Rabu, 13 April 2016

Suatu Siang di Persimpangan Lampu Merah

Siang yang terik. Matahari sedang semangat-semangatnya memancarkan sinarnya dengan kekuatan penuh, membuat bumi di bawahnya menggeliat kepanasan karena tidak ada awan yang memayungi di langit. Tetapi sepertinya manusia-manusia di atas bumi sudah terbiasa dengan cuaca seperti itu, mereka tidak peduli dengan panas yang menyengat dan tetap sibuk seperti biasa.

Tak percaya? Lihatlah ke jalan raya yang hiruk pikuk. Mulai dari pejalan kaki, sepeda motor, hingga mobil lalu lalang tiada henti. Pagi, siang, sore hingga malam, entah hari panas atau hujan sekali pun, jalan raya tak pernah sepi. Siang ini, tak ada bedanya dengan siang-siang yang lain, jalan raya tetap ramai walau panas matahari serasa membakar kulit. Di tempat-tempat tertentu terjadi penumpukan kendaraan yang menimbulkan kemacetan. Yang paling mencolok adalah di persimpangan-persimpangan lampu merah, terutama untuk jalan-jalan dua arah.

Seperti saat ini di perempatan di jalan Gatot Subroto menuju ke jalan Medan-Binjai. Lampu merah menyala lebih dari tiga menit, sedangkan lampu hijaunya hanya satu menit. Antrian kendaraan dari arah Medan menuju Binjai, yang berjejer hingga tiga baris memenuhi satu sisi dari jalan dua arah yang cukup lebar itu, memanjang mulai dari lampu merah hingga 300 meter ke belakang. Lajur kiri yang diperuntukkan bagi kendaraan yang akan berbelok ke kiri, juga tertutup oleh mobil angkot yang sebenarnya hendak berjalan lurus. Akibatnya mobil-mobil yang hendak berbelok ke kiri, yang seharusnya tidak terhalang lampu merah, terpaksa ikut berhenti dan menunggu hingga lampu hijau menyala.

Lampu merah sekarang berganti hijau. Antrian panjang itu mulai bergerak. Kendaraan-kendaraan di barisan belakang yang tidak sabaran mulai membunyikan klakson.  Suara klakson menjerit memekakkan telinga, menyebabkan polusi suara, ditambah lagi polusi dari asap knalpot kendaraan bercampur asap rokok membuat udara yang sudah panas semakin gerah. 

Sebuah sepeda motor tiba-tiba berusaha menyalip dari sebelah kiri mobil di depannya yang bergerak pelan mengikuti arus kendaraan tanpa memerhatikan mobil lain yang melaju belakang sisi kirinya. Akibatnya bumper depan mobil sedan itu hampir mencium roda belakang motor seandainya saja pengemudinya tidak segera menginjak rem. Seorang laki-laki menjulurkan kepala dari jendela mobil, melontarkan sumpah serapah kepada pengendara motor yang dengan cuek tetap melajukan motornya tanpa menggubrisnya.

Satu menit kemudian lampu hijau berkedip-kedip selama dua detik, lalu berganti kuning. Menurut peraturan lalu lintas, kuning berarti hati-hati, dan itu berlaku di semua tempat yang berada di permukaan bumi ini. Maka seharusnya orang-orang tahu, bila lampu kuning menyala artinya mereka harus memelankan laju kendaraannya, bukan sebaliknya. Tetapi ada beberapa orang yang – agak kurang ajar – berprinsip, peraturan dibuat untuk dilanggar. Bukannya menginjak rem, mereka justru menekan pedal gas lebih dalam, berpacu dengan waktu agar bisa melewati persimpangan sebelum lampu merah menyala.

Dua detik berikutnya warna lampu berubah lagi, menjadi merah kembali. Sebuah angkot yang ingin mengejar angkot lain yang menyalipnya sebelum persimpangan karena ingin berebut penumpang, masih ngotot melaju dengan kecepatan tinggi, padahal mobil lain di depannya sudah berhenti. Supir angkot yang kaget spontan menginjak rem sampai kandas. Angkot berhenti beberapa inci di belakang mobil sedan biru diiringi bunyi decit ban. Lima orang penumpang di dalam angkot sontak terdorong ke depan. Terdengar suara mengaduh serta gerutuan panjang pendek. Seorang bapak yang sudah agak berumur hampir terlempar keluar jika saja tidak tertahan bangku kecil yang berada di dekat pintu.

“Hei Lae, pelan-pelan kau bawa mobil! Kami masih mau hidup ini, kalau mau mati, mati saja sana sendiri!” seorang ibu bertubuh agak tambun berteriak marah dengan logat batak yang kental pada si supir, sambil mengusap-usap lututnya yang terasa perih. Wajar saja dia marah, karena tadi dia sampai terjerembab ke lantai angkot. Si supir hanya menggaruk-garuk kepala tanpa merasa bersalah apalagi meminta maaf.
***


“Hoaaammm…” Ana menguap – yang kelima kali dalam setengah jam. Dia sedang bosan, siang yang panas ditambah perut lapar membuat matanya terasa berat. Tetapi tentu saja dia tidak boleh tertidur. Bosnya sedang keluar menjemput anaknya di sekolah dan menitipkan kedai padanya untuk dijaga.

Sebenarnya yang disebut kedai oleh bosnya ini adalah toko roti yang berada di lantai bawah sebuah ruko yang merangkap tempat tinggal pemiliknya yang terletak di sudut persimpangan jalan Gatot Subroto – Pinang Baris. Bosnya, seorang wanita muda dengan seorang putra yang sudah duduk di bangku SD, membuka usaha ini karena merasa bosan dengan kegiatan sehari-hari yang hanya sebagai ibu rumah tangga sementara suaminya bekerja di kantor. Ana jarang bertemu dan tidak terlalu kenal dengan suami bosnya, karena suami bosnya itu sering pulang larut malam. Hanya kadang-kadang pada masa-masa tertentu – misalnya menjelang lebaran dan tahun baru – bila toko sedang ramai dan dia harus lembur, baru dia bisa melihatnya.

Toko roti ini menjual aneka ragam roti dan kue kering dan basah, juga minuman, bahkan rokok dan mancis juga ada. Ana sudah bekerja di toko ini selama lima tahun. Sekolahnya hanya sampai lulus SMP. Walaupun keluarganya tidak terlalu berada – ayahnya buruh pabrik dan ibunya pembantu rumah tangga - tetapi alasan utamanya tidak melanjutkan pendidikannya bukanlah karena ketiadaan biaya. Dia tahu, orang tuanya pasti akan berusaha sekuat tenaga agar bisa membiayai sekolah dia dan dua orang adiknya, paling tidak hingga tamat SMA. Tetapi sejak dulu, Ana memang tidak suka bersekolah, dia malas belajar dan rangkingnya di kelas selalu dihitung dari bawah dengan nilai rapor berbunga-bunga merah. Maka ketika lulus SMP, dia bersikeras tidak mau melanjutkan sekolah, orang tuanya juga tak mampu membujuknya. 

“Uangnya disimpan untuk biaya kuliah Anto dan Arman saja. Mereka laki-laki, harus sekolah yang tinggi. Ana mau cari kerja saja,” begitu kilahnya. 
Dia cukup beruntung, karena seorang kenalan majikan ibunya sedang mencari pembantu untuk menjaga anaknya yang masih balita. Sejak kecil Ana sudah terbiasa menjaga kedua adiknya, jadi pekerjaan itu tidaklah sulit baginya.Gajinya memang tidak terlalu besar, tetapi Ana senang dengan pekerjaannya. Bosnya baik padanya. Setelah anaknya bersekolah tiga tahun yang lalu, pekerjaan Ana menjadi lebih ringan, dan dia diminta membantu menjaga toko.

“Kak, galan satu, dji sam soe dua.” 
Panggilan itu membuyarkan kantuk Ana. Seorang bocah laki-laki tanggung berdiri di depannya – dipisahkan oleh rak kaca. 

Ada lagi?” Ana bertanya sambil menyerahkan tiga bungkus rokok padanya. 
Bocah itu memeriksa barang bawaannya sejenak, lalu menjawab.
Aqua, lima. Relaxa, satu.” 

Ana mengambilkan pesanan bocah itu, lima air mineral gelas dan sebungkus permen.

“Berapa semuanya Kak?” tanya bocah itu sambil mengeluarkan uang dari dalam tasnya, sementara Ana menghitung dengan kalkulator.

“Laku daganganmu hari ini To?” tanya Ana sambil menghitung uang logam yang diberikan bocah itu, menyusunnya menjadi satu tumpukan tiap sepuluh keping.

“Lumayanlah Kak,” jawab si bocah.

“Kau tak sekolah hari ini?” Ana telah selesai menyusun dan menghitung seluruh uang – yang hampir semuanya adalah uang logam pecahan lima ratus – yang diberikan si bocah untuk membayar belanjaannya.

“Sekolahlah Kak, ini juga aku mau pulang dan siap-siap. Aku pergi dulu Kak.” Bocah itu memasukkan semua barang yang dibelinya ke dalam tasnya yang lumayan besar dan dicangklongkan di bahu.

Ana memerhatikan bocah itu hingga menghilang dibalik tikungan. “Anak yang penuh semangat,” gumamnya pada diri sendiri. Ito, nama panggilan bocah tanggung itu, adalah pedagang asongan di lampu merah. Dia dan dua orang temannya, yang juga mengasong di tempat itu sering membeli rokok – barang dagangan utama para pedagang asongan – dan barang-barang lain yang biasa mereka jual di toko ini. Bos Ana selalu memberi harga khusus kepada mereka. Ana tak tahu alasannya, mungkin bosnya simpati pada mereka. Di antara ketiganya, hanya Ito yang masih bersekolah, kelas 1 SMP. Pagi hari dia mulai berjualan, siangnya sekolah. Katanya, uang hasil mengasong cukup untuk membeli buku-buku sekolah. Ana kadang malu pada Ito, yang meski hidup susah tapi mau bekerja keras supaya bisa tetap sekolah, sedangkan dirinya yang tidak perlu repot memikirkan biaya sekolahnya, justru menolak kesempatan untuk meneruskan sekolahnya. Tapi sudahlah, menyesal pun sudah terlambat.

Ana mengalihkan pandangannya kembali ke jalan yang masih tetap macet. Motor dan mobil, ada pula becak, berusaha saling mendahului, memotong dan menyalip seenaknya. Bahkan celah sempit antara mobil yang hanya selebar satu meter pun dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menyerobot jalan.Seakan belum cukup semua kesemrawutan itu, masih ditingkahi lagi dengan suara nyanyian pengamen-pengamen jalanan. Dengan gitar – ada juga anak kecil yang hanya bermodalkan krencengan terbuat dari tutup botol, mereka –sendiri atau berkelompok – selalu turun ke jalan saat lampu merah menyala, bernyanyi di pintu angkot, atau mobil pribadi, kadang-kadang juga di samping becak berpenumpang. Jika sedang mujur, mereka bisa mendapatkan beberapa ribu rupiah dari penumpang-penumpang yang berbaik hati, dan mereka akan menyanyikan satu lagu hingga selesai. Tetapi jika tidak, mereka akan segera berhenti dan pergi.

Para pengamen itu sering mangkal di emperan-emperan toko dekat lampu merah, termasuk toko roti ini. Ana kurang suka – bahkan sedikit ngeri – melihat penampilan mereka. Rambut dicukur habis hanya menyisakan sebaris di tengah, itu pun masih dicat warna warni, baju kaos dan celana jins yang penuh sobekan, belum lagi tindik di sana sini, tidak cukup hanya di telinga, tapi juga di hidung, bibir hingga kelopak mata, bahkan Ana pernah melihat salah satunya yang menindik lidahnya juga. Hiii…seperti bandit saja. Gaya bicara mereka juga kasar, jika tidak diberi uang mereka suka marah-marah. Ana enggan melayani kalau mereka belanja di toko ini, tapi herannya, bosnya tenang-tenang saja menghadapi mereka. Anehnya, mereka juga sepertinya segan dan tidak berani macam-macam dengan bosnya itu.
Sebenarnya tidak semua pengamen jalanan berpenampilan seperti berandalan. Ada juga yang sopan dan sepertinya serius menjalani pekerjaan mengamen untuk membiayai hidup, dengan sedikit harapan semoga kelak bisa menjadi artis dan penyanyi terkenal.

Samar-samar terdengar gemirincing uang logam. Ternyata bunyi itu berasal dari tengah jalan. Seorang laki-laki berumur kira-kira setengah abad duduk di median jalan. Tangannya memegang sebuah gayung plastik berisi beberapa keping uang logam. Saat kendaraan-kendaraan berhenti di lampu merah, dia akan menggoyang-goyang gayung di tangannya sehingga menimbulkan suara gemerincing untuk menarik perhatian dan belas kasihan dari orang-orang di sekitarnya. Penampilannya – sengaja dibuat tampak – lusuh, peci kumal yang menutupi kepalanya, baju kaos yang sudah tak jelas warnanya, bawahannya hanya memakai sarung. Kaki kirinya tampak menyembul dari balik sarung. Kadang-kadang bila seseorang melempar uang padanya dan jatuh agak jauh dari tempatnya, maka dia terpaksa mengesot untuk mengambil uang tersebut. Sepintas orang yang memandangnya pasti jatuh iba karena mengira laki-laki separuh tua ini  hanya punya satu kaki. Tetapi Ana tidak. Dia pernah melihat laki-laki itu naik becak dalam perjalanan pulangnya, dia sama sekali tidak cacat, kedua kakinya terlihat utuh dan sehat. Entah bagaimana caranya dia menyembunyikan kaki kanannya di balik sarung sehingga terlihat seolah-olah seperti tak punya kaki.

Sebuah mobil melaju pelan di tengah keramaian. Kaca pintu belakang diturunkan separuh. Sekonyong-konyong sebuah botol air mineral dilempar keluar dari dalam mobil. Botol plastik yang telah kosong itu menggelinding di aspal, lalu dilindas begitu saja oleh mobil lain yang melewatinya, menimbulkan suara berisik yang tidak kentara di kebisingan lalu lintas.

Ana mengangkat alis dan menggeleng-gelengkan kepala menyaksikan pemandangan yang terjadi di depan tokonya itu. Perempuan yang membuang botol plastik tadi masih muda, kelihatannya terpelajar dan pasti kaya. Ana memang hanya tamatan sekolah menengah, tapi rasanya tidaklah perlu pendidikan tinggi untuk mengetahui kalau membuang sampah sembarangan adalah perbuatan tidak baik dan bisa merusak lingkungan – bahkan anak bosnya yang baru masuk sekolah dasar juga tahu kalau membuang sampah harus ke dalam tong sampah. Bagaimana kota ini bisa maju kalau penduduknya sendiri tidak punya etika? Ditambah lagi orang-orang malas seperti laki-laki di tengah jalan itu, yang lebih memilih menjadi pengemis – yang berpura-pura – cacat padahal tubuhnya masih kuat dan sehat?

“Dek, presti (baca: frestea) satu.” Ana tersadar dari lamunannya.
Seorang ibu menggendong seorang balita, berdiri di hadapannya. Ana mengambil pesanan ibu itu – teh dalam kemasan botol – dari lemari pendingin di dekat pintu. Matanya tak lepas memandang anak perempuan berumur kira-kira tiga tahun dalam gendongan si ibu yang tak berhenti menangis sejak masuk ke toko tadi. Tubuhnya kurus, seperti kekurangan gizi. Si ibu, alih-alih menenangkan putrinya, malah asyik menikmati minumannya sendirian. Ana kasihan pada anak kecil itu, sekaligus geram pada ibunya.

“Cup..cup..sayang, jangan nangis ya. Mau minum ya? Atau mau roti?” Ana mencoba membujuk dengan menyodorkan segelas air mineral dan sebuah roti coklat.

“Nggak perlu Dek. Saya nggak punya uang untuk membayarnya,”si ibu menepis tangan Ana dengan agak kasar, membuatnya sedikit terperangah.

“Tapi kasihan kan Bu, dia kelihatannya haus, juga lapar,” kata Ana mencoba sabar.

“Ah, siapa bilang? Nggak usah sok tahu. Kau bukan ibunya!” Ana ingin sekali meninju mulut si ibu.

“Hei, diam kau! Dasar anak tak berguna, bawa sial! Gara-gara kau, hari ini aku sama sekali belum dapat duit seperak pun,” si ibu menjewer anak dalam gendongannya sambil melenggang keluar dari toko. Bukannya diam, si anak semakin keras tangisannya. Ana masih sempat mendengar makian si ibu pada anaknya itu. Kata-katanya kasar, sama sekali tidak menunjukkan kasih sayang seorang ibu terhadap anak kandungnya.

“Kalau kau masih tak mau diam, hari ini tak ada makanan untuk kau dan ibumu yang penyakitan itu.”

Ana melongo. Jadi benar, anak itu adalah anak tiri? Ana menepuk keningnya, dia ingat sesuatu. Ibu yang berbelanja di tokonya tadi adalah seorang pengemis, yang berpindah dari satu lampu merah ke lampu merah lain. Ana pernah melihatnya beberapa kali di tempat yang berbeda. Dia selalu menggendong anak kecil setiap kali  mengemis, dan anak yang dibawanya hampir selalu berbeda tiap harinya. Ito, yang mengenal ibu itu, pernah bercerita padanya, kalau ibu itu menyewa anak kecil dari para tetangga di sekitar rumahnya untuk ikut mengemis bersamanya. Pantas saja, sikapnya kasar dan semena-mena. Malang benar nasib anak-anak yang disewakan itu, kok orang tuanya sendiri tega melakukan hal itu? Bosnya pulang, itu artinya Ana harus menghentikan semua lamunannya siang itu, dan kembali ke pekerjaan rutinnya, memandikan anak majikannya, menemaninya makan dan tidur siang, lalu membereskan rumah.
Ana baru hendak melangkah masuk, ketika mendengar suara-suara ribut di luar. Sepertinya terjadi sesuatu. Dia kembali ke depan, berdiri di samping bosnya yang juga memandang ingin tahu ke jalan.

“Hajar saja! Jangan kasih ampun…!”

“Sudah..sudah..itu ada polisi datang. Biar polisi saja yang urus.”

Teriakan-teriakan itu terdengar samar-samar di tengah keramaian. Kendaraan yang tadi berjalan lambat semuanya berhenti, menimbulkan kemacetan luar biasa. Orang-orang berkerumun tepat di persimpangan jalan. Ana tak bisa melihat apa yang terjadi.

”Bang, apa yang terjadi?” Ana bertanya pada seorang pejalan kaki yang memisahkan diri dari kerumunan.

“Tabrak lari. Tadi ada angkot yang menerobos lampu merah, dan menabrak seorang ibu yang gendong anak lagi nyeberang.”

“Bawa anak? Terus gimana keadaannya?” tanya Ana penasaran.

“Kayaknya sudah meninggal. Kasihan mereka. Padahal tadi saya baru lihat mereka keluar dari toko ini.” Pejalan kaki itu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan sedih sambil berlalu.

Ana tercekat. Otaknya masih mencerna kata-kata yang baru didengarnya. Ibu menggendong anak…? Baru keluar dari tokonya? Jadi pengemis itu…? Mereka meninggal? Pikirannya melayang kembali ke anak kecil kurus yang menangis meraung-raung dalam gendongan pengemis perempuan.

Mungkin Tuhan kasihan pada anak kecil itu, yang disia-siakan orang tuanya. Paling tidak, anak kecil itu sekarang tidak lagi kelaparan dan kehausan.

*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar