Kamis, 14 April 2016

Gadis Penyemir Sepatu

Hans mengetuk-ngetukkan jari di atas setir. Kebiasaan yang selalu dilakukannya bila terjebak kemacetan di jalan. Sesekali dia menghembuskan nafas kesal. Sudah lebih dari setengah jam mobilnya hanya merayap tidak lebih dari 5 km/jam. Kakinya sudah pegal karena sebentar-sebentar harus menginjak rem.

Pukul sepuluh lewat dua puluh menit. Dia sudah terlambat dua puluh menit dari waktu yang dijanjikannya untuk bertemu dengan Johan, direktur pelaksana PT. Bahtera Adi Prima, pemilik proyek SPBU yang akan dibangun di jalan Katamso.

Di kejauhan, terdengar suara sirene mobil pemadam kebakaran. Sekarang Hans bisa menebak apa penyebab kemacetan panjang di jalan Diponegoro ini. Dia juga baru memperhatikan adanya gumpalan asap hitam membubung tinggi di langit sebelah barat. Sepertinya telah terjadi kebakaran besar di kampung Madras yang terletak di belakang Sun Plaza – salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota Medan – yang merupakan kawasan pemukiman padat penduduk.
Hans berusaha mencari celah untuk mengambil jalur kanan. Di persimpangan jalan Teuku Daud, Hans membelokkan mobilnya. Keluar ke jalan Imam Bonjol, Hans baru bisa sedikit bernafas lega.
Dia meraih ponselnya, menekan sebuah nomor. Sepertinya pertemuan hari ini terpaksa harus ditunda, sudah terlalu siang jika dia harus memutar arah mencari jalan alternatif lain.

 ***

Hans memperhatikan lengan-lengan raksasa dari dua buah excavator yang sejak pagi tadi belum berhenti memindahkan ratusan ton tanah di pinggir sungai. Penimbunan tanah untuk meratakan kawasan miring di bibir sungai itu sudah rampung sebagian besar. Hans memperkirakan pekerjaan itu akan selesai dua bulan lagi.

 ***

“Om, semir sepatunya Om?”
Hans, yang baru masuk dan duduk di sebuah rumah makan padang, menoleh. Seorang gadis kecil – Hans menaksir umurnya kira-kira 10 tahun – menyandang tas yang sudah agak lusuh dan kelihatannya tak sebanding dengan ukuran tubuhnya yang mungil, berdiri disampingnya.Hans sudah hendak membuka mulutnya, menolak tawaran gadis kecil itu. Tetapi ketika melihat binar harap di matanya, Hans tak tega untuk melakukannya. Akhirnya dia melepaskan sepatunya, yang masih mengilap karena baru disemirnya tadi pagi.
Gadis kecil itu tersenyum senang, mengulurkan sepasang sandal jepit dalam bungkusan plastik hitam yang ditentengnya dan meletakkannya di dekat kaki Hans, kemudian membawa sepatu Hans keluar. Hans mengikuti dengan matanya. Ternyata gadis kecil itu akan melakukan pekerjaannya di luar, tepat di samping pintu masuk.

Sepuluh menit kemudian, gadis kecil itu masuk kembali dan mengembalikan sepatu Hans, tepat saat Hans baru mulai menikmati makan siangnya.Hans mengeluarkan selembar lima ribu dan menyerahkannya pada gadis kecil itu.
“Ambil saja kembaliannya.”
“Terima kasih Om. Tapi nggak usah,” gadis kecil itu mengeluarkan tiga lembar uang seribuan dari dalam tasnya.
Anak yang aneh, pikir Hans. Biasanya setiap orang, apalagi anak-anak, pasti akan sangat senang bila dibayar lebih banyak. Baru kali ini Hans bertemu dengan orang yang menolak rezeki yang sudah jelas di depan mata. Tapi Hans hanya diam, tidak ingin terlalu memusingkan hal kecil ini.
"Kata ibu, kita nggak boleh mengambil lebih banyak dari apa yang menjadi hak kita. Nanti rezeki kita bisa berkurang,” kata gadis kecil itu sambil menyerahkan uang kembalian kepada Hans.
“Oh ya?” Hans bertanya tak acuh.
"Kalau hari ini saya mengambil sisa uang kembalian dari Om, mungkin besok-besok kalau Om ke sini lagi, Om tidak mau lagi menyemirkan sepatu Om pada saya,” lanjut gadis kecil itu.
“Kenapa begitu?” Hans masih bertanya dengan nada yang sama.
“Karena Om takut harus membayar lebih mahal.”
Hans tertawa kecil mendengar jawaban lugu yang keluar dari bibir mungil itu.
“Permisi Om, saya masih harus kerja lagi,” gadis kecil itu pamit dengan sopan, berlalu dari hadapan Hans dan menghampiri dua orang laki-laki yang baru masuk dan menempati meja berseberangan dengan Hans.

 ***

Hans bersiul kecil mengikuti irama lagu yang diputar di radio. Sore ini lalu lintas di jalan agak lengang, sehingga dia bisa menyetir dengan santai. Dua puluh meter menuju persimpangan jalan Katamso – Juanda, lampu lalu lintas berganti kuning. Hans memperlambat mobilnya, dia tidak berniat buru-buru dan menerobos lampu kuning yang dalam dua detik segera berubah menjadi merah.Persimpangan itu dilalui kendaraan dari empat arah yang berbeda, membuat lampu merah menyala lebih lama. Beberapa pedagang asongan mulai turun ke jalan menjajakan dagangannya.

Mata Hans tertumbuk pada sesosok pedagang cilik yang berdiri tak jauh dari mobilnya. Dia sedang melayani seorang penumpang angkutan umum yang ingin membeli rokok. Dari samping wajahnya tak kelihatan dengan jelas, tapi Hans masih ingat dengan tas besar yang disandangnya.Hans menurunkan kaca mobil, memanggil gadis kecil itu.
“Rokok Om?”
Hans menggeleng, dia bukan perokok. Dia baru sadar, sebenarnya dia tidak ingin membeli apa-apa.  Tetapi gadis kecil itu masih sabar menunggu di sisi mobil. Akhirnya Hans membeli sebotol  air mineral.
“Kamu penyemir sepatu yang di rumah makan Bu Nani kan?”
“Iya. Om masih ingat juga ya sama saya?” gadis kecil itu tersenyum sumringah. Hans baru memperhatikan dengan jelas, walaupun berpenampilan agak lusuh, gadis kecil itu sangat manis saat tersenyum, ditambah lagi dengan matanya yang selalu berbinar, sangat indah.

Suara klakson mobil di belakang membuat Hans urung bertanya lebih jauh tentang gadis kecil itu. Lampu hijau sudah menyala.
“Kapan-kapan kita ngobrol lagi ya,” Hans tersenyum melambaikan tangan. Dia masih sempat mendengar gadis kecil itu mengucapkan terima kasih sebelum mobilnya melaju meninggalkan perempatan itu.

 ***

Namanya Dita. Duduk di bangku kelas 5 SD. Ayahnya yang bekerja sebagai buruh kasar meninggal tiga tahun yang lalu karena terjatuh dari lantai lima bangunan hotel bintang lima yang sedang dalam proses pembangunan. Sejak itu hidupnya dan seorang adik perempuannya yang waktu itu baru berusia setahun bergantung pada ibunya yang menjadi buruh cuci.Untuk meringankan beban keluarga, sudah dua tahun ini dia menjadi penyemir sepatu, dan setiap hari sepulang sekolah selalu mangkal di depan rumah makan Bu Nani. Selepas siang, saat pelanggan mulai sepi, dia akan mengasong di persimpangan lampu merah jalan Juanda hingga menjelang maghrib.

“Kenapa memilih jadi penyemir sepatu? Bukankah itu pekerjaan anak laki-laki?” pertanyaan itu terlontar saat Hans menemani Dita ngobrol di suatu siang.
Gadis kecil itu bercerita, sambil tetap tekun memoles sepatu di tangannya.
Dulu abangnya yang melakoni semua pekerjaan ini untuk membantu biaya sekolah mereka berdua. Kadang-kadang dia mengajak Dita ikut bersamanya. Tetapi tiga tahun lalu, sebulan sebelum terjadinya kecelakaan yang merenggut nyawa ayahnya, abangnya meninggal akibat ditabrak mobil angkutan umum ketika hendak menyeberang.

Raut wajah Dita berubah sendu, mungkin dia teringat lagi dengan abangnya yang sudah meninggal. Hans segera mengalihkan pembicaraan untuk memupus kesedihannya. 

“Jadi artis.”
Hans mengernyitkan kening mendengar jawaban yang meluncur dari bibir gadis kecil itu saat dia menanyakan cita-citanya.
Dulu semasa kecil, bila gurunya bertanya tentang cita-citanya, dia dan teman-temannya akan langsung menjawab ingin menjadi dokter atau polisi atau pilot atau yang paling sederhana menjadi guru. Yang terlintas di benak kanak-kanak mereka saat itu adalah pekerjaan-pekerjaan semacam itu akan membuat mereka terlihat menjadi orang hebat.

Tapi gadis kecil – yang mengaku tinggal di bantaran sungai Deli – ini ingin menjadi artis? Alasannya juga mencengangkan. Dia ingin menjadi orang kaya dan terkenal, seperti Ihsan idol dan Rini idol, yang sudah sukses menjadi artis terkenal di ibukota.
Ternyata pengaruh televisi sangat besar terhadap perkembangan jiwa anak-anak zaman sekarang.

 ***

“Sobat pendengar yang saat ini sedang dalam perjalanan menuju kantor atau tempat tugas, tetaplah berhati-hati. Saat ini beberapa ruas jalan utama seperti jalan Asia dan Mandala masih tergenang air cukup tinggi, akibat hujan deras selama dua jam pagi tadi. Bahkan menurut informasi yang kami peroleh dari rekan kami yang saat ini sedang berada di sekitar lapangan Merdeka, genangan air di jalan Kereta Api tepatnya di depan stasiun besar kereta api masih mencapai ketinggian hampir satu meter. Dari pantauan rekan kami Andi, saat ini banyak kendaraan roda dua, juga termasuk beberapa mobil angkutan umum yang terjebak di tempat ini karena motor dan mobil mereka mogok dan mengalami mati mesin…..”

Satu meter? Hans menggeleng-gelengkan kepala. Untung jalan yang dilaluinya hari ini hanya tergenang air sedikit. Hujan sudah berhenti setengah jam yang lalu, tapi banjir di jalan masih setinggi satu meter. 
Sepertinya akhir-akhir ini semakin sering banjir. Hujan sebentar saja sudah membuat jalan-jalan tergenang air. Padahal pemerintah kota selalu menggembar gemborkan slogan ‘kota Medan menuju kota metropolitan’. Apakah memang seperti ini ciri khas kota metropolitan?
Sementara itu suara penyiar radio sudah berganti dengan suara khasnya Afgan dengan lagunya ‘Sadis’.

 ***

Hans mengedarkan pandangan ke sekeliling. Matanya mencari-cari seseorang. Sudah beberapa hari ini dia tidak melihat gadis kecil itu berjualan di persimpangan lampu merah. Hari ini  dia juga tidak menjumpainya di sini, tempat dia biasanya mangkal menunggui pelanggan yang ingin menyemirkan sepatunya. Entah mengapa, ada rasa penasaran menggelitik hatinya untuk mengetahui kabar gadis kecil itu. Tetapi dia gagal mengetahui keberadaan gadis kecil itu melalui pemilik rumah makan.

Hans bingung, mengapa gadis kecil itu tiba-tiba menghilang secara misterius seperti ini. Tapi sebenarnya dia lebih heran dengan dirinya sendiri, yang tiba-tiba saja begitu mengkhawatirkan gadis kecil itu. 
“Semir sepatu Om?”
Hans menoleh. Seorang anak laki-laki sebaya dengan Dita, berdiri di sampingnya. Hans mengamati anak itu sejenak, agak kumal, seperti penampilan anak jalanan pada umumnya. Hans kurang menyukai rambutnya yang agak gondrong.
Hans menggeleng. Tiba-tiba dia teringat sesuatu.
“Hei, tunggu sebentar!”
Anak laki-laki itu berbalik dan menghampiri Hans lagi.
“Kamu kenal Dita?”
“Dita?”
“Anak perempuan yang biasa menyemir sepatu di sini.”
“Oh, Dita. Kenal Om, dia itu tetangga saya.”
“Kamu tahu dia ke mana? Kenapa dia tidak kerja di sini lagi, malah kamu yang menggantikan dia?”
“Dita sudah meninggal Om,” raut wajah bocah laki-laki itu terlihat sedih.
“Meninggal? Kapan? Kenapa bisa?” tanya Hans beruntun. Dia benar-benar terkejut.
“Dita hanyut terseret arus saat daerah rumah kami banjir seminggu yang lalu.”
Hans terhenyak. Dita meninggal? Sulit dipercaya. Hans masih ingat dengan jelas binar ceria di mata gadis kecil itu saat bercerita.
Hans terdiam beberapa saat. Dia kehilangan selera makannya. Tanpa sadar, matanya terasa basah. Dia bahkan tidak memperhatikan lagi ketika anak laki-laki itu berlalu dari hadapannya.

 ***

Hans menimbang-nimbang surat di tangannya.
“Kamu benar-benar yakin dengan keputusanmu ini Hans? Apa nggak merasa sayang? Bukannya kamu sudah punya rencana untuk membeli rumah mewah setelah proyek ini selesai?”
“Tapi pekerjaan ini merugikan banyak orang.”
“Merugikan gimana?”
“Kamu nggak baca berita banjir di koran minggu lalu? Banjir yang disebabkan sungai Deli yang meluap dan memakan korban jiwa.”
“Tapi itu nggak ada hubungannya dengan kita kan?”
“Kamu tahu? Akhir-akhir ini kota Medan semakin sering banjir. Dan penyebabnya adalah kondisi sungai yang semakin buruk karena mengalami penyempitan di mana-mana. Dan kita sudah menimbun sungai untuk melakukan proyek ini, berarti kita juga sudah turut memperburuk keadaan.”
“Tapi itu bukan salah kita. Kita hanya melakukan tugas yang diperintahkan bos. Lagipula, bukan cuma kita yang melakukan pekerjaan semacam itu. Kalaupun kita tidak melakukannya, pasti ada orang lain yang akan mengerjakannya.”

Hans sudah membulatkan tekad untuk mengundurkan diri dan mencari pekerjaan lain. Dia tidak peduli dengan kata-kata Surya yang menertawakan kebodohannya karena memilih berhenti dan kehilangan bonus ratusan juta rupiah. Baginya lebih baik tidak menjadi kaya daripada dia harus melakukan hal yang bertentangan dengan hati nuraninya.

Kematian Dita telah menyentak kesadarannya, gadis kecil itu adalah salah satu korban dari keserakahan manusia-manusia yang tidak bertanggung jawab dan menghalalkan segala cara demi mengeruk keuntungan untuk diri mereka sendiri. Dan Hans tidak ingin menjadi salah satu dari mereka. 
*****
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar