katamso.
Di kejauhan, terdengar suara sirene mobil pemadam kebakaran. Sekarang Hans bisa menebak apa penyebab kemacetan panjang di jalan Diponegoro ini. Dia juga baru memperhatikan adanya gumpalan asap hitam membubung tinggi di langit sebelah barat. Sepertinya telah terjadi kebakaran besar di kampung Madras yang terletak di belakang Sun Plaza – salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota Medan – yang merupakan kawasan pemukiman padat penduduk.
Hans
berusaha mencari celah untuk mengambil jalur kanan. Di persimpangan jalan Teuku
Daud, Hans membelokkan mobilnya. Keluar ke jalan Imam Bonjol, Hans baru bisa
sedikit bernafas lega.
Dia
meraih ponselnya, menekan sebuah nomor. Sepertinya pertemuan hari ini terpaksa
harus ditunda, sudah terlalu siang jika dia harus memutar arah mencari jalan
alternatif lain.
***
***
Hans, yang baru masuk dan duduk di sebuah rumah makan padang, menoleh. Seorang gadis kecil – Hans menaksir umurnya kira-kira 10 tahun –
menyandang tas yang sudah agak lusuh dan kelihatannya tak sebanding dengan
ukuran tubuhnya yang mungil, berdiri disampingnya.Hans
sudah hendak membuka mulutnya, menolak tawaran gadis kecil itu. Tetapi ketika
melihat binar harap di matanya, Hans tak tega untuk melakukannya. Akhirnya dia
melepaskan sepatunya, yang masih mengilap karena baru disemirnya tadi pagi.
Gadis
kecil itu tersenyum senang, mengulurkan sepasang sandal jepit dalam bungkusan
plastik hitam yang ditentengnya dan meletakkannya di dekat kaki Hans, kemudian membawa sepatu Hans keluar. Hans
mengikuti dengan matanya. Ternyata gadis kecil itu akan melakukan pekerjaannya
di luar, tepat di samping pintu masuk.
Sepuluh menit kemudian, gadis kecil itu masuk kembali dan mengembalikan sepatu Hans, tepat saat Hans baru mulai menikmati makan siangnya.Hans mengeluarkan selembar lima ribu dan menyerahkannya pada gadis kecil itu.
“Ambil
saja kembaliannya.”
“Terima
kasih Om. Tapi nggak usah,” gadis kecil itu mengeluarkan tiga lembar uang
seribuan dari dalam tasnya.
Anak
yang aneh, pikir Hans. Biasanya setiap orang, apalagi anak-anak, pasti akan
sangat senang bila dibayar lebih banyak. Baru kali ini Hans bertemu dengan
orang yang menolak rezeki yang sudah jelas di depan mata. Tapi Hans hanya diam,
tidak ingin terlalu memusingkan hal kecil ini.
"Kata
ibu, kita nggak boleh mengambil lebih banyak dari apa yang menjadi hak kita.
Nanti rezeki kita bisa berkurang,” kata gadis kecil itu sambil menyerahkan uang
kembalian kepada Hans.
“Oh
ya?” Hans bertanya tak acuh.
"Kalau
hari ini saya mengambil sisa uang kembalian dari Om, mungkin besok-besok kalau
Om ke sini lagi, Om tidak mau lagi menyemirkan sepatu Om pada saya,” lanjut
gadis kecil itu.
“Kenapa
begitu?” Hans masih bertanya dengan nada yang sama.
“Karena
Om takut harus membayar lebih mahal.”
Hans
tertawa kecil mendengar jawaban lugu yang keluar dari bibir mungil itu.
“Permisi
Om, saya masih harus kerja lagi,” gadis kecil itu pamit dengan sopan, berlalu
dari hadapan Hans dan menghampiri dua orang laki-laki yang baru masuk dan
menempati meja berseberangan dengan Hans.
***
Mata Hans tertumbuk pada sesosok pedagang cilik yang berdiri tak jauh dari mobilnya. Dia sedang melayani seorang penumpang angkutan umum yang ingin membeli rokok. Dari samping wajahnya tak kelihatan dengan jelas, tapi Hans masih ingat dengan tas besar yang disandangnya.Hans menurunkan kaca mobil, memanggil gadis kecil itu.
“Rokok
Om?”
Hans
menggeleng, dia bukan perokok. Dia baru sadar, sebenarnya dia tidak ingin
membeli apa-apa. Tetapi gadis kecil itu
masih sabar menunggu di sisi mobil. Akhirnya Hans membeli sebotol air mineral.
“Kamu
penyemir sepatu yang di rumah makan Bu Nani kan?”
“Iya.
Om masih ingat juga ya sama saya?” gadis kecil itu tersenyum sumringah. Hans
baru memperhatikan dengan jelas, walaupun berpenampilan agak lusuh, gadis kecil
itu sangat manis saat tersenyum, ditambah lagi dengan matanya yang selalu
berbinar, sangat indah.
Suara klakson mobil di belakang membuat Hans urung bertanya lebih jauh tentang gadis kecil itu. Lampu hijau sudah menyala.
“Kapan-kapan
kita ngobrol lagi ya,” Hans tersenyum melambaikan tangan. Dia masih sempat
mendengar gadis kecil itu mengucapkan terima kasih sebelum mobilnya melaju
meninggalkan perempatan itu.
***
“Kenapa memilih jadi penyemir sepatu? Bukankah itu pekerjaan anak laki-laki?” pertanyaan itu terlontar saat Hans menemani Dita ngobrol di suatu siang.
Gadis
kecil itu bercerita, sambil tetap tekun memoles sepatu di tangannya.
Dulu
abangnya yang melakoni semua pekerjaan ini untuk membantu biaya sekolah mereka
berdua. Kadang-kadang dia mengajak Dita ikut bersamanya. Tetapi tiga tahun
lalu, sebulan sebelum terjadinya kecelakaan yang merenggut nyawa ayahnya,
abangnya meninggal akibat ditabrak mobil angkutan umum ketika hendak
menyeberang.
Raut wajah Dita berubah sendu, mungkin dia teringat lagi dengan abangnya yang sudah meninggal. Hans segera mengalihkan pembicaraan untuk memupus kesedihannya.
“Jadi
artis.”
Hans
mengernyitkan kening mendengar jawaban yang meluncur dari bibir gadis kecil itu saat dia menanyakan cita-citanya.
Dulu semasa kecil, bila gurunya bertanya tentang cita-citanya, dia dan teman-temannya akan
langsung menjawab ingin menjadi dokter atau polisi atau pilot atau yang paling
sederhana menjadi guru. Yang terlintas di benak kanak-kanak mereka saat itu
adalah pekerjaan-pekerjaan semacam itu akan membuat mereka terlihat menjadi
orang hebat.
Tapi gadis kecil – yang mengaku tinggal di bantaran sungai Deli – ini ingin menjadi artis? Alasannya juga mencengangkan. Dia ingin menjadi orang kaya dan terkenal, seperti Ihsan idol dan Rini idol, yang sudah sukses menjadi artis terkenal di ibukota.
Ternyata
pengaruh televisi sangat besar terhadap perkembangan jiwa anak-anak zaman sekarang.
***
Satu meter? Hans menggeleng-gelengkan kepala. Untung jalan yang dilaluinya hari ini hanya tergenang air sedikit. Hujan sudah berhenti setengah jam yang lalu, tapi banjir di jalan masih setinggi satu meter.
Sepertinya akhir-akhir ini semakin
sering banjir. Hujan sebentar saja sudah membuat jalan-jalan tergenang air. Padahal
pemerintah kota selalu menggembar gemborkan slogan ‘kota Medan menuju kota
metropolitan’. Apakah memang seperti ini ciri khas kota metropolitan?
Sementara
itu suara penyiar radio sudah berganti dengan suara khasnya Afgan dengan lagunya ‘Sadis’.
***
Hans bingung, mengapa gadis kecil itu tiba-tiba menghilang secara misterius seperti ini. Tapi sebenarnya dia lebih heran dengan dirinya sendiri, yang tiba-tiba saja begitu mengkhawatirkan gadis kecil itu.
“Semir
sepatu Om?”
Hans
menoleh. Seorang anak laki-laki sebaya dengan Dita, berdiri di sampingnya. Hans
mengamati anak itu sejenak, agak kumal, seperti penampilan anak jalanan pada
umumnya. Hans kurang menyukai rambutnya yang agak gondrong.
Hans
menggeleng. Tiba-tiba dia teringat sesuatu.
“Hei,
tunggu sebentar!”
Anak
laki-laki itu berbalik dan menghampiri Hans lagi.
“Kamu
kenal Dita?”
“Dita?”
“Anak
perempuan yang biasa menyemir sepatu di sini.”
“Oh,
Dita. Kenal Om, dia itu tetangga saya.”
“Kamu
tahu dia ke mana? Kenapa dia tidak kerja di sini lagi, malah kamu yang
menggantikan dia?”
“Dita
sudah meninggal Om,” raut wajah bocah laki-laki itu terlihat sedih.
“Meninggal?
Kapan? Kenapa bisa?” tanya Hans beruntun. Dia benar-benar terkejut.
“Dita
hanyut terseret arus saat daerah rumah kami banjir seminggu yang lalu.”
Hans
terhenyak. Dita meninggal? Sulit dipercaya. Hans masih ingat dengan jelas binar
ceria di mata gadis kecil itu saat bercerita.
Hans
terdiam beberapa saat. Dia kehilangan selera makannya. Tanpa sadar, matanya
terasa basah. Dia bahkan tidak memperhatikan lagi ketika anak laki-laki itu
berlalu dari hadapannya.
***
“Kamu
benar-benar yakin dengan keputusanmu ini Hans? Apa nggak merasa sayang?
Bukannya kamu sudah punya rencana untuk membeli rumah mewah setelah proyek ini
selesai?”
“Tapi
pekerjaan ini merugikan banyak orang.”
“Merugikan
gimana?”
“Kamu
nggak baca berita banjir di koran minggu lalu? Banjir yang disebabkan sungai
Deli yang meluap dan memakan korban jiwa.”
“Tapi
itu nggak ada hubungannya dengan kita kan?”
“Kamu
tahu? Akhir-akhir ini kota Medan semakin sering banjir. Dan penyebabnya adalah
kondisi sungai yang semakin buruk karena mengalami penyempitan di mana-mana.
Dan kita sudah menimbun sungai untuk melakukan proyek ini, berarti kita juga
sudah turut memperburuk keadaan.”
“Tapi
itu bukan salah kita. Kita hanya melakukan tugas yang diperintahkan bos.
Lagipula, bukan cuma kita yang melakukan pekerjaan semacam itu. Kalaupun kita
tidak melakukannya, pasti ada orang lain yang akan mengerjakannya.”
Hans
sudah membulatkan tekad untuk mengundurkan diri dan mencari pekerjaan lain. Dia
tidak peduli dengan kata-kata Surya yang menertawakan kebodohannya karena
memilih berhenti dan kehilangan bonus ratusan juta rupiah. Baginya lebih baik
tidak menjadi kaya daripada dia harus melakukan hal yang bertentangan dengan
hati nuraninya.
Kematian
Dita telah menyentak kesadarannya, gadis kecil itu adalah salah satu korban
dari keserakahan manusia-manusia yang tidak bertanggung jawab dan menghalalkan
segala cara demi mengeruk keuntungan untuk diri mereka sendiri. Dan Hans tidak
ingin menjadi salah satu dari mereka.
*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar