Indah….
Terasa indah
Bila kita terbuai dalam alunan cinta
Sedapat mungkin terciptakan rasa
Keinginan saling memiliki…..
“Dear Aldi,
Apa kabar? Maaf bila aku
mengganggumu. Aku tahu kamu sangat sibuk dengan tugas-tugasmu. Apalagi sebentar
lagi kamu harus mempersiapkan diri untuk meraih gelar pasca sarjanamu.
Aku hanya ingin menyatakan
perasaanku saat ini. Aku takut besok aku tidak punya cukup waktu untuk
mengatakan semuanya.
Tapi kamu tidak harus
membacanya. Bila kamu tidak suka, kamu bisa langsung mendeletenya. Toh,
aku juga tidak akan tahu kan? J
Kamu ingat? Dulu pertama
kali kita masuk SMA kamu sudah jadi idola. Otakmu yang encer, dan tembakanmu
yang jitu di lapangan basket membuatmu jadi pusat perhatian, bukan hanya teman-teman
sekelas kita, tapi hampir satu sekolahan bahkan guru-guru juga selalu memujimu.
Dan mungkin aku termasuk salah satu pengagum rahasiamu. Hanya pengagum rahasia,
karena aku tidak pandai bergaul dan tidak punya keberanian mendekatimu seperti
Nisa atau Alin atau yang lain. Kamu tahu di kelas dulu, aku tidak pernah punya
teman akrab. Satu-satunya temanku yang paling setia adalah buku. Teman-teman
selalu mengejekku si kutu buku yang kuper. Aku tidak marah, karena aku sadar
memang begitulah aku. Tapi yang membuat aku sedih dan hampir menangis adalah
kamu juga ikut-ikutan menertawakanku.
Sampai ketika sore itu bola
yang kamu lemparkan melambung terlalu jauh hingga mengenai wajahku dan
memecahkan kacamataku. Walaupun kesakitan dengan pandangan yang mengabur, samar-samar
aku masih bisa melihat wajahmu yang pias ketakutan menghampiriku. Mungkin harus
dengan cara begitu supaya aku bisa lebih mengenalmu. Karena yang kuingat sejak
kamu mengantarku membeli kacamata baru sore itu, kita mulai akrab.
Kamu mengenalkanku pada
duniamu yang penuh dengan segudang aktivitas. Aku baru tahu, ternyata kamu
tidak hanya jago di lapangan, tapi juga lincah memainkan jarimu di atas
tuts-tuts piano. Dan kamu juga memiliki kelompok belajar yang kreatif membuat
karya ilmiah.
Aku harus berterima kasih
padamu, karena mengajakku bergabung dalam kelompok belajarmu. Saat kelompok
kita memenangkan perlombaan karya ilmiah antar sekolah, mungkin akulah yang
paling gembira. Karena sejak saat itu tidak ada lagi yang memanggilku Kirana,
si kutu buku yang kuper. Aku juga mulai bisa bergaul dengan teman-teman yang
lain, tidak hanya berkutat dengan buku-buku.
Perlahan kekagumanku padamu
berubah menjadi benih-benih rasa suka yang semakin hari semakin berkembang. Aku
sangat menyadari perasaanku tapi aku harus memendamnya serapat mungkin agar
kamu tidak mengetahuinya. Aku tidak ingin malu bila kamu dan teman-teman yang
lain sampai mengetahui perasaanku. Lagipula aku juga tahu kalau Nisa sangat
terang-terangan menunjukkan rasa sukanya padamu.
Tapi aku juga bingung dengan
sikapmu. Kadang kamu cuek, di lain hari kamu begitu perhatian padaku. Ketika
aku ingin membeli buku, kamu rela menemaniku mengelilingi toko-toko buku
berjam-jam, padahal waktu itu kamu ada jadwal latihan basket. Aku senang, tapi
tak berani berharap terlalu jauh.
Hubungan kita tidak pernah
berubah sampai kita tamat SMA. Kamu tidak pernah mengatakan suka padaku
(padahal aku sangat mengharapkannya). Aku sedih sekali ketika kamu
memberitahuku kamu akan kuliah di Bandung. Itu artinya kita akan berpisah,
karena orang tuaku tidak akan sanggup membiayai kuliahku sampai sejauh
itu. Dan harapanku untuk bisa meraih
cintamu harus kubuang jauh-jauh.
Terpisah oleh jarak dan
waktu membuat aku mencoba melupakanmu.
Aku tak pernah membalas surat-suratmu, sampai akhirnya mungkin kamu
marah dan bosan sehingga suratmu tidak pernah datang lagi.
Lingkungan kampus dan
teman-teman yang baru membantuku menghapus wajahmu dari ingatanku. Kupikir
akhirnya aku bisa melupakanmu.
Tetapi kepulanganmu dua
tahun yang lalu memporak-porandakan hatiku. Saat kamu mengajakku berkeliling
kota – yang sudah kamu tinggalkan selama 5 tahun, saat kamu mengatakan bahwa
aku orang pertama yang mengetahui kepulanganmu, saat kamu memberitahuku tentang
beasiswa S2 yang kamu peroleh – aku rasa kamu memang pantas mendapatkan
beasiswa itu, aku merasa menjadi orang yang paling bahagia saat itu. Asa yang
terkubur bertahun-tahun itu muncul kembali tanpa dapat kucegah.
Mungkin pepatah lama yang
mengatakan cinta pertama tak pernah mati, benar adanya, paling tidak untukku.
Tapi kamu tidak juga
mengatakan perasaanmu padaku sampai kamu kembali ke Bandung. Aku benar-benar
bingung dengan sikapmu. Mbak Maya bilang kamu mungkin tipe cowok yang susah
mengungkapkan perasaan suka kepada seseorang dan lebih suka menunjukkannya
lewat sikap daripada kata-kata. Atau kamu terlalu berhati-hati dan tidak berani
mengatakan perasaanmu karena kamu tidak yakin dengan perasaanku dan takut
ditolak.
Kuikuti saran Mbak Maya
untuk lebih sering menghubungimu, sekadar say hello atau menanyakan
kabarmu. Aku berharap sms-sms yang kukirim cukup untuk memberi sinyal tentang
perasaanku terhadapmu.
Setelah sekian bulan berlalu
aku mulai kesal padamu. Kamu memang membalas setiap sms-ku, tapi hanya
membalas. Kamu tidak pernah mulai menghubungiku dulu. Lama-lama aku jadi
berpikir, terbuat dari batukah hatimu sehingga tidak bisa mengerti perasaanku?
Atau mungkin memang aku yang terlalu ge-er salah mengartikan perhatianmu padaku
dulu? Atau kamu sudah memiliki seseorang yang istimewa di sana tanpa
sepengetahuanku? Terlalu banyak pertanyaan di hatiku yang tidak bisa kujawab
sendiri.
Aku ingin menunggumu pulang
untuk menjelaskan semuanya, karena aku yakin kamu punya jawaban atas semua
pertanyaanku. Hanya saja aku tidak tahu, apakah aku masih punya waktu untuk
menunggumu…….
Kirana
*****
Aldi terpaku menatap
komputer di hadapannya. Email itu masuk ke inbox-nya tiga hari yang
lalu, tapi baru sempat dibacanya sekarang. Ada pedih menggores hatinya.
Sebersit kerinduan tiba-tiba menyeruak, membuatnya tergesa meraih ponsel di
atas meja, dan mematikan komputernya, meskipun masih ada lima email baru yang
belum dibukanya.
Dia menekan sebuah nomor,
dari seberang Kasih Tak Sampai-nya Padi menyapa telinganya. Hingga satu
bagian lagu berakhir tidak ada yang menjawab. Dengan gelisah dia mencoba
mengulangi panggilan itu sekali lagi.
“Hallo…..” sebuah suara
halus menyahut. Bukan suara Kirana.
“Aldi ya?” Aldi tersadar.
Itu Mbak Maya, tapi mengapa ponsel Kirana ada pada Mbak Maya?
*****
Aldi berjalan, tepatnya
setengah berlari menyusuri lorong rumah sakit yang terasa panjang dan tidak
berujung. Ya Tuhan, semoga dia baik-baik saja, hanya itu yang terus digumamnya
sejak tiba di bandara tadi. Suara Mbak Maya yang menangis ketika berbicara
padanya kemarin masih terngiang-ngiang di telinganya. Kirana masuk rumah sakit
tiga hari yang lalu, kondisinya sangat lemah. Tapi Aldi tidak diberitahu apa
penyakitnya.
Semalaman dia tidak bisa
tidur nyenyak dan terus dihantui mimpi buruk tentang Kirana. Hari ini dia telah
mengejar penerbangan paling pagi agar bisa segera tiba kembali di Medan. Bahkan
dia belum sempat mengabari mamanya tentang kepulangannya kali ini.
Gadis itu terbaring di sana.
Matanya terpejam, wajahnya tampak pucat dan kurus. Maya yang menjaga di
sampingnya, menoleh pada Aldi dan melambai agar pemuda itu mendekat. Dia keluar
meninggalkan Aldi berdua dengan Kirana. Sekilas Aldi bisa melihat matanya yang
sembab.
Aldi menyentuh pelan tangan
Kirana, membuat gadis itu membuka matanya.
“Aldi….?” Suaranya terdengar lemah.
“Kamu sakit apa Na? Kenapa
bisa jadi begini?” tanya Aldi getir. Hatinya seperti tersayat melihat kondisi
Kirana yang terbaring tak berdaya.
Kirana hanya menggeleng,
berusaha tersenyum.
“Aku nggak apa-apa. Kamu kok
pulang sekarang? Bukankah bulan depan kamu harus ujian?”
Aldi tidak menjawab, dia
meraih tangan Kirana. Hatinya bergetar ketika menyentuh jari-jari itu dengan
bibirnya.
“Na, maafkan aku, sudah
membuatmu menderita selama ini.”
“Aku yang seharusnya minta
maaf Di. Kamu ke sini gara-gara email itu kan? Aku memang bodoh, tidak
seharusnya aku mengirimimu email konyol itu….”
Aldi meletakkan telunjuknya
di bibir gadis itu.
“Aku yang harus berterima
kasih padamu karena sudah membuka mataku, membuatku berani mengambil keputusan
penting dalam hidupku. Rana, aku tidak akan membiarkanmu menunggu lagi. Aku
mencintaimu.”
Kirana terpaku menatap Aldi.
Ada air mata menggenang di sudut matanya. Seharusnya dia merasa sangat bahagia
saat ini, karena penantiannya bertahun-tahun terjawab sudah. Tapi mengapa sekarang
dia malah merasa sangat sedih? Apakah mungkin semuanya sudah terlambat baginya?
***
Sirosis hati. Siapa
menyangka dalam tubuh gadis muda yang sehat dan jarang sakit seperti Kirana
bisa bersarang penyakit ganas dan mematikan seperti itu? Enam bulan yang lalu
Maya menemukan adiknya muntah darah di kamar mandi. Dokter memvonis, umur
Kirana hanya bisa bertahan paling lama satu tahun. Satu-satunya cara yang
mungkin bisa menyelamatkan gadis itu hanyalah melalui operasi transplantasi
hati yang memerlukan biaya yang tidak sedikit. Di mana mereka harus mencari
uang begitu banyak dalam waktu sependek itu? Keluarga mereka bukanlah keluarga
berada. Satu-satunya harapan adalah mencari pinjaman. Tapi itu juga bukan hal
mudah. Dan Kirana sendiri menolak menjalani operasi. Dia tidak ingin hidup
dengan berhutang pada orang lain dan menyusahkan keluarganya.
Satu bulan Kirana mengurung
diri dan tidak ingin bertemu orang lain. Bahkan orang tuanya sendiri tidak
sanggup menghiburnya. Hanya kepada Maya dia mau bercerita dan menumpahkan semua
kesedihannya.
Aku tidak tahu apakah aku
masih punya waktu untuk menunggumu….
Aldi tersadar, ternyata
inilah sebabnya mengapa Kirana tidak pernah menghubunginya lagi sejak setengah tahun yang lalu. Pernah
terlintas di pikirannya, mungkin Kirana sudah menemukan cinta yang lain dan
melupakannya. Seharusnya saat itu dia yang menghubungi Kirana dan menanyakan
kabar gadis itu. Dia menyesali kebodohannya yang menyebabkan mereka berdua
menderita, terutama Kirana yang harus berjuang sendiri melawan penyakitnya.
Seandainya dia tidak terlalu
angkuh dan mau mengakui perasaannya pada Kirana. Seharusnya sejak dulu dia bisa
belajar mengatasi rasa trauma akibat perceraian orang tuanya.
Penyesalan memang selalu
datang terlambat. Tapi paling tidak Aldi bisa mengurangi rasa bersalahnya
dengan menemani Kirana di ujung hidupnya. Seminggu penuh Aldi menjaga Kirana
hingga gadis itu menutup mata untuk selamanya dengan senyum terakhir di
bibirnya.
***
Aldi menatap langit melalui
jendela kamarnya. Malam ini tidak ada bulan, tapi bintang-bintang bertaburan
menerangi kelamnya malam. Dipandanginya fotonya bersama Kirana ketika mereka
menjuarai lomba karya ilmiah dulu. Tidak ada yang tahu foto itu selalu
menemaninya hingga saat ini. Tanpa disadarinya, dua bulir air bening mengalir
dari sudut matanya.
Kirana, mungkinkah kamu ada
di antara bintang-bintang itu dan sedang menatapku saat ini? Mengapa justru
sekarang aku merasakan kerinduan yang sangat besar padamu?
Tetaplah menjadi bintang di
langit
Agar cinta kita akan abadi
Biarlah sinarmu tetap
menyinari alam ini
Agar menjadi saksi cinta
kita
Berdua……..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar