Senin, 11 April 2016

Kasih Tak Sampai

Indah….
Terasa indah
Bila kita terbuai dalam alunan cinta
Sedapat mungkin terciptakan rasa
Keinginan saling memiliki…..

“Dear Aldi,
Apa kabar? Maaf bila aku mengganggumu. Aku tahu kamu sangat sibuk dengan tugas-tugasmu. Apalagi sebentar lagi kamu harus mempersiapkan diri untuk meraih gelar pasca sarjanamu.
Aku hanya ingin menyatakan perasaanku saat ini. Aku takut besok aku tidak punya cukup waktu untuk mengatakan semuanya.
Tapi kamu tidak harus membacanya. Bila kamu tidak suka, kamu bisa langsung mendeletenya. Toh, aku juga tidak akan tahu kan? J
Kamu ingat? Dulu pertama kali kita masuk SMA kamu sudah jadi idola. Otakmu yang encer, dan tembakanmu yang jitu di lapangan basket membuatmu jadi pusat perhatian, bukan hanya teman-teman sekelas kita, tapi hampir satu sekolahan bahkan guru-guru juga selalu memujimu. Dan mungkin aku termasuk salah satu pengagum rahasiamu. Hanya pengagum rahasia, karena aku tidak pandai bergaul dan tidak punya keberanian mendekatimu seperti Nisa atau Alin atau yang lain. Kamu tahu di kelas dulu, aku tidak pernah punya teman akrab. Satu-satunya temanku yang paling setia adalah buku. Teman-teman selalu mengejekku si kutu buku yang kuper. Aku tidak marah, karena aku sadar memang begitulah aku. Tapi yang membuat aku sedih dan hampir menangis adalah kamu juga ikut-ikutan menertawakanku.

Sampai ketika sore itu bola yang kamu lemparkan melambung terlalu jauh hingga mengenai wajahku dan memecahkan kacamataku. Walaupun kesakitan dengan pandangan yang mengabur, samar-samar aku masih bisa melihat wajahmu yang pias ketakutan menghampiriku. Mungkin harus dengan cara begitu supaya aku bisa lebih mengenalmu. Karena yang kuingat sejak kamu mengantarku membeli kacamata baru sore itu, kita mulai akrab.
Kamu mengenalkanku pada duniamu yang penuh dengan segudang aktivitas. Aku baru tahu, ternyata kamu tidak hanya jago di lapangan, tapi juga lincah memainkan jarimu di atas tuts-tuts piano. Dan kamu juga memiliki kelompok belajar yang kreatif membuat karya ilmiah.
Aku harus berterima kasih padamu, karena mengajakku bergabung dalam kelompok belajarmu. Saat kelompok kita memenangkan perlombaan karya ilmiah antar sekolah, mungkin akulah yang paling gembira. Karena sejak saat itu tidak ada lagi yang memanggilku Kirana, si kutu buku yang kuper. Aku juga mulai bisa bergaul dengan teman-teman yang lain, tidak hanya berkutat dengan buku-buku.

Perlahan kekagumanku padamu berubah menjadi benih-benih rasa suka yang semakin hari semakin berkembang. Aku sangat menyadari perasaanku tapi aku harus memendamnya serapat mungkin agar kamu tidak mengetahuinya. Aku tidak ingin malu bila kamu dan teman-teman yang lain sampai mengetahui perasaanku. Lagipula aku juga tahu kalau Nisa sangat terang-terangan menunjukkan rasa sukanya padamu.
Tapi aku juga bingung dengan sikapmu. Kadang kamu cuek, di lain hari kamu begitu perhatian padaku. Ketika aku ingin membeli buku, kamu rela menemaniku mengelilingi toko-toko buku berjam-jam, padahal waktu itu kamu ada jadwal latihan basket. Aku senang, tapi tak berani berharap terlalu jauh.
Hubungan kita tidak pernah berubah sampai kita tamat SMA. Kamu tidak pernah mengatakan suka padaku (padahal aku sangat mengharapkannya). Aku sedih sekali ketika kamu memberitahuku kamu akan kuliah di Bandung. Itu artinya kita akan berpisah, karena orang tuaku tidak akan sanggup membiayai kuliahku sampai sejauh itu.  Dan harapanku untuk bisa meraih cintamu harus kubuang jauh-jauh.

Terpisah oleh jarak dan waktu membuat aku mencoba melupakanmu.  Aku tak pernah membalas surat-suratmu, sampai akhirnya mungkin kamu marah dan bosan sehingga suratmu tidak pernah datang lagi.
Lingkungan kampus dan teman-teman yang baru membantuku menghapus wajahmu dari ingatanku. Kupikir akhirnya aku bisa melupakanmu.

Tetapi kepulanganmu dua tahun yang lalu memporak-porandakan hatiku. Saat kamu mengajakku berkeliling kota – yang sudah kamu tinggalkan selama 5 tahun, saat kamu mengatakan bahwa aku orang pertama yang mengetahui kepulanganmu, saat kamu memberitahuku tentang beasiswa S2 yang kamu peroleh – aku rasa kamu memang pantas mendapatkan beasiswa itu, aku merasa menjadi orang yang paling bahagia saat itu. Asa yang terkubur bertahun-tahun itu muncul kembali tanpa dapat kucegah.
Mungkin pepatah lama yang mengatakan cinta pertama tak pernah mati, benar adanya, paling tidak untukku.

Tapi kamu tidak juga mengatakan perasaanmu padaku sampai kamu kembali ke Bandung. Aku benar-benar bingung dengan sikapmu. Mbak Maya bilang kamu mungkin tipe cowok yang susah mengungkapkan perasaan suka kepada seseorang dan lebih suka menunjukkannya lewat sikap daripada kata-kata. Atau kamu terlalu berhati-hati dan tidak berani mengatakan perasaanmu karena kamu tidak yakin dengan perasaanku dan takut ditolak.
Kuikuti saran Mbak Maya untuk lebih sering menghubungimu, sekadar say hello atau menanyakan kabarmu. Aku berharap sms-sms yang kukirim cukup untuk memberi sinyal tentang perasaanku terhadapmu.

Setelah sekian bulan berlalu aku mulai kesal padamu. Kamu memang membalas setiap sms-ku, tapi hanya membalas. Kamu tidak pernah mulai menghubungiku dulu. Lama-lama aku jadi berpikir, terbuat dari batukah hatimu sehingga tidak bisa mengerti perasaanku? Atau mungkin memang aku yang terlalu ge-er salah mengartikan perhatianmu padaku dulu? Atau kamu sudah memiliki seseorang yang istimewa di sana tanpa sepengetahuanku? Terlalu banyak pertanyaan di hatiku yang tidak bisa kujawab sendiri.

Aku ingin menunggumu pulang untuk menjelaskan semuanya, karena aku yakin kamu punya jawaban atas semua pertanyaanku. Hanya saja aku tidak tahu, apakah aku masih punya waktu untuk menunggumu…….

Kirana
*****
Aldi terpaku menatap komputer di hadapannya. Email itu masuk ke inbox-nya tiga hari yang lalu, tapi baru sempat dibacanya sekarang. Ada pedih menggores hatinya. Sebersit kerinduan tiba-tiba menyeruak, membuatnya tergesa meraih ponsel di atas meja, dan mematikan komputernya, meskipun masih ada lima email baru yang belum dibukanya.
Dia menekan sebuah nomor, dari seberang Kasih Tak Sampai-nya Padi menyapa telinganya. Hingga satu bagian lagu berakhir tidak ada yang menjawab. Dengan gelisah dia mencoba mengulangi panggilan itu sekali lagi.
“Hallo…..” sebuah suara halus menyahut. Bukan suara Kirana.
“Aldi ya?” Aldi tersadar. Itu Mbak Maya, tapi mengapa ponsel Kirana ada pada Mbak Maya?

*****
Aldi berjalan, tepatnya setengah berlari menyusuri lorong rumah sakit yang terasa panjang dan tidak berujung. Ya Tuhan, semoga dia baik-baik saja, hanya itu yang terus digumamnya sejak tiba di bandara tadi. Suara Mbak Maya yang menangis ketika berbicara padanya kemarin masih terngiang-ngiang di telinganya. Kirana masuk rumah sakit tiga hari yang lalu, kondisinya sangat lemah. Tapi Aldi tidak diberitahu apa penyakitnya.
Semalaman dia tidak bisa tidur nyenyak dan terus dihantui mimpi buruk tentang Kirana. Hari ini dia telah mengejar penerbangan paling pagi agar bisa segera tiba kembali di Medan. Bahkan dia belum sempat mengabari mamanya tentang kepulangannya kali ini.

Gadis itu terbaring di sana. Matanya terpejam, wajahnya tampak pucat dan kurus. Maya yang menjaga di sampingnya, menoleh pada Aldi dan melambai agar pemuda itu mendekat. Dia keluar meninggalkan Aldi berdua dengan Kirana. Sekilas Aldi bisa melihat matanya yang sembab.
Aldi menyentuh pelan tangan Kirana, membuat gadis itu membuka matanya.
“Aldi….?”  Suaranya terdengar lemah.
“Kamu sakit apa Na? Kenapa bisa jadi begini?” tanya Aldi getir. Hatinya seperti tersayat melihat kondisi Kirana yang terbaring tak berdaya.
Kirana hanya menggeleng, berusaha tersenyum.
“Aku nggak apa-apa. Kamu kok pulang sekarang? Bukankah bulan depan kamu harus ujian?”
Aldi tidak menjawab, dia meraih tangan Kirana. Hatinya bergetar ketika menyentuh jari-jari itu dengan bibirnya.
“Na, maafkan aku, sudah membuatmu menderita selama ini.”
“Aku yang seharusnya minta maaf Di. Kamu ke sini gara-gara email itu kan? Aku memang bodoh, tidak seharusnya aku mengirimimu email konyol itu….”
Aldi meletakkan telunjuknya di bibir gadis itu.
“Aku yang harus berterima kasih padamu karena sudah membuka mataku, membuatku berani mengambil keputusan penting dalam hidupku. Rana, aku tidak akan membiarkanmu menunggu lagi. Aku mencintaimu.”
Kirana terpaku menatap Aldi. Ada air mata menggenang di sudut matanya. Seharusnya dia merasa sangat bahagia saat ini, karena penantiannya bertahun-tahun terjawab sudah. Tapi mengapa sekarang dia malah merasa sangat sedih? Apakah mungkin semuanya sudah terlambat baginya?
***
Sirosis hati. Siapa menyangka dalam tubuh gadis muda yang sehat dan jarang sakit seperti Kirana bisa bersarang penyakit ganas dan mematikan seperti itu? Enam bulan yang lalu Maya menemukan adiknya muntah darah di kamar mandi. Dokter memvonis, umur Kirana hanya bisa bertahan paling lama satu tahun. Satu-satunya cara yang mungkin bisa menyelamatkan gadis itu hanyalah melalui operasi transplantasi hati yang memerlukan biaya yang tidak sedikit. Di mana mereka harus mencari uang begitu banyak dalam waktu sependek itu? Keluarga mereka bukanlah keluarga berada. Satu-satunya harapan adalah mencari pinjaman. Tapi itu juga bukan hal mudah. Dan Kirana sendiri menolak menjalani operasi. Dia tidak ingin hidup dengan berhutang pada orang lain dan menyusahkan keluarganya.
Satu bulan Kirana mengurung diri dan tidak ingin bertemu orang lain. Bahkan orang tuanya sendiri tidak sanggup menghiburnya. Hanya kepada Maya dia mau bercerita dan menumpahkan semua kesedihannya.

Aku tidak tahu apakah aku masih punya waktu untuk menunggumu….
Aldi tersadar, ternyata inilah sebabnya mengapa Kirana tidak pernah menghubunginya lagi  sejak setengah tahun yang lalu. Pernah terlintas di pikirannya, mungkin Kirana sudah menemukan cinta yang lain dan melupakannya. Seharusnya saat itu dia yang menghubungi Kirana dan menanyakan kabar gadis itu. Dia menyesali kebodohannya yang menyebabkan mereka berdua menderita, terutama Kirana yang harus berjuang sendiri melawan penyakitnya.
Seandainya dia tidak terlalu angkuh dan mau mengakui perasaannya pada Kirana. Seharusnya sejak dulu dia bisa belajar mengatasi rasa trauma akibat perceraian orang tuanya.
Penyesalan memang selalu datang terlambat. Tapi paling tidak Aldi bisa mengurangi rasa bersalahnya dengan menemani Kirana di ujung hidupnya. Seminggu penuh Aldi menjaga Kirana hingga gadis itu menutup mata untuk selamanya dengan senyum terakhir di bibirnya.
***
Aldi menatap langit melalui jendela kamarnya. Malam ini tidak ada bulan, tapi bintang-bintang bertaburan menerangi kelamnya malam. Dipandanginya fotonya bersama Kirana ketika mereka menjuarai lomba karya ilmiah dulu. Tidak ada yang tahu foto itu selalu menemaninya hingga saat ini. Tanpa disadarinya, dua bulir air bening mengalir dari sudut matanya.
Kirana, mungkinkah kamu ada di antara bintang-bintang itu dan sedang menatapku saat ini? Mengapa justru sekarang aku merasakan kerinduan yang sangat besar padamu?

Tetaplah menjadi bintang di langit
Agar cinta kita akan abadi
Biarlah sinarmu tetap menyinari alam ini
Agar menjadi saksi cinta kita

Berdua……..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar